
"Beby," Dewa berteriak kembali memanggil namaku.
Aku terhuyung saat dia mencengkram kuat lengan kananku dan menarik ku kedalam dekapannya.
"Ayo kita pergi dari sini," ucapnya dengan mata yang melotot dan merah.
"Iya, sabar. Aku ambil tasku dulu."
Aku pun meraih tas ku dan meminta maaf pada Daniel atas perlakuan Dewa padanya. Aku benar-benar merasa sangat tidak enak. Kegilaan Dewa membuat ujung bibir pria tampan itu berdarah. Namun dia masih bisa tetap tersenyum padaku.
"Maafkan aku Daniel."
"Tidak By, kamu gak salah. Pergilah, aku tidak apa-apa."
"Makasih yah, kalau begitu aku pergi. Bye!"
Aku kembali menghampiri Dewa yang menungguku dengan tatapannya yang tajam pada Daniel. "Ayo kita pergi," ajak ku merangkul tangannya.
"Kalau gw liat loe jalan sama Beby lagi, gw gak akan segan-segan buat hajar loe lebih dari ini." Dewa menunjuk Daniel dan mengancamnya.
__ADS_1
Aku pun langsung menariknya keluar dari restauran itu. Karena tidak ingin Dewa menjadi gila lagi dan menyerang Daniel yang tidak salah.
Brakk!
Dewa menghempaskan aku masuk kedalam mobilnya dan menutup pintu dengan kasar. Lalu dia beralih masuk kedalam bangku kemudi dan menancap gas pergi dari restauran itu.
Di perjalanan dia hanya diam dan menatap lurus kearah depan. Aku takut sekaligus marah. Bisa-bisanya dia berbuat kasar pada Daniel dan kepadaku. Aku bisa mencium bau aroma bir sepertinya dia sedang mabuk. Siang bolong seperti ini, ada apa dengannya.
Dewa memberhentikan mobilnya di jalanan yang sepi. Aku mengedarkan pandangan menatap kearah sekeliling. Aku tidak tahu sekarang ada dimana.
"Sekarang jelasin padaku, kamu ada hubungan apa dengannya Beby? Aku benar-benar gak nyangka yah, kamu bisa serendah ini."
Dewa mencengkram kedua pundak ku dan mengguncang-guncang tubuh ku beberapa kali. Aku melepaskan tangannya dari pundak ku.
Aku memalingkan wajah kearah jendela. Aku merasa nafasku mulai berat, dan kelopak mataku memanas. Menahan air mata yang hendak keluar.
"Kamu gak usah alihkan pembicaraan By, intinya sekarang kamu sudah selingkuh dengan Daniel. Kamu murahan By."
Plak!
__ADS_1
Tanganku bergerak begitu saja menampar wajah Dewa. Seperti tertusuk sebuah pisau belati di dada. Perih dan sakit rasanya. Dia mengatai aku 'murahan'. Air mataku sudah tidak bisa aku bendung lagi. Akhirnya aku meneteskannya.
"Kamu keterlaluan, aku dan Daniel tidak memiliki hubungan apapun. Kami hanya sekedar makan siang bersama," jelas ku dengan suara serak dan terisak.
"Bohong," tuduhnya lagi.
"Aku tidak bohong, jika kau tidak mau percaya padaku. Yasudah, kau tidak perlu percaya padaku lagi selamanya. Kalau perlu sekarang juga kita putus!"
Aku tidak sadar telah mengatakan kata-kata itu. Saking sakit hatinya dengan perkataan Dewa. Aku tidak bisa menahan diri.
"Apa kamu bilang? Putus, enak sekali kamu berkata seperti itu. Beby sampai kapan pun kamu akan selalu jadi milikku. Aku tidak mau putus darimu." tegasnya padaku.
"Bukankah tadi kau yang bilang sendiri jika aku ini murahan? Untuk apa kamu mau dengan wanita murahan seperti ku? Hiks hiks."
Air mataku terus menetes. Aku mengusapnya dan sesekali menyibak rambut depanku kebelakang. Aku pun menyandarkan kepalaku dan menutup mataku.
Aku benar-benar merasa harga diriku diinjak-injak oleh Dewa. Perkataannya menambah kekalutan hidup yang ada dalam benakku. Yang selama ini membuatku hampir gila.
"Maafkan aku, aku yang salah. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu padamu, maafkan aku Beby."
__ADS_1
Aku merasakan Dewa meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Aku membuka mata dan menatap kearahnya yang sekarang sedang mengecup punggung tanganku.
"Maafkan aku sayang," ucapnya seraya menarik ku kedalam pelukannya.