Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Season 2 : 17. Kediaman Adichandra.


__ADS_3

Daniel menatap ke arah Ratu yang duduk disebelah nya. Dengan tatapan dingin mengisyaratkan anak perempuan nya itu untuk turun dari mobil. Saat baru saja sampai di kediaman Adichandra.


“Turunlah, besok kita akan bicara lagi...”


Tanpa menjawab Ratu langsung turun dan masuk ke dalam rumah. Daniel mengusap wajahnya dan menghela nafas panjang. Kenapa anak-anaknya memiliki sifat dan sikap yang dingin.


“Turunlah,” ucapnya menoleh kebelakang.


Freeya tersentak dan dia menatap pria didepan nya itu dengan kebingungan. “Kenapa membawaku kesini?”


“Ingat kamu masih berhutang sebuah penjelasan padaku!” jawab Daniel ketus.


“Memangnya aku harus menjelaskan apa?” sahut Freeya kembali dengan ketus. “Aku tidak berbuat salah...”


“Kamu mau turun sendiri atau aku gendong seperti tadi?” Daniel mengancam dengan membuka pintu mobil dan hendak keluar.


“Iya!!! Aku akan turun ... tapi berjanjilah kamu tidak akan menggendongku seperti itu lagi!” ucap Freeya setengah berteriak.


Freeya pun segera turun dari mobil. Dari pada harus digendong lagi, pikirnya. Pria itu selalu saja membuatnya kesal.


Sedangkan di dalam mobil. Daniel tersenyum dengan sikap Freeya yang sangat lucu. Dia pun keluar dari mobil berdiri di samping wanita itu yang terlihat sedang menatap sekeliling rumahnya.


“Ayo masuk!” ajak Daniel seraya meraih tangan Freeya dan menggandengnya masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Belum sempat dia menolak, Daniel sudah menariknya. Mau tidak mau Freeya menurut saja pada pria yang selalu bersikap menyebalkan itu.


Lantai dua diruang kerjanya. Daniel meninggalkan Freeya yang tengah berdiri di balkon. Wanita itu nampak kacau dan bingung.


Selang beberapa saat. Daniel pun kembali dengan membawa segelas air putih ditangannya. Kemudian memberikannya kepada Freeya.


“Ahh, leganya ... pria-pria tadi membuat tenaga ku terkuras,” ucap Freeya sembari menghela nafasnya. Memikirkan bagaimana pria-pria tadi berusaha menculiknya. Membuat Freeya bergidik ngeri.


“Apa? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Freeya saat sadar Ditatap lekat oleh Daniel.


“Apa yang kalian berdua lakukan di kafetaria? Dan bagaimana bisa orang-orang tadi mengikuti kalian?”


“Ada apa dengan mu? Bicara dan bertanya satu-satu jangan sekaligus ... bagaimana aku menjawabnya coba?”


“Siapa yang cerewet?” Freeya tidak terima dikatai seperti itu.


“Kamu! Kamu adalah wanita paling cerewet yang pernah ku temui!”


“APA!!!”


“Sssstttt... diam lah! Kenapa kamu selalu saja berisik seperti ini! Jika kamu masih cerewet, aku akan menyumbat mulutmu itu lagi!”


Deg.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Freeya teringat akan kejadian sore tadi. Menyumbat mulutnya? Apakah dengan cara yang sama? Tanpa sadar Freeya memegangi bibirnya sambil menggeleng pelan.


Daniel tersenyum tipis. Dia tahu apa yang saat ini sedang Freeya pikirkan. “Jawablah pertanyaan ku tadi...”


“Hmm, jadi tadi waktu aku baru saja sampai di apartemen, sebuah nomor tidak dikenal menghubungiku, dan ternyata itu Ratu. Dia mengajak ku bertemu di kafetaria, kami berbincang sedikit lama, hingga tidak sadar hari sudah malam. Aku pun menawarkan diri untuk mengantarnya pulang...”


“Kenapa?” tanya Daniel menyela.


“Kenapa apa nya? Yah jelas lah, aku menawarinya untuk pulang... karena aku tidak mungkin membiarkan nya pulang sendiri naik taksi, bisa-bisa kamu pasti akan memarahinya.”


“Jika kamu sudah tahu seperti itu, kenapa tidak menelpon ku?”


Freeya menyipitkan matanya. “Apa ada yang salah dengan kepalamu, setelah perkelahian tadi? Menelpon mu? Gila yah, bagaimana caranya aku menelpon mu, memangnya kita pernah saling bertukar nomor ponsel? Yang benar saja!”


Daniel pun sadar dengan ucapan nya. Mereka memang belum pernah saling bertukar nomor telpon. “Apa yang kalian bicarakan tadi?”


Freeya diam dan memilih memalingkan wajahnya. Ragu untuk menjawab pertanyaan Daniel barusan. Apakah dia harus menjawab dengan jujur, bahwa Ratu menginterogasinya, atas hubungan diantara mereka berdua.


“Hmm, Ratu bertanya tentang hubungan kita berdua.”


“Lalu, kamu menjawab apa?” Berharap dengan sesuatu yang dia sendiri merasa aneh. Ada apa dengan nya sekarang ini? Memangnya jawaban apa yang ingin dia dengar dari mulut Freeya.


“Tentu saja aku bilang kita tidak memiliki hubungan apa-apa! Bahkan tidak mengenal dekat, untuk saling tahu kehidupan pribadi masing-masing...” Freeya memegangi dadanya yang berdegup kencang.

__ADS_1


“Akhh, Freeya apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa kamu berkata seperti itu?” batin Freeya.


__ADS_2