Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 50.


__ADS_3

Keesokan harinya. Agil mengendarai mobilnya tapi bukan mobil sport yang biasa dia pakai, melainkan mobil mewah biasa saja. Melaju dengan kecepatan sedang menuju kost Beby. Agil sengaja tidak mengabari Beby lebih dulu, karena dia berniat untuk memberi kejutan pada kekasihnya itu.


Agil memberhentikan mobilnya dipinggir jalan, tepat di depan toko bunga 'Gloria'. Dia tersenyum melihat sebuket bunga matahari yang begitu cerah, terpajang di depan toko tersebut. Segera Agil keluar dari mobil dan masuk ke dalam toko bunga itu.


Ketika melihat ada yang masuk ke dalam toko. Seorang wanita pemilik toko bunga tersebut, beranjak dari duduk nya. Kemudian menghampiri Agil yang sedang memanjakan matanya dengan keindahan bunga-bunga disana.


“Selamat pagi ... ada yang bisa kami bantu, Tuan?”sapa pemilik toko.


Agil tersenyum dan menatap pemilik toko itu. “Saya ingin sebuket bunga matahari seperti yang terpajang di depan," kata Agil.


Agil menunjuk ke arah depan toko. Wanita pemilik toko itu tersenyum dan berjalan ke sebuah keranjang. Dia mengambil sesuatu di dalam keranjang tersebut.


“Apa yang seperti ini ... yang anda maksud, Tuan?”


Agil mengangguk, tapi matanya kembali mengedar seperti mencari sesuatu. “Yang seperti ini ... tapi saya mau tambahkan beberapa tangkai lagi, agar terlihat lebih mengembang,”tutur Agil.


Wanita itu manggut-manggut mengerti dengan permintaan Agil. “Baik Tuan ... saya akan rangkai seperti permintaan anda."


Tidak menunggu lama. Akhirnya rangkaian bunga matahari yang cerah dan indah itu sudah selesai. Agil langsung membayar dengan uang lebih. Karena dia begitu puas dengan pelayanan pemilik toko bunga itu. Dia sudah merangkaikan bunga matahari yang indah untuk kekasihnya. Agil sangat senang.


Agil berjalan keluar dari toko bunga tersebut. Dia tidak berhenti tersenyum dan memandangi buket bunga matahari itu. Membayangkan bagaimana reaksi Beby saat melihatnya.

__ADS_1


Agil masuk ke dalam mobil dan menaruh buket bunga itu di kursi belakang dengan hati-hati, agar tidak merusak nya. Lalu dia mulai menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan menuju kost Beby.


Agil mengerinyit kan keningnya, ketika melihat seseorang yang familiar sedang menunggu taksi di pinggir jalan. Lebih tepatnya, wanita yang sudah dijodohkan Tante Laras padanya. Tapi meski begitu, Agil tidak pernah menganggap serius perjodohan itu.


Sudut bibir Agil tertarik. Tiba-tiba sebuah rencana licik terlintas di benak nya. Dia pun memutar setir kemudi dan berhenti tepat di depan wanita itu.


Agil menurunkan kaca mobilnya, dan mengintip keluar nya. "Hai ..." sapa Agil.


Melanie terkejut dan melongo. Dia tidak percaya ternyata mobil mewah yang berhenti di depan nya itu adalah mobil Agil. Terlebih saat wajah Agil mengintip dari dalam mobil sambil tersenyum kepadanya. Membuat diri Melanie saat itu serasa melayang ke langit.


"Ha-hai ..." sapa Melanie gugup.


Melanie mengangguk dengan wajah merah dan berseri. "Mau bareng gak? Sekalian, aku juga mau ke kampus," ajak Agil.


Huh!


Melanie semakin kegirangan dalam hati. Tapi di luarnya dia tidak menampakan, karena masih segan dan tidak mau Agil berpikiran jelek tentang nya. Aliran di dalam tubuhnya seakan memanas, apakah ini pertanda jika Agil menyukainya. Melanie hampir tidak bisa menahan diri.


"Boleh kah?"


Agil tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja boleh ... masuklah!"

__ADS_1


"Baiklah! Terima kasih..." kata Melanie girang.


Dia segera masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Agil. Dia sedikit gugup karena Agil tidak berhenti menatap nya. Tangan Melanie bergetar memasang sabuk pengaman.


"Sini ... biar ku bantu!" kata Agil.


Agil mendekatkan tubuhnya pada Melanie, dia memasangkan sabuk pengaman di tubuh Melanie. Tangan Agil tidak sengaja bersentuhan dengan paha dan bagian dada Melanie.


Keduanya saling menatap. Melanie berdebar-debar dia bisa merasakan hembusan nafas Agil mengenai batang hidung nya.


Agil tersenyum dengan wajah yang begitu dekat. "Kau cantik sekali hari ini," puji Agil.


Melanie hanya bisa diam, tidak tahu harus berkata apa. Yang jelas saat ini dia seperti melayang tinggi ke langit ketujuh. Melanie menutup matanya, seakan menginginkan yang lebih dari hanya sekedar pujian.


Agil tersenyum miring melihat Melanie yang sudah mulai masuk jebakan nya. Agil segera memundurkan tubuhnya kembali ke kursinya. Dia menyalakan mesin mobil dan langsung melajukan mobil nya.


Melanie tersadar, wajahnya merah. "Sial, aku terlalu percaya diri ... aku kira dia akan mencium ku!" gumam nya dalam hati.


"Cih, dasar murahan! Kau kira aku sudi untuk mencium mu? Jangan mimpi!" hardik Agil dalam hatinya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2