
Beberapa bulan kemudian. Di depan ruangan sebuah rumah sakit terbesar di kota J. Agil beserta keluarga besar. Tengah di landa kecemasan dan kekhawatiran, karena Beby yang tiba-tiba mengalami kontraksi. Dan karena tidak kuat menahan kontraksi itu, Beby sampai pingsan. Lalu dilarikan ke rumah sakit tersebut.
Agil duduk di kursi tunggu di depan ruangan itu. Dengan menggenggam tangan nya sendiri, berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada istri dan calon anak nya.
Nenek Diana duduk di sebelah Agil. Dia meraih tangan Agil yang terus bergetar dan berkeringat dingin. “Sayang, tenanglah. Kita berdoa agar Beby di beri kekuatan dan kemudahan menghadapinya.”
“Agil tidak ingin terjadi apa-apa kepada Beby, Nek.”
“Iya, Nenek tahu ... tapi kamu yang tenang yah.”
Agil mengangguk, ucapan Nenek Diana membuat rasa cemas nya perlahan mereda.
Beberapa saat kemudian. Terdengar suara tangisan bayi yang melengking dari dalam ruangan tersebut. Sontak membuat semua nya tersentak dan suasana berubah hening. Agil menatap Nenek Diana yang mengangguk.
“Selamat sayang,” ucap Nenek Diana memeluk Agil.
Agil hampir meneteskan air mata bahagianya. Saat seorang perawat keluar memanggil nya, Agil dengan bersemangat ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Moe,” ucap Agil seraya mengelus kepala sang istri.
Beby terbaring lemah dengan keringat yang mengucur di seluruh tubuhnya. Ia berusaha tersenyum kepada sang suami.
“Sayang, selamat yah ... kamu sudah menjadi seorang ayah,” ucap Beby serak.
Mata Beby menjadi sayu dia berusaha untuk tidak tertidur. “Makasih, Moe. Aku mencintaimu,” ucap Agil mengecup penuh kasih kening Beby.
Agil benar-benar bersyukur sang istri dan anak nya bisa terselamatkan. Mereka berdua dalam keadaan sehat. Terlebih Baby Boy yang dilahirkan Beby sungguh menggemaskan. Dia memiliki mata indah seperti Beby.
Agil mengecup pipi tembem nan merah itu. Dia tak bisa berhenti menatap wajah sang anak yang ada di dalam pelukan nya. Pewaris baru keluarga Ganendra sudah lahir. Nenek Diana begitu bahagia. Tapi tidak dengan Tante Laras yang wajahnya masam. Dia berpikir bahwa anak yang dilahirkan Beby, akan menjadi penghalang berikutnya untuk anak-anak nya dia mendapatkan warisan keluarga Ganendra. Terlebih bayi itu berkelamin laki-laki, membuatnya semakin geram dan tidak terima.
🌺🌺🌺
Kini usia Baby Boy sudah menginjak enam bulan. Ia sudah bisa duduk dan suka bermain di lantai. Baby Boy sudah mulai belajar merangkak sendiri. Agil dan Beby menjadi sangat ekstra untuk menjaga Baby Boy.
Tiga bulan yang lalu, Agil dan Beby sudah mengadakan pesta untuk Beby Boy. Di pesta itu, keduanya mengumumkan nama baru untuk Baby Boy. Yaitu, Reymond Ganendra. Berharap ia akan tumbuh menjadi lelaki hebat, seperti sang ayah Ragilio Ganendra.
“Aaaaaa ... hiks hiks.” Tangisan Baby Rey menggema di sebuah ruangan khusus tempat bermain nya.
__ADS_1
“Uuhhh, sayang cup cup ... anak Daddy jangan nangis,” ucap Agil menggendong tubuh gempal Baby Rey. Berusaha membujuk sang anak agar berhenti menangis.
“Moe, cepat sedikit ... Rey sudah nangis,” teriak Agil.
Sontak Baby Rey kembali menangis mendengar suara teriakan Agil. Membuat Agil semakin panik. Dia menggendong Baby Rey ke sana kemari. Tak jarang dia juga membuat raut wajah aneh untuk menenangkan tangisan Baby Rey.
Baby Rey tertawa seketika, dan tangan mungilnya meraih hidung Agil. Dan memainkan nya layaknya mainan. Agil tersenyum bahagia, dia langsung menciumi pipi Baby Rey karena gemas.
“Sayang, maaf yah ... agak lama tadi aku lupa menaruh botol susu Rey, hehehe.”
Beby masuk dengan membawa botol susu hangat. Dia terkejut dan langsung diam. Melihat pemandangan yang membahagiakan di depan sana.
Baby Rey yang tertidur pulas di dalam dekapan Agil. Beby tersenyum dan berjalan mendekati kedua laki-laki yang sangat penting dalam hidupnya itu. Ia pun memeluk suaminya dari belakang.
“Sayang, kamu terlihat sangat seksi dari belakang?”
“Sssttttt ... jangan ribut. Nanti Rey bangun dan menangis lagi,” ucap Agil dengan suara pelan.
Beby menutup mulutnya dan tertawa pelan. “Baiklah sini berikan Rey padaku, kamu pasti sudah terlambat kerja.”
“Tidak apa-apa, Moe ... aku senang bisa membantumu menjaga Rey sebelum pergi kerja.”
