
“Kita mau kemana?” tanya Freeya seraya menatap Daniel yang duduk di sebelahnya.
Mendengar pertanyaan tersebut, Daniel hanya mengangkat kepalanya sekilas. Menatap wanita dengan wajah bulat dan mata yang tajam itu. Dia tak menjawab dan kembali menundukkan kepala menatap layar ponselnya.
“Apa-apaan sih? Di tanya gak jawab? Menyebalkan,” ucap Freeya menggerutu dengan mulut yang di penuhi roti lapis. Karena tidak sempat sarapan, dia hanya mengambil roti lapis yang ada di atas meja makan, lalu memakan nya di dalam mobil.
“Uhhukk uhuukkk uhuukk...”
Dia tersedak dan batuk-batuk sambil memukul dadanya sendiri. Tangan nya pun di tahan oleh Daniel. Freeya menatap wajah pria itu yang kini nampak sedang marah.
“Apa kamu mau mati? Memukul-mukul dada seperti itu, makanya jangan mengomel ketika sedang makan,” ucap Daniel seraya mengambil sebotol air mineral dan memberikan nya kepada Freeya.
Sambil meneguk air tersebut, Freeya terus menatap wajah pria di samping nya itu. Hari ini dia nampak sangat aneh. Kerutan di keningnya selalu nampak. Dia seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.
“Aku tidak mengomel, tapi hanya kesal, seakan sedang berbicara pada batu tidak di jawab sama sekali,” ucap Freeya dengan wajah manyun.
“Siapa yang kamu bilang seperti batu?”
“Kamu-”
Freeya terdiam dan tertegun, ketika Daniel mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku celana. Kemudian mengusapkan sisa roti lapis diujung bibirnya. Wajah datar dan dingin itu seketika menghilang dimata Freeya. Pria dengan sejuta perhatian, inikah Daniel Adhicandra yang sebenarnya? Yang selalu dibicarakan oleh Beby kakak nya?
Tangan Freeya bergerak meraih tangan Daniel yang sedang mengusap bibirnya menggunakan sapu tangan. Daniel terkejut dan tersadar. Dia pun melepaskan sapu tangan tersebut di tangan Freeya, kemudian memalingkan wajahnya ke arah depan.
__ADS_1
“Kau juga Dion, jika tahu ada yang sedang makan, mengemudi lah dengan perlahan.”
“Ba-baik Tuan, maafkan saya,” sahut Asisten Dion dengan terbata-bata.
“Apa-apaan sih, kenapa Asisten Dion yang kamu marahi? Ini salahku karena makan tidak pelan-pelan,” sanggah Freeya.
“Terserahlah,” ucap Daniel acuh.
Ponsel Freeya pun berdering. Freeya merogoh saku celanan nya. Melihat nama yang tertera di layar ponselnya, dia tersenyum. Dengan semangat dia pun menggeser tombol hijau di layar itu.
“Halo, kakak ipar?”
Mendengar itu, Daniel langsung menoleh namun kbali membuang muka ketika Freeya juga menatapnya. Dia sadar bahwa yang berada dalam panggilan tersebut adalah Agil, sahabatnya.
Freeya terdiam ragu untuk menjawab. Tapi mau bagaimana lagi, itu memang kenyataan. “Be-benar kakak ipar, ayah sudah tidak waras!”
“Tapi-” ucapanya terhenti. Freeya menatap Daniel yang juga sedang menatap dirinya.
“Bahwa kamu malah akan menikah dengan Daniel Adhicandra!”
“Kakak ipar? Bagaimana kamu bisa tahu?” Freeya tergugup menjawab.
“Biarkan aku bicara pada Daniel,” ucap Agil dengan intonasi tegasnya.
__ADS_1
“Baiklah,” jawab Freeya seraya memberikan ponselnya pada Daniel.
Daniel pun meraih ponsel tersebut. Dia sudah menyiapkan diri untuk menghadapi Agil dan Beby, saat dia sudah memutuskan untuk menikahi Freeya.
“Halo, Agil. Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu dan Beby, aku harap kalian baik-baik saja,” sapa Daniel terlebih dulu.
“Kami baik-baik saja. Selama ini aku dan Bagas sudah mencarimu kemana-mana, dan sekarang kau muncul begitu saja, membawa kabar bahwa kau akan menikahi adik iparku? Apakah ini sebuah kebetulan?”
Daniel terdiam dia menatap wajah Freeya yang nampak cemas. Penasaran dengan apa yang sedang kakak iparnya bicarakan.
“Ini bukan kebetulan, tapi aku serius dengan rencana pernikahan ini. Meskipun dadakan dan harus dilaksanakan secepat nya.”
“Pernikahan bukan sembarangan, Niel. Aku percaya bahwa kau adalah pria yang baik, kita bersahabat sejak kecil. Tapi tetap saja, aku tidak mau jika Freeya akan tersakiti dengan pernikahan ini. Kau tahu Beby tidak akan pernah memaafkan mu jika itu terjadi!”
“Kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaga Freeya dengan baik.”
“Bukan masalah jaga-menjaga, tapi permasalahan hati. Aku tidak mau jika Freeya akan patah hati nantinya.”
Daniel kembali diam. Dia menatap sendu wajah Freeya dengan lekat. Yakin kah dia bisa membuat Freeya bahagia? Dan tidak akan pernah membuat nya patah hati? Daniel berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
“Aku akan menjaga nya dengan baik. Dan masalah hati, aku akan memberikan hatiku hanya untuk nya,” ucap Daniel seraya saling menatap dengan Freeya.
Jantung Freeya berdegup sangat kencang mendengar perkataan Daniel. Rasanya dia seperti melayang ke langit ketuju. Namun logikanya dia masih belum mengerti mengapa dia merasa seperti ini? Pria di depan nya itu, apakah dia sudah berhasil mencuri hatinya?
__ADS_1