Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 133.


__ADS_3

Dikediaman Nenek Diana. Terlihat Om Bima tengah duduk di sofa ruang keluarga bersama dengan Nenek Diana. Rut wajah Om Bima nampak begitu kecewa. Di depan nya Tante Laras tengah bersujud layaknya sedang meminta pengampunan.


Air mata berderaian di wajah Tante Laras, namun sayang nya Om Bima memalingkan wajah kecewanya. tak ingin menatap wajah Tante Laras.


“Sayang, plis...”


“Kasih aku kesempatan, aku janji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi...”


Tante Laras memohon-mohon di kaki Om Bima suaminya. “Aku khilaf, maafkan aku.”


“Maaf?” Wajah Nenek Diana murka dan menatap pias Tante Laras. “Enak sekali kamu meminta maaf, atas perbuatan rendah yang sudah kamu perbuat.”


“Apa kamu pernah berpikir bagaimana jadinya jika wanita yang kamu jebak bersama Agil itu adalah wanita lain selain Beby? Entah dia wanita yang baik-baik atau tidak?”


Tante Laras berdiri menatap tajam Nenek Diana. “Mah, asal Mamah tahu ... aku begini karena salah Mamah. Jika saja Mamah tidak pilih kasih terhadap Bima dan Kakak Ipar, mungkin aku tidak akan melakukan hal ini...”


Plak.

__ADS_1


Tante Laras terkejut ia memegangi pipinya yang terasa panas. Menatap dengan mata yang berkaca-kaca kepada Om Bima yang sudah menamparnya.


“Sayang, kamu-”


“Kamu yang bersalah! Jadi jangan melemparkan kesalahan mu terhadap Mamah. Kamu itu harus sadar, aku juga bisa jadi begini karena siapa? Karena kakak, jika tidak ada dia mungkin aku tidak akan bisa menjadi seperti sekarang...”


“Kamu itu begitu serakah ... apa kamu pikir jika kamu melakukan hal itu terhadap Agil, kamu bisa menghancurkan hidupnya dan membuat aku menjadi pewaris utama keluarga Ganendra? Itu tidak mungkin, karena Agil memang berhak atas semua ini ... karena ini semua memang milik dia.”


“Sayang maafkan aku, plis.” Tante Laras menarik tangan Om Bima yang hendak pergi.


Nenek Diana yang masih murka menatap geram ke arah Tante Laras. Wanita paruh baya itu terus menangis meratapi apa jadi nya nasib dirinya selanjutnya.


Tidak lama kemudian. Agil dan Beby sampai dirumah Nenek Diana. Agil menggandeng sang istri masuk mendatangi Nenek Diana yang berada di ruang keluarga.


Mata Agil menyorot Tante Laras yang menangis di lantai. Agil sudah bisa menebak apa yang sudah terjadi tadi. Bersamaan dengan dirinya polisi juga datang untuk menjemput Tante Laras.


“Agil, Tante mohon maafkan Tante ... berikan Tante kesempatan kedua,” mohon Tante Laras pada Agil.

__ADS_1


“Kesempatan kedua untuk berbuat seperti itu lagi padaku?” ucap Agil tersenyum miring dengan raut wajah dingin nya.


“Agil, Tante mohon ... aku gak mau dipenjara,” teriak Tante Laras yang tangan nya diborgol dan ditarik paksa keluar.


Namun Agil tetap tidak perduli dia memilih duduk di sofa bersama dengan Beby sang istri. Sedangkan Beby sendiri merasa sedikit kasihan terhadap Tante Laras yang begitu menyedihkan. Tapi mau bagaimana lagi, jika suaminya itu sudah membuat keputusan tidak akan bisa diganggu gugat lagi.


“Agil, Beby, kalian sudah kembali? Bagaimana masalah disana?” tanya Nenek Diana tersenyum kepada Beby.


“Gerry juga sudah ditangkap, hanya saja Melanie kembali bebas,” jawab Agil lirih diakhir katanya.


“Wanita itu sungguh licik, jangan sampai dia berbuat hal jahat lagi kepada kalian berdua ... terutama kepada mu sayang, Nenek tidak mau kamu sampai celaka lagi.” Nenek Diana meraih tangan Beby dan mengelusnya lembut.


Beby tersenyum paksa. “Nenek tidak perlu khawatir, kan ada Agil yang menjagaku.” Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, dia juga merasakan ketakutan yang begitu besar.


Hanya saja dia tidak mau Nenek Diana juga semakin khawatir jika melihat ketakutan nya. Karena itu Beby memilih tersenyum.


“Beby benar, Nenek tidak perlu khawatir ... aku tidak akan membiarkan Melanie menyakiti Beby lagi,” ucap Agil meyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2