
Saat ini Freeya lagi-lagi duduk berhadapan dengan Ratu. Seperti halnya seseorang yang di interview, untuk masuk kerja. Tapi bedanya, kali ini ada Kaisar disebelahnya.
“Jadi? Apa kamu berniat untuk tinggal selamanya di rumah ini? Apa kamu tidak punya rumah?” cetus Ratu.
“Hah?” Freeya terkejut hingga tidak bisa berkata-kata.
Kaisar menatap tajam Ratu. “Apa kamu ada masalah dengan ayahku?” tanya Kaisar yang lebih bijaksana dari si Ratu.
Freeya tersenyum melihat tingkah keduanya. “Tidak, aku tidak ada masalah dengan nya. Kalian tidak perlu khawatir.”
“Siapa bilang kami khawatir? Jangan mengada-ngada,” sahut Ratu. “Ih, Kai apasih!”
Kaisar lagi-lagi menatapnya tajam. Membuat Ratu mengeluh dan berdecak kesal. “Apa mulutmu itu tidak bisa diam?” kata Kaisar.
“Sudah jangan berkelahi, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan juga pada kalian berdua.” Freeya menyela pertengkaran sepasang anak kembar itu.
Keduanya pun sama-sama memberi tatapan bertanya nya. Freeya tersenyum dan mulai menarik nafas untuk berbicara.
“Apa kalian berdua merindukan ibu kalian?” tanya Freeya.
Wajah canggung nya bisa ditangkap oleh Kaisar yang begitu sensitif. “Kami tidak pernah melihat ibu kami, dan untuk merindukan nya itu tidak mungkin.”
“Wah, anak ini kata-katanya sudah seperti si pria menyebalkan itu. Ini adalah versi kecilnya, ckck,” gumam Freeya tertawa pelan.
“Kenapa bertanya seperti itu?”
Freeya terdiam beberapa saat.
“Aku akan menikah dengan ayah kalian, dan menjadi ibu yang baik untuk kalian berdua....”
__ADS_1
krik krik krik.
Hening dan bahkan angin pun tidak ada. Sepasang anak kembar itu, menatap diam Freeya yang berusaha tersenyum.
“Kenapa? Kalian tidak setuju ya?” tanya Freeya.
“TIDAK!”
Freeya tersentak kaget saat keduanya berteriak bersamaan. “Tidak? Apa kalian benar-benar tidak setuju?”
“Ti-tidak, maksudku emm-”
“Maksud kami-”
Kaisar dan Ratu nampak gugup dengan wajah merah yang di tundukan. “Kamu bisa mencobanya, apakah kamu akan tahan dengan menjadi istri dari pria dingin tak berperasaan sepertinya.”
“Jadi? Apa kalian senang?”
“Kai? Apa kamu tidak apa-apa?” Freeya menepuk bahu Kaisar dan meletakkan punggung tangan nya di keningnya. “Apa kamu sakit?”
Kaisar tersentak kaget dan langsung beranjak dari sofa. Lalu dia berjalan cepat menuju pintu. “Makan malam sudah siap, jangan lupa untuk turun.”
“Ada apa dengan kedua anak itu? Sangat aneh,” gumam Freeya, mengedikkan bahunya tidak mengerti.
“Apa aku salah sudah memberitahu mereka? Bagaimana jika mereka akan mengamuk kepada ayah mereka? Hahhhh, Freeya kamu itu bodoh sekali. Pria menyebalkan itu pasti akan menatap ku lagi dengan tatapan anehnya....”
Freeya pun beranjak dari sofa dan segera menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya dan bersiap untuk makan malam di ruang makan, bersama dengan keluarga kecil itu.
***
__ADS_1
Didalam ruang kerja Daniel.
Asisten Dion terus menatap sang Tuan nya, yang tengah berjalan bolak-balik seperti setrikaan panas. Wajah bingung dan sesekali ia menghela nafas frustasi. Ingin rasanya Asisten Dion tertawa, namun ditahan nya.
“Dion!” panggil Daniel membuat Dion tersentak.
“Ada apa, Tuan?”
“Belikan aku sesuatu yang bisa membuat wanita berisik itu berhenti marah padaku!”
“Apa itu, Tuan?”
“Yah aku tidak tahu! Jika aku tahu, aku tidak akan meminta bantuan mu! Cari tahu apa yang bisa membuat seorang wanita luluh dan berhenti marah!”
“Tapi, Tuan-”
“Pergilah, jika tidak hari ini kamu akan bekerja sepanjang malam dan tidak boleh pulang!”
“Baik, Tuan! Saya akan melaksanakan perintah, anda.”
“Bagus, pergilah!”
Asisten Dion pun pergi. Mencarikan sesuatu yang diperintahkan oleh Daniel. Meskipun dia juga tidak tahu apa yang bisa membuat seseorang wanita berhenti dari marahnya.
Daniel berjalan melewati kamar Freeya menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti ketika berada di depan pintu kamar itu.
“Akh, sudahlah!”
Tangan nya mengambang ingin mengetuknya. Namun Daniel mengurungkan niatnya. Dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
__ADS_1
To be continued...