Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
SEASON 2 : 21. Pemandangan yang tidak biasa.


__ADS_3

Tok tok tok.


Daniel beranjak bangun dari tidurnya. Nampak kusut dan berantakan. Matanya sedikit merah dan melotot, juga lingkaran hitam yang menggantung dibawah matanya, menandakan jelas jika semalam di susah tidur.


Dia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Nampak Asisten Dion yang sudah rapi mengenakan jas kerja andalan nya. Berdiri tegak dan tersenyum lebar, dengan tablet di tangan nya.


“Selamat pagi, Tuan...”


Mengedip beberapa kali sambil mengucek mata, Daniel mengangguk dan membiarkan Asisten Dion masuk ke dalam kamarnya.


“Tuan, apa anda baik-baik saja?”


“Memangnya ada apa denganku?”


Dia duduk di sofa dengan elegan, memasang wajah seolah-olah dia tidak apa-apa. Asisten Dion nampak canggung dengan tatapan sang tuan yang menajam seketika.


“Ma-maksud saya, Tuan seperti kurang tidur...”


Daniel memalingkan wajahnya tak menjawab. Tidak lama berselang Desi datang membawa nampan berisi dua gelas kopi, sepiring cemilan, dan menaruhnya di atas meja yang ada di depan Daniel.


“Bagaimana dengan Kai? Apa hari ini dia sudah bisa turun sekolah?” tanya Daniel pada Desi.


Desi menunduk hormat dan berkata : “Tuan muda Kaisar bilang jika dia mau istirahat sehari lagi di rumah.”


“Baiklah, urus kebutuhan nya. Jangan sampai dia telat makan dan pastikan dia juga minum obat.”

__ADS_1


“Baik, Tuan.”


Desi pun permisi untuk keluar.


“Bagaimana dengan wanita itu? Apa dia sudah bangun?” tanya nya pada Asisten Dion, dengan ragu dan wajah yang seolah-olah biasa saja.


“Maksud Tuan, apa Dokter Freeya?”


“Memangnya apa ada wanita lain di rumah ini selain dia?”


“Hehehe, maaf Tuan. Dokter Freeya sudah bangun sejak tadi dan sekarang dia sedang sarapan bersama dengan Nona Ratu...”


Seketika Daniel menghentikan gerakan tangan nya yang hendak meraih gelas kopinya. Lalu menatap skeptis Asisten Dion yang berbicara dan gelas kopinya.


“Hah? Bilang apa, Tuan?” Asisten Dion nampak terkejut dan bingung.


Daniel tersadar dan jadi salah tingkah. “Tidak, maksud saya kenapa sarapan ku, kamu bawa kemari? Sebagai seorang ayah, tentu saja saya harus menemani Ratu sarapan.”


Daniel beranjak dari sofa dan berjalan cepat ke arah kamar mandi, dan dia menoleh kembali sebelum masuