
Tok tok tok.
“Masuk!”
Sekilas dia menoleh ke arah pintu, lalu kembali menatap layar laptop, yang menayangkan sebuah rekaman dasbor tentang kejadian yang dialami Freeya dan Ratu.
“Tuan, anda harus melihat ini...”
“Apa itu?”
Asisten Dion memberikan sebuah amplop. Awalnya dia hanya menatap amplop coklat tersebut. Lalu sekian detik kemudian dia segera membuka amplop itu, yang ternyata berisi beberapa lembar foto.
“Ini salah satu orang yang menyerang Dokter Freeya dan Nona Ratu semalam,” ucap Asisten Dion menunjuk salah satu pria yang ada di dalam foto itu.
Pandangan Daniel terpusat pada pria tersebut, giginya menggertak. Sesuatu yang terasa panas di dalam dirinya seakan semakin panas dan terbakar, membuat tangan nya tanpa sadar mengepal.
“Jadi dia...”
“Lalu siapa pria disebelahnya ini?”
Dahinya mengkerut saat pandangan nya mengedar pada sosok pria berjas rapi yang duduk tepat di depan pria brengsek itu.
“Dia adalah Kepala Rumah Sakit Husada, Dokter Dion Handoko,” jelas Asisten Dion.
__ADS_1
Daniel memperdalam tatapan nya pada foto tersebut, mengingat wajah Dokter Dion. Wajah yang sangat asing, tentu saja mereka belum pernah bertemu.
“Apa aku pernah bertemu dengan nya?”
“Tidak, Tuan. Anda sama sekali belum pernah bertemu dengan nya...”
“Lalu apa masalahnya hingga menyuruh pria-pria brengsek itu, untuk melukai Ratu?” Wajah Daniel kembali mengeras dan memerah, menahan amarahnya.
“Jadi itu yang ingin saya sampaikan pada anda, Tuan. Saya rasa target mereka bukanlah Nona Ratu-”
Bola mata Daniel membulat. “Apa maksudmu?”
“Benar, Tuan. Target mereka adalah Dokter Freeya... dari informasi yang saya dapatkan, bahwa Dokter Dion ini sangat terobsesi dengan Dokter Freeya,” jelas Asisten Dion.
“Dokter Dion dan Tuan Arsyad Endrawira sudah saling mengenal sejak lama, dan baru-baru ini Dokter Dion mendesak Tuan Arsyad untuk memberikan nya restu menikah dengan Dokter Freeya.”
“Lalu? Apa Tuan Arsyad menyetujui nya?”
“Tentu saja, Tuan. Karena Dokter Dion memberikan jaminan atas dana yang dia sudah dia investasi kan di perusahaan, Tuan Arsyad....”
“Jadi dia menjual anaknya pada pria itu, hanya untuk investasi kecil?”
“Benar, Tuan.”
__ADS_1
Karena perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya. Ia meremukkan foto-foto yang ada di tangan nya. Meremasnya dengan sangat kuat.
“Heh, aku benar-benar tidak percaya, dia masih belum juga berubah... dulu dia menyakiti hati Beby karena sikap dinginnya, dan sekarang dia juga menyakiti Freeya seperti ini....”
Daniel sangat geram bahkan wajahnya menampakan jelas. Bahwa saat ini dirinya sangat marah. “BRENGSEK!”
Tangan nya yang mengepal menggebrak meja dengan kuat, hingga menggetarkan apapun yang ada di atasnya. Asisten Dion tidak bergeming, dia berdiri tegak menatap sang Tuan, yang terlihat begitu emosi.
“Siapkan mobil sekarang!”
“Baik, Tuan.”
Asisten Dion pun pergi setelah menerima perintah. Daniel menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Menghela nafas panjang dan memijit pelipisnya yang menegang.
Dia mempertanyakan pada dirinya sendiri. Kenapa? Kenapa lagi-lagi dia harus terlibat pada kehidupan putri dari keluarga Endrawira? Tentu itu membuat hatinya terasa perih, mengingat cinta pertamanya yang bertepuk sebelah tangan.
Tapi, hatinya tidak bisa di bohongi. Logikanya dia sama sekali ingin pergi sejauh mungkin, tapi hatinya bersikeras ingin terlibat dengan keadaan yang Freeya hadapi sekarang ini.
“Wanita ini, apa dia sekuat itu? Dia menghadapi masalah nya sendirian?” gumamnya seraya menatap layar ponselnya. Di sana nampak tergambar seorang wanita bergaun hitam yang tengah tersenyum sambil memegang gelas berisi minuman.
Sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman tipis. Menatap senyuman manis wanita di layar tersebut. Wanita yang tak lain adalah Freeya.
Dan foto itu dia dapatkan saat pertemuan pertama mereka di club malam. Saat sedang mabuk Freeya tidak sadar bahwa Daniel menggambil potret dirinya yang sedang berbicara riang sambil memegang gelas minuman.
__ADS_1
To be continued....