Agil merapikan sendiri lengan kemeja dan mengenakan jas nya. “Kamu memang suami the best, aku bersyukur bisa memilikimu, sayang.”
Beby berjinjit dan langsung mengecup sekilas bibir Agil. Ketika dia sedang sibuk memperbaiki letak dasinya. Sontak membuat Agil terkejut.
“Hmm,” Agil tersenyum dan langsung meraih tengkuk leher Beby dan mencium bibir Beby. Ia semakin menarik tengkuk itu memperdalam ciuman nya.
“Aku berangkat kerja dulu, Moe.”
Agil mengecup kening Beby dengan mesra. Lalu tak lupa juga mengecup kening Beby Rey, yang tertidur pulas. “Minta pelayan untuk membantumu,” ucap Agil.
Beby mengangguk, ia melambai menatap kepergian Agil yang menghilang dari balik pintu. Beby menatap lekat wajah sang anak, tampan seperti ayahnya. Beby mencium gemas pipi tembem Baby Rey.
“Mommy sangat menyayangi mu, sayang ... jadilah anak yang baik, penurut, dan pokoknya the best seperti Daddy Agil,” ucap Beby.
***
__ADS_1
Di kantor. Agil duduk memangku dagu dengan tangannya di atas meja. Sudah hampir satu tahun, dia belum juga mendapat kabar dari Daniel. Dan juga Bagas yang sudah 6 bulan terakhir menetap di Amsterdam karena mengurus perusahaan di sana. Tentu saja Agil merasa kesepian tidak ada kedua sahabatnya itu.
Mengenai Melanie, Agil menugaskan seseorang untuk selalu mengawasi wanita gila itu. Karena dia masih tidak percaya kepada Melanie. Agil tidak mau nyawa istri dan anak nya terancam karena kegilaan di dalam kepala Melanie. Sedangkan Dewa sendiri, menghilang begitu saja. Dia tidak pernah bertemu lelaki itu sejak pemakaman Amanda setahun yang lalu.
Sekarang kehidupannya berjalan dengan tenang. Tanpa ada hambatan dan rintangan berat lagi. Kebahagiaan dari Beby dan Baby Rey, melengkapi hidupnya. Ia semakin bersyukur bertemu dengan Beby malam itu.
Agil menatap bingkai foto kebersamaan keluarga kecilnya. “Aku begitu mencintai mu, Moe. Sampai-sampai terkadang aku merasa diriku ini adalah pria bodoh. Aku tidak mau menjadi orang bodoh seperti mu, yang dibutakan cinta mu kepada Dewa dulu. Tapi apa? Aku malah menjadi pria bodoh melebihi mu. Karena rasa cinta ini, aku rela mengorbankan seluruh hidup ku untuk mu. Sungguh takdir yang tidak bisa di tebak, andai malam itu wanita yang bersamaku bukan lah dirimu ... aku takut membayangkan masa depan apa yang akan aku dapat jika tidak bersama mu.”
Pintu ruangan terbuka. Senyuman nya tergelincir, melihat Bagas yang dengan gagah nya masuk. Agil segera menaruh kembali bingkai foto itu yang sempat dia ambil. Kemudian dia berdiri untuk menyapa sahabatnya itu.
Agil mengajak Bagas untuk minum teh bersama di kantornya. Membicarakan hal-hal yang sudah lama tidak mereka bicarakan.
“Hahaha, asal kamu tahu ... terkadang aku mengakui jika pikiran ku begitu menjijikan, tapi memang kenyataan bahwa aku sangat merindukan mu,” ucap Agil di selangi dengan tawanya.
Bagas yang sedang menyeruput teh. Hampir saja tersedak. “Hei, aku ini masih waras ... menjijikan sekali,” ucap Bagas menatap Agil dengan jijik.
Agil pun tertawa, begitu pun juga dengan Bagas. Sudah lama sekali rasanya tidak seperti ini. Tiba-tiba saja terlintas di benak nya. Kenangan ketika mereka bertiga masih duduk di bangku SMA. Agil merindukan momen-momen tersebut.
“Jadi? Apakah urusan mu disana sudah selesai?” tanya Agil.
Bagas menyeruput kembali teh nya. “Aku sudah selesai, dan kembali untuk bertemu keponakan ku.”
Agil menceritakan mengenai Baby Rey kepada Bagas. Namun, tiba-tiba suasana menjadi hening. Ketika Bagas menanyakan hal yang tidak terduga. Untuk yang pertama kalinya, ia menanyakan hal tentang Daniel kepada Agil.
“Jadi? Apa kamu masih belum mendapat kabar dari Daniel?”
Agil sempat terdiam sejenak.
“Aku belum mendapatkan kabarnya.”
Suasana menjadi canggung. Bagas menyeruput habis teh nya. Begitu pun juga dengan Agil. Ponsel keduanya berdering bersamaan. Sebuah email masuk.
Agil dan Bagas saling bertatapan. Segera mereka membuka isi email tersebut. Mata mereka terbelalak. “Undangan pernikahan.”
Jadi, di undangan tersebut. Tercantum nama Daniel dan nama seorang wanita yang familiar buat Agil. Karena wanita yang akan menikah dengan Daniel itu. Adalah anak dari seorang pengusaha partner bisnis nya. Agil tidak percaya Daniel akan segera menikah menyusul dirinya dan juga Beby.
TBC.
__ADS_1