Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 123.


__ADS_3

“Bagas,” panggil Nina pelan seraya mengibas udara di depan wajah Bagas.


Bagas pun tersadar dari lamunan nya. Dia berpaling mengusap dengan cepat sudut matanya yang mulai berair. Lalu tersenyum kepada Nina. Bagas tidak mau Nina merasa sedih kembali.


“Kau tidur lah disini, buat dirimu nyaman dan lupakan sejenak masalahmu. Aku yakin itu akan membuatmu merasa lebih baik, ketika bangun paginya,” kata Bagas.


Bagas menuntun Nina untuk duduk di tepi ranjang. Namun ketika dirinya hendak pergi. Tangan nya diraih oleh Nina. Langkah Bagas terhenti dia kembali menoleh ke arah wanita itu.


“Ada apa?” tanya nya.


“Jika aku disini, kau tidur dimana?” Nina balik bertanya.


Bagas tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Nina. “Dimana lagi? Aku akan tidur diluar, disofa empuk.”


“Ada apa? Apakah ada sesuatu yang kau butuhkan?” tanya Bagas kembali. Karena melihat wajah Nina yang ingin mengatakan sesuatu. “Katakan saja.”


“Kau bisa tidur disini ... aku disini dan kau disana.”


Nina menunjuk bagian sisi tempat tidur yang lainnya. Wajahnya merah dia tidak menatap wajah Bagas. Bagas tersenyum tipis, dia pun meraih dagu Nina. Mendongak agar dia bisa melihat wajah wanita itu.


“Kau yakin? Mengajak ku tidur bersama seperti ini?”


“Bukan itu maksudku! Aku tidak mengajak mu tidur bersama seperti yang kau pikirkan! Hanya saja ...”


“Hanya apa? Apa kau tidak takut aku berbuat sesuatu padamu? Nona Mochi?”


Nina mengerinyit, menatap Bagas dengan aneh. “Mochi?”


Bagas mengangguk dan membungkuk. Mendekat dengan wajah Nina. Nina menelan salivanya merasa dadanya semakin berdebar ketika wajah Bagas sangat dekat dengan wajahnya.


Kletak.


Nina memegangi dahinya yang terasa sakit, ketika Bagas menjentikkan jarinya disana. Pria itu tertawa, mengusap-usap pucuk kepala Nina.


“Wajah mu merah, kau pikir aku akan mencium mu? Percaya diri sekali kau.”


“Aku tidak berpikir begitu kok." Nina manyun dan memalingkan wajah nya yang tersipu. “Sialan kau Bagas!” batin nya.


“Baiklah, karena kau yang meminta nya. Aku akan tidur di ranjang ini bersama mu,” kata Bagas bersemangat. Dia naik ke atas ranjang dan berbaring di bagian yang di maksud Nina tadi.


“Kemari dan istirahatlah, aku akan membuatmu tidur nyaman malam ini.”


“Awwh, Bagas lepaskan aku.”


Nina berteriak saat Bagas menariknya masuk ke dalam selimut. Lalu memeluknya erat-erat. Hingga dia tidak bisa bergerak. Pria itu tertawa setelah mengerjai dirinya.


“Bagas lepaskan aku! Aku tidak bisa tidur jika kau seperti ini, malah membuatku tidak bisa bernafas.” Nina terus menggeliat mencoba melepaskan diri.


Bagas tersenyum tipis lalu melepaskan Nina. Kemudian memutar tubuh wanita itu. Kini dia mendekap Nina di dadanya. Membiarkan wanita itu merasakan kehangatan dan mendengarkan degup jantung nya.


“Seperti ini, aku yakin kau akan merasa nyaman.”


“Hmm, baiklah untuk malam ini saja. Karena aku juga merasa kedinginan, kali ini aku biarkan kau memeluk ku!”


“Good Night, Nona Mochi.”

__ADS_1


“Good Night to, Tuan Prayoga yang nyebelin.”


Bagas menutup matanya dan tersenyum. Merasakan Nina yang juga melingkarkan tangan ditubuhnya. Bagas pun semakin mengeratkan pelukannya. Tangan nya yang panjang meraih tombol lampu yang letaknya ada di atas kepala tidur. Menekan nya, dan seketika lampu mati. Tinggal lah lampu tidur yang remang-remang disetiap sudut kamar. Tak menunggu lama keduanya sudah terlelap, memasuki alam mimpi masing-masing.


