Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 125.


__ADS_3

Dengan hati yang hancur dan batin yang bergejolak. Bagas hanya diam di perjalanan pulang ke Apartemen nya. Di dalam pikiran nya semua pertanyaan demi pertanyaan yang selama ini dia simpan. Akhirnya terjawab juga satu persatu. Ia tidak pernah menyangka bahwa Nina, wanita yang selama ini dekat dengan nya. Memiliki hubungan dengan Naina masa lalunya.


Meskipun dari awal Bagas sudah pernah berpikir. Ada sesuatu dalam diri Nina yang mengingatkan nya pada Naina. Tapi ia tidak mau memikirkan nya. Ia lebih memilih berpikir positif di dunia ini banyak orang yang mirip. Terlebih pada nama ‘Nina’ dan ‘Naina’. Sekarang dia sadar mengapa Nina memakai nama yang mirip dengan Naina, itu karena besarnya rasa sayang nya kepada Naina yang sudah dia anggap sebagai kakak sendiri. Terlebih mata yang dia miliki juga adalah milik Naina.


“Tuan, apa anda baik-baik saja?” tanya Dian melirik Bagas di kaca sepion tengah mobil.


Bagas tersadar dari lamunan nya. “Aku baik-baik saja.”


“Dian,” panggil Bagas kepada Dian. Ia pun sontak melirik kembali ke kaca sepion tengah.


“Ya, Tuan?”


“Carikan penata rambut profesional dan antarkan ke apartemen ku,” perintahnya.


“Baik, Tuan.”


Mobil melaju menuju apartemen Bagas. Sesampai nya di apartemen. Bagas turun dari mobil berjalan masuk kedalam lobby. Dilihatnya ada sebuah toko roti di lobby apartemen tersebut. Bagas langsung kepikiran oleh Nina. Bagaimana jika dia membelikan sebuah roti untuk Nina. Meskipun di dalam lemari es nya banyak persediaan makanan tetap saja ia membeli sebuah roti disana. Lalu membawanya naik menuju unit nya.


Bagas mengedarkan pandangan nya. Mencari Nina yang tidak ada di ruangan santai depan tv. Ia menaruh roti yang dia beli diatas meja makan. Kemudian berjalan menuju kamarnya. Perlahan ia membuka pintu kamar mengintip lalu masuk.


“Dia tidur? Pada jam segini?”


Mata Bagas tertuju pada Nina yabg terlelap diatas ranjang. Wanita itu tidur meringkuk tanpa menggunakan selimut. Senyuman terukir diwajah Bagas dia berjalan menghampirinya.


Duduk di tepi ranjang. Memandangi wajah sendu Nina saat tertidur. Bagas menahan mata nya yang mulai memanas. Ia mengingat jelas foto pernikahan Gerry dan Naina tadi. Tidak percaya bahwa Naina mengkhianati nya. Dan sekarang mata mantan kekasihnya itu ada pada wanita yang saat ini tengah terlelap diatas ranjang nya.


“Ini adalah perasaan kecewa karena sekarang aku tahu bahwa kepergian nya, karena sebuah pengkhianatan. Aku sudah tidak mencintai dia lagi, itu sudah berlalu sangat lama. Sudah tidak ada cinta lagi untuk dia. Biarkan dia tenang disana...”


Tangan Bagas terulur mengusap lembut pipi Nina. Menyibak beberapa helai rambut yang menutupi wajah wanita itu. Lagi-lagi hari Bagas bagai teriris melihat wajah Nina yang penuh luka lebam dan rambutnya yang terpotong tidak teratur.


“Entah kenapa melihatmu seperti ini membuat hati ku sangat sakit,” lirihnya membelai kepala Nina.


Wanita itu menggeliat dalam tidur nya. Bagas tersenyum, wajah Nina nampak damai jika dia tertidur. Mengingat dia selalu menampakan wajah cemas dan tidak tenang saat sadar.

__ADS_1


“Apa aku sudah jatuh cinta pada si culun cerewet ini? Rasanya aku ingin terus menjaga dan melindunginya.” Bagas meraih tangan Nina dan menggenggam nya erat.


Merasa sesuatu menyentuh tangan nya. Nina pun mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia terkejut melihat Bagas yang sudah ada dihadapan nya. Sontak Nina langsung bangun dan duduk sedikit menjauh.


“Apa yang kau lakukan? Sejak kapan kau sudah pulang?”


