
Beby ikut duduk di kursi sebelah Agil. Ia meraih gelas baru dan menggesernya ke dekat gelas Agil di atas meja mini bar itu.
"Apa?" tanya Agil menyipitkan matanya.
"Mau," jawab Beby menyeringai.
"Enggak!" tolak Agil menarik botol wine dan menjauhkan nya dari Beby.
"Kenapa?"
"Kau tanya kenapa? Apa kau tidak ingat terakhir kali kau mabuk?"
"Oh ayolah, Agil! Please, sedikit saja," mohon Beby dengan senyuman indahnya. Membuat Agil berdecih memalingkan wajahnya sambil terkekeh.
"Tidak-tidak, aku tidak mau! Kau tidak boleh mabuk," ucap Agil masih kukuh tak mau memberikan Beby minuman meskipun sedikit.
"Jahat!" Beby berdecak kesal, melipat kedua tangan nya di dada dan memalingkan wajahnya.
"Hei, siapa yang kau bilang jahat?" Agil meraih dagu Beby, lalu mengarahkan wajah wanita itu ke arah nya.
"Apa kau mau kejadian malam itu terulang lagi?" ucap Agil.
Deg!
Seketika Beby terdiam, dia menelan salivanya. Mengingat kejadian malam itu. Dia menatap wajah Agil yang kini berada di jarak yang sangat dekat dengan wajahnya. Membuat Beby semakin berdebar.
"Baiklah, kalau begitu aku lapar mau makan!" Beby menarik wajahnya dan langsung memalingkan wajahnya dari Agil. Dia mengusap pipi dan hidungnya karena gugup.
Agil pun tersenyum melihat tingkah Beby yang tersipu. Ia pun beranjak dari kursinya. "Ayo!" ajaknya sembari mengulurkan tangan di depan wajah Beby.
"Kemana?" tanya Beby menatap wajah Agil yang sangat tampan dengan senyuman menawan nya.
"Katanya mau makan," jawab Agil menaikan salah satu alisnya.
__ADS_1
"Oh iya," ucap Beby gugup, ia pun langsung meraih tangan Agil. Agil geleng-geleng kepala seraya menggandeng Beby menuju ruang makan.
Sesampainya diruang makan, mereka berdua duduk saling berhadapan. Saling menatap, sambil menunggu pelayan menyiapkan makan malam. Setelah sudah tersusun rapi beberapa hidangan di meja. Mereka pun mulai menyantap makanan masing-masing.
"Kenapa kau tidak membangunkan ku, jika sudah malam tadi?" tanya Beby dengan mulut yang menggembung, mengunyah makanan nya.
"Aku sudah membangunkan mu, tapi kau tidak mau bangun, dan malah semakin mengorok," jawab Agil. Tersenyum usil dan melirik sekilas.
"Apa? Aku mengorok? Hahaha, tidak mungkin! Jangan bercanda." Beby hampir tersedak, dia pun tertawa.
"Aku tidak bercanda!" ucap Agil dengan wajah serius nya.
"Tidak mungkin! Itu sangat memalukan!" Beby menundukkan wajahnya dan menggaruk-garuk tengkuk lehernya. Wajahnya memanas karena malu.
"Benar! Kau sungguh tidak tahu malu," sahut Agil kembali sekilas tersenyum usil Lalu kembali pura-pura menyantap makanan nya.
"Akkh, Beby dasar bodoh! Mau ditaruh dimana wajahmu sekarang!" Beby menggerutui dirinya sendiri. Agil semakin menahan tawanya, merasa puas sudah berhasil mengerjai Beby.
"Malam ini menginap saja disini," ucap Agil.
"Kenapa?" Agil mengernyit tak mengerti.
"Aku--" Beby menghentikan kata-katanya karena malu.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun terhadapmu! Aku janji," ucap Agil mencoba meyakinkan Beby.
Beby diam dan berpikir panjang. "Baiklah!" ucapnya kemudian.
Akhirnya dia mengiyakan tawaran Agil untuk menginap malam ini. Agil nampak begitu senang karena Beby mau menerima tawaran nya. Begitu juga dengan Beby, menghabiskan malam kembali bersama dengan Agil. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya. Meskipun Agil sudah berjanji tidak melakukan apa-apa. Tetap saja membuat jantung Beby berdetak tak karuan.
Selesai makan malam. Agil pun mengajak Beby untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia juga meminta Beby untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian nya, dengan piyama tidur wanita yang baru dibawakan oleh pelayan nya. Beby pun menuruti semua perintah Agil.
Kini Beby tengah merebahkan kepalanya di pangkuan Agil lagi. Pria itu sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidur, sambil membaca sebuah buku disalah satu tangan nya. Sedangkan tangan yang lain nya, membelai lembut kepala Beby.
__ADS_1
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Beby tiba-tiba.
"Bertanyalah," jawab Agil yang masih sibuk dengan bukunya.
"Apa kau sering membawa wanita kemari?"
Seketika Agil terhenti membaca bukunya. Dia menunduk menatap wajah Beby yang kini juga sedang menatap wajahnya.
"Aku tidak membawa wanita kemari, hanya kau satu-satunya wanita," tutur Agil. Lalu kembali membaca bukunya.
"Benarkah? Kenapa aku merasa kurang yakin, yah!"
"Berhenti bicara, kau sedang mengganggu konsentrasi ku membaca!"
"Cih, aku kan hanya bertanya sebentar!"
"Cerewet sekali, sebaiknya kau cepat tidur, bukan kah besok kau masih harus kuliah!"
"Hmm, kau benar! Baiklah, kali ini aku akan diam. Tapi lain kali, masih banyak yang ingin aku tanyakan padamu!"
"Terserahlah, cepat tidur!"
"Iya ... iya, aku akan tidur!"
Beby pun memiringkan tubuhnya memeluk guling. Seperti siang tadi, sedikit demi sedikit dia mulai terbuai oleh sentuhan lembut tangan Agil di kepalanya. Yang tidak menunggu lama, membuat dirinya terlelap.
Sedangkan Agil, setelah memastikan Beby sudah terlelap dengan nyaman. Ia pun segera turun dari tempat tidur perlahan-lahan. Dengan penuh perhatian dia menyelimuti tubuh Beby, lalu mengecup kening nya.
"Mimpi indah, Beby!"
Ia pun meraih bantal nya dan melangkah menuju sofa yang letak nya tidak jauh di dalam kamar nya juga. Mengatur bantal untuk dia tiduri. Agil sengaja tidur di sofa, karena tidak mau mengganggu tidur Beby.
__ADS_1
...🌺Jangan lupa like dan vote yah🌺...