🌺🌺🌺


Ketika cahaya matahari mulai menyeruak masuk ke dalam kamar. Nina menggeliat dari balik selimut. Matanya mengerjap menatap sebelahnya yang kosong. Dia sadar bahwa Bagas sudah tidak ada. Nina bangun dan duduk ditengah ranjang. Dia meraih ponsel miliknya, yang terletak di atas nakas.


“Huh, Kak Gerry benar-benar ingin membuatku jauh dari Gio.” Nina menghela nafas dan melempar ponselnya ke sembarang arah di atas ranjang.


Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka. Bagas keluar dengan gagahnya, sudah rapi menggunakan setelan kerjanya. Dia tersenyum ke arah Nina yang juga menatapnya.


“Kau sudah bangun, ternyata?”


Nina mengangguk sambil mengusap tengkuk lehernya. Membenarkan bahwa Bagas memang pria yang baik hati. Dia tak hanya tampan, melainkan juga sangat perhatian. Tak salah jika hatinya selalu berdebar jika berada di dekat pria itu.


“Kenapa kau tak membangunkan ku, aku harus kerja.” Nina bergeser dan turun dari ranjang. Namun tiba-tiba saja kepalanya terasa berat. Dia terhuyung, Bagas dengan cepat menangkap tubuhnya.


“Kau baik-baik saja?” tanya nya cemas.


“Entahlah, kepala ku sakit sekali.” Nina memegangi kepala nya yang berdenyut.


“Kau tidak usah kerja hari ini, aku akan meminta Dian membuatkan surat izin untuk mu.”


Bagas memapah Nina duduk di tepi ranjang. “Apa kau yakin, baik-baik saja sendiri disini?”


Nina menggelengkan kepalanya. “Aku baik-baik saja ... kau tidak perlu bolos kerja hanya demi diriku.”


“Cih, percaya diri sekali. Siapa juga yang mau bolos kerja demi dirimu.”


Nina menyipitkan matanya menatap pria menyebalkan itu. “Kau ini masih saja bercanda!”


“Apaan sih, lebay banget deh!” Nina menyikut perut Bagas.


Bagas terkekeh kecil. “Kau ini selalu saja jutek. Ayo aku akan membuatkan mu sarapan.”


“Tapi aku mau ke kamar mandi dulu.”


Bagas pun memapah Nina menuju kamar mandi. “Kau yakin bisa sendiri?”


Nina mencubit pipi Bagas ketika pria itu menyeringai licik. “Aku bisa sendiri ... dasar otak mesum, jauh!"


“Hahaha, aku akan menunggu mu diluar. Perhatikan langkah mu, jangan sampai terjatuh,” teriak Bagas dari luar kamar mandi. Nina tersenyum mendapat perhatian dari Bagas. Dia pun mulai membasuh wajah dan membersihkan diri.


Setelah selesai dia langsung keluar menemui Bagas. Langkah Nina terhenti, dia terpaku. Melihat Bagas yang berkutat dibalik pantry. Pria itu tersenyum kepadanya. “Duduk lah disana, sebentar lagi sudah siap.”


“Kau sedang apa?” tanya Nina yang berjalan ke arah sofa dan duduk. Tatapan nya masih tertuju kepada Bagas.


“Tentu saja sedang membuatkan mu sarapan, memangnya apa lagi?”


“Hmm, jangan taruh racun di dalam nya yah.” Nina mencoba menggoda Bagas.


Bagas tertawa sambil geleng-geleng kepala.“Hahaha, apa kau pikir aku akan melakukan nya?”


“Bukan kah kau tidak suka padaku karena aku ini cerewet ... pasti kau senang jika aku tiada, bukan.”

__ADS_1


Bagas terdiam, dia menatap Nina yang raut wajah nya berubah sendu. “Siapa bilang aku tidak menyukaimu ... malah aku sangat menyukaimu.”


“Apa kau bilang?” Keduanya saling menatap, wajah Bagas memerah. Dia tidak sadar sudah mengatakan sesuatu yang tidak dipikirkan nya saat berucap.