Bagas terkekeh sambil geleng-geleng kepala. “Cih, dasar cerewet. Bertanya itu satu-satu jangan sekaligus, bagaimana caranya aku menjawab.”


“hmm, maksudku sejak kapan kau pulang?” Nina memalingkan wajahnya merasa aneh ketika Bagas menatap nya lekat.


“Baru saja.” Bagas beranjak dari tepi ranjang. “Apa kau sudah makan? Bagaimana kepala mu apa masih sakit?”


Nina menggeleng. “Aku tidak berselera makan ... tapi kepala ku sudah mendingan.”


“Keluar sana! Aku mau mandi.” Bagas berjalan ke arah kamar mandi sambil membuka satu persatu kancing kemeja nya. “Atau kau mau melihat nya?”


Mata Nina membulat dan wajahnya memerah. “Apa-apaan kau ini dadar mesum!”


Nina menggerutu seraya berjalan keluar dari kamar Bagas.


***


Nina duduk di sofa sambil memakan roti yang ada di atas meja makan. Dia pikir Bagas membelikan itu untuknya. Melihat roti sobek isi coklat yang menggiurkan. Nina tidak tahan untuk memakan nya.


Bagas yang baru keluar dari kamar terkekeh melihatnya. Dia pun menghampiri Nina dan duduk tepat disebelah wanita itu.


“Katanya tidak berselera makan? Tapi rotinya habis juga,” goda Bagas.


Nina menghentikan makan nya dia pun menaruh roti sobek yang tinggal setengah itu diatas meja. “Kalau begitu aku berhenti makan,” ucap Nina ketus.


Bagas semakin tergelak, tangan nya bergerak mengusap ujung bibir Nina. “Apa yang kau lakukan?”


“Ada sisa roti di bibir mu,” ucap Bagas.

__ADS_1


Nina menelan salivanya saat wajah Bagas begitu dekat dengan wajahnya. Apa lagi ketika bibirnya yang disentuh oleh tangan Bagas. Sangat lembut. bagas tersenyum.


“Kau harus makan yang banyak ... agar bisa menjemput Gio.”


Nina tertegun dia menatap mata Bagas. “Gio?”


Bagas mengangguk dan tersenyum. “Kau sudah tahu Gio ada dimana? Kalau begitu sekarang kita jemput Gio, Bagas plis.”


“Tidak sekarang, Mochi ... tapi besok, aku janji akan membawa mu menemui Gio,” bujuk Bagas seraya menarik Nina ke dalam dekapan nya. Ketika wajah Nina berubah murung dan sedih.


“Maafkan aku,” lirih Bagas.


Nina mengerutkan keningnya dia hendak menatap wajah Bagas. Namun pria itu malah semakin mengeratkan dekapan nya. Nina merasa aneh suara Bagas berubah lirih dan berat. Seperti sedang menahan tangis.


“Kenapa minta maaf? Ini bukan masalah mu, tapi ini masalah hidupku,” ucap Nina.


Bel berbunyi. Bagas dan Nina tersentak dan segera melepaskan pelukan. Bagas beranjak dan membukakan pintu.


“Tuan, ini dia penata rambut yang ada minta.”


Dian bersama seorang wanita masuk ke dalam unit Bagas. Wanita paruh baya yang masih terlihat muda dengan riasan make up natural serta gaya rambut modern.


“Mochi, kemari.” Bagas memanggil Nina.


Nina mengerinyit heran melihat Dian dengan seorang wanita. Dia pun beranjak, berdiri di sebelah Bagas.


“Tolong rapikan rambutnya, serapi dan secantik mungkin. Aku tidak mau ada kesalahan,” perintah Bagas sambil mengelus-elus kepala Nina.


Nina menatap Bagas yang begitu perhatian. Sikapnya yang lembut terkadang membuat Nina berdebar-debar. “Kenapa kau begitu baik padaku, Gas? Apa kau menyukaiku? Akh, bodoh sekali ... tidak mungkin dia punya perasaan dengan ku, aku ini siapa? Aku bukan siapa-siapa dibandingkan dengan keluarganya yang terhormat,” batin Nina.


“Baik, Tuan. Saya akan berusaha semampu saya,” jawab penata rambut itu.


Penata rambut itu pun mulai menyusun perkakas nya dengan dibantu oleh Dian. Ruangan santai itu kini menjadi tempat penata rambut.

__ADS_1


TBC.


Note : Maaf baru bisa update🙏🏻


__ADS_2