
Freeya keluar dari mobilnya. Berjalan sambil membawa tas jinjingnya menuju lift yang tidak jauh dari tempat parkir. Kemudian dia menekan tombol lift menuju lantai tempat unit apartemen miliknya berada.
“Huh, lelah sekali. Hari ini benar-benar menguras tenaga ku,” keluhnya sembari berjalan lunglai menuju sofa empuknya.
Huft.
Menghela nafas dan menjatuhkan tubuh lelahnya di sofa empuk itu. Freeya menatap langit-langit dan menutup matanya yang terasa letih.
Namun tiba-tiba saja. Sebuah bayangan tentang ciuman mereka tadi, tidak sengaja terlintas saat dia menutup mata. Sontak matanya langsung terbelalak. Freeya terlonjak bangun, memegangi dadanya yang berdebar kencang.
“Sepertinya aku sudah gila...” celetuknya dengan mata membulat dan wajah yang seolah-olah jijik.
“Kenapa aku selalu kepikiran pria gila yang super-super dingin itu!” teriaknya histeris sambil mengacak rambutnya.
Freeya menggelengkan kepalanya dan berkata : “Freeya sadarlah, sebaiknya otak mu perlu di beri nutrisi, agar bisa berpikir dengan jernih...”
“Susu hangat adalah obatnya...” Freeya beranjak dan berlalu ke arah pantry. Untuk membuat segelas susu hangat. Setelah selesai membuatnya, Freeya meminum susu tersebut. Sambil berjalan ke arah bufet tempat dia menaruh tasnya.
Di atas bufet tersebut, tergantung sebuah cermin hias yang begitu cantik berwarna putih. Mata Freeya tidak sengaja menatap dirinya dari balik pantulan cermin tersebut. Bayangan itu pun kembali muncul, saat dia memejamkan mata dan mencium Daniel.
“Aaaaa...” Freeya berteriak histeris saat ponselnya tiba-tiba berdering. Dan tersadarkan dari lamunan gila itu.
Freeya menatap layar ponselnya, yang tertera nomor telepon tidak dikenal. Dia mengerinyit dan bergumam : “Siapa ini?”
“Halo, dengan Freeya Endrawira ... dengan siapa dimana?” jawabnya.
Seketika raut wajah Freeya berubah seperti tidak percaya. Saat telpon dimatikan dia langsung bergegas meraih tas dan kunci mobil. Lalu pergi dengan tergesa-gesa. Sampai dia lupa untuk mengganti pakaian kerjanya.
Disebuah kafetaria. Freeya berjalan masuk kedalam kafetaria tersebut. Matanya berkeliling mencari sosok yang ingin dia temui.
__ADS_1
Di sana, deretan meja paling tengah dekat sebuah dekorasi air mancur coklat. Duduk seorang gadis kecil yang cantik. Freeya segera menghampirinya. Lalu duduk tepat di depan nya.
Dengan wajah jutek dan tatapan sinis dia menatap Freeya. Sedangkan Freeya membalasnya dengan tersenyum paksa dan berkata : “Sudah menunggu lama?”
“Lama sekali!” jawab gadis kecil itu dengan jutek.
Wajahnya yang cantik dan imut. Membuat Freeya tersenyum dan menahan tawanya. Karena raut wajah juteknya begitu lucu. Gadis itu tak lain adalah Ratu.
“Kenapa tertawa? Apa di wajahku ada sesuatu?” ucap Ratu sembari meraba bagian hidung, mata,. dan mulutnya.
Freeya menggeleng. “Tidak-tidak ... aku tidak tertawa...”
“Cih, pembohong! Orang dewasa semua tukang bohong!” Ratu berdecih dan memutar bola matanya.
Freeya sempat terkesima dengan penuturan Ratu. Namun dia kembali tersenyum, mengerti dengan apa yang dirasakan Ratu saat ini.
“Kamu benar, orang dewasa memang kebanyakan tukang bohong. Tapi, dibalik kebohongan nya pasti ada alasan ... untuk memberikan yang terbaik,” tutur Freeya dengan lembut menghadapi Ratu.
“Hahaha, memangnya bisa mengambil hatimu? Jika aku ambil apa kamu masih bisa bernafas?” Freeya tertawa canggung untuk memecah suasana.
Ratu menatapnya dengan sinis sambil melipat tangan di depan dada. “Terserahlah! Aku mau tanya ... kamu itu ada hubungan apa dengan ayahku?”
Huft.
Freeya menghela nafasnya. Lagi-lagi pertanyaan seperti ini.
“Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan ayahmu!” tegas Freeya.
“Bohong! Aku tidak suka dibohongi!” Ratu bersikeras tidak percaya.
__ADS_1
“Huh, untuk apa aku berbohong padamu ... itu tidak ada untungnya untuk ku.”
“Hmm, tetap saja aku tidak percaya!”
Freeya merasa sangat lelah. Untuk berdebat dengan Ratu, Freeya sudah tidak sanggup. Dia pun mengalah dan tidak menyahuti omongan Ratu yang terus mengomelinya. Tentang ayahnya yang tidak boleh di dekati oleh wanita mana pun.
Freeya menatap sekeliling disaat Ratu masih terus mengomel. Lalu melihat arloji ditangan kirinya. “Sudah jam 8 malam, tidak baik seorang gadis kecil diluar rumah malam-malam seperti ini ... bukan kah kamu besok masih harus sekolah?”
Ratu mendengus kesal dan memalingkan wajahnya dari Freeya.
“Kamu kemari bersama siapa?” tanya Freeya.
“Hmm, apa urusan mu?” jawab Ratu ketus.
Freeya menghela nafas dan menyibak rambutnya kebelakang, frustasi menghadapi Ratu. “Apa kamu sendirian? Dimana supir mu?”
“Aku naik taksi kemari! Kenapa memangnya, aku bisa pulang sendiri!”
“Astaga! Kamu ini bisa-bisanya keluar malam kayak gini sendirian! Naik taksi lagi, aku yakin ayahmu pasti akan marah jika mengetahui kamu seperti ini...”
“Kamu tahu apa tentang ayahku? Dia tidak akan marah padaku!”
“Sudahlah, terserah kamu saja! Cepat bersiap, aku akan mengantarmu pulang. Aku tidak mungkin membiarkan mu pulang sendirian...”
“Aku tidak mau!”
Freeya berdiri dan mengitari meja ke arah Ratu duduk. Kemudian meraih tangan gadis kecil itu. “Ayo!”
Ratu pun mengalah. Dia membiarkan Freeya membawanya dan mengantarnya pulang ke rumah. Dalam hatinya yang keras, Ratu juga merasa takut sebenarnya untuk pulang sendiri. Namun gengsi dan keras kepalanya, yang membuat dia memilih menolak tawaran Freeya.
__ADS_1
To be continued...