“Maksudku, karena kau sahabatnya Beby ... tidak mungkin aku tega meracuni mu,” kata Bagas mengalihkan perkataan nya.


“Hmm, ternyata begitu.” Nina memalingkan wajahnya, entah kenapa dia merasa sedih dengan perkataan Bagas. Apakah dia benar-benar sudah jatuh cinta pada pria itu. Nina belum berani meyakinkan hatinya yang masih bimbang.


“Ini dia sarapan nya, selamat mencoba Nona Mochini.” Bagas meletakkan nampan berisi dua gelas susu hangat dan dua porsi roti lapis isi daging di atas meja sofa.


“Wah, ini terlihat sangat enak. Benar tidak ada racun kan di dalam nya,” kata Nina tersenyum meledek Bagas. Dia meraih roti lapis dan memasukan nya ke mulut.


“Kau ini, memang culun bodoh!” Bagas mengusap-usap pucuk kepala Nina. “Pelan-pelan, kau bisa tersedak.”


“Aku tahu.” Nina menatap sengit Bagas. “Kau juga harus sarapan, biar tidak pusing saat bekerja.”


Nina menyuapkan roti lapis Bagas ke dalam mulut pria itu. “Hei, Nona Mochini. Kau itu sangat kasar ya, tidak bisa apa jadi wanita itu yang anggun,” gerutu Bagas dengan mulut yang penuh oleh roti lapis.


“Hahaha, makanya berhenti memanggil ku seperti itu. Apa kau tidak menganggap nama itu lucu dan memalukan?”


“Memang nya kenapa? Aku suka.”


“Mochini, aku merasa seperti sebuah es krim rasa mochi yang membulat dan putih polos.”


Seketika Bagas malah tergelak. “Hahaha, kau itu sangat lucu. Ada benarnya juga, Nona Mochi. Hahaha!”


“Berhenti menggoda ku, atau aku tidak mau bicara lagi padamu!” Nina hendak berdiri namun ditahan oleh Bagas. “Gitu aja ngambek, jelek tau!”


Mereka pun menyelesaikan sarapan mereka yang terganggu. Oleh pembahasan tentang nama ‘Mochini’. Bagas menatap Nina yang tersenyum. Dia senang jika Nina bisa melupakan sejenak masalah nya yang kemarin.


“Aku sudah meminta Agil mengirim seseorang untuk mencari tahu keberadaan Gerry.” Bagas meraih tangan Nina. “Kau tidak perlu khawatir, kita pasti akan menemukan Gio secepatnya.”


Nina tersenyum paksa dan mengangguk. “Terima kasih banyak, Bagas. Kau sudah banyak membantuku," tutur Nina.


“Sama-sama, kau tidak perlu sungkan padaku.”


Tiba-tiba saja. Bel berbunyi. Bagas pun beranjak dari duduk nya. Merapikan jas yang dia kenakan. Nina ikut berdiri.


“Itu pasti Pak Dian, pergilah. Aku akan membersihkan ini,” ucap Nina tersenyum.


“Kau yakin bisa? Jika kau masih merasa pusing, sebaiknya kau beristirahat saja. Biarkan aku yang akan membersihkan nya sepulang kerja.” Bagas meraih kedua pundak Nina.


“Aku sudah lebih baik, pergi lah. Kau. isa terlambat.” Nina melepaskan tangan Bagas dari pundaknya. Dan menuntun Bagas ke depan pintu.


“Aku pergi,” ucap Bagas sebelum membuka pintu.


Nina mengangguk dan tersenyum. “Hati-hati,” ucap Nina.


Bagas pun keluar dari apartemen nya menemui Dian yang sudah menunggu. “Selamat pagi, Tuan,” sapa Dian.


“Pagi,” sapa Bagas tersenyum.


“Ada apa dengan nya? Kenapa pagi ini dia begitu sumringah?” batin Dian bingung melihat tingkah Bagas aneh dari biasanya.


“Kenapa aku jadi seperti ini sih? Lucu sekali, aku merasa seperti pengantin baru saja dengan nya. Tidak waras aku sudah gila,” batin Bagas.

__ADS_1


TBC.


Note : Maaf baru bisa up, semoga suka yah🙏🏻☺️


__ADS_2