
Daniel menjajakan kakinya memasuki sebuah rumah mewah berwarna putih dengan nuansa elegan. Dipenuhi tanaman-tanaman hias dan terdapat juga sebuah patung kuda air mancur yang minimalis di depan teras rumah tersebut.
Langkahnya terhenti dan dia menoleh kebelakang. Saat suara mobil baru saja memasuki pekarangan rumah mewah miliknya itu. Itu adalah mobil yang biasa mengantar jemput si kembar sekolah.
Daniel melihat arloji di tangan kirinya. Alisnya bertautan dia menatap tajam ke arah si kembar, Kaisar dan Ratu yang baru saja keluar dari mobil.
“Kalian? Kenapa jam segini sudah pulang sekolah?” tanya nya karena waktu masih menunjukan pukul 12 siang.
“Ada kunjungan dokter dari rumah sakit untuk pemeriksaan rutin,” jawab Ratu dengan ceria mendekati Daniel.
Sedangkan Kaisar lebih memilih diam dan melewati cepat Daniel yang menunggu jawaban dari dia. Tidak dihiraukan atau dianggap seperti patung itu sudah biasa buat Daniel. Karena biasanya dia juga akan bersikap dingin seperti itu, Kaisar benar-benar cerminan dirinya.
“Masuklah kita makan siang bersama,” ucap Daniel pada Ratu.
“Baik, Ayah...”
Ratu berlari sambil menyeret tas nya, masuk ke dalam rumah. Segera menyusul Kaisar yang sudah berada dilantai dua.
Didalam kamar mandi yang letaknya di dalam kamar. Daniel membuka kemeja kerjanya. Berbalik badan di depan kaca wastafel, untuk bisa melihat bekas cengkraman di bahu nya. Akibat kuku jemari Freeya semalam.
__ADS_1
“Sial!” pekiknya saat menyentuh luka-luka tersebut.
“Freeya, dimana aku pernah mendengar nama itu?” Daniel teringat akan senyuman manis Freeya saat berbicara padanya di Bar Midnight.
“Wanita aneh itu, sialan! Aku tidak bisa melupakan nya...”
Daniel mengusap wajahnya. Lalu membuka celana dan mengguyur tubuhnya dibawah shower. Menghilangkan bekas-bekas percintaan mereka semalam.
***
Srreett!
Daniel menarik kursi di meja makan lalu menduduki nya. Matanya berkeliling menatap kedua anak nya yang sudah mulai makan dari sebelum dia datang. Sempat saling menatap dengan Kaisar, akan tetapi dengan cepat Kaisar memalingkan wajah dari ayahnya itu.
Daniel mengangkat kepalanya. “Ada apa, Kai?”
“Dari mana saja kamu semalam?”
Sontak Daniel terkejut dan menghentikan santapan nya. Begitu pula dengan Ratu yang menatap cemas Kaisar dan Ayahnya secara bergantian. Ratu tahu bahwa kata-kata Kaisar bisa membuat sang ayah marah nantinya.
__ADS_1
“Ayah ada urusan ... cepat selesaikan makan kalian,” jawab Daniel mengalihkan pembicaraan.
“Aku sudah selesai,” ucap Kaisar menaruh sendok dan garpu nya di atas piring yang masih penuh dengan makanan. Kemudian dia berdiri dan meninggalkan kursinya.
Daniel menghela nafas dan mengusap bibirnya menggunakan tisu. “Kaisar,” teriaknya memanggil sang anak.
Namun tidak ada sahutan dari Kaisar. Ia pun beralih menatap Ratu yang sempat terhenti makan nya. “Habiskan makanan mu,” perintahnya.
Ratu mengangguk pelan, “Ayah, aku rasa Kai sedang tidak enak badan...”
“Apa maksudmu, Ratu?”
“Hmm, sebenarnya tadi waktu disekolah, Kaisar sangat pucat dan dia tidak mau bicara padaku,” jelas Ratu dengan takut-takut, karena ditatap oleh Daniel dengan lekat.
“Pucat?” Daniel mengingat-ingat kembali wajah Kaisar sepulang dari sekolah tadi. Memang benar wajah anak itu pucat saat melewatinya tadi.
“Ratu sudah selesai makan nya ... ayah, Ratu mau datangin Kaisar dulu...” Ratu beranjak dan pergi dari ruang makan.
Daniel menatap kepergian anak perempuan nya itu. Kepikiran dengan perkataan Ratu mengenai Kaisar. Kaisar khawatir jika Kaisar benar-benar sakit.
__ADS_1
“Anak itu, selalu bersikap dingin padaku ... dia tidak mau bilang jika sedang sakit. Apa aku juga seperti itu?” gumam Daniel melanjutkan santapan nya.
To be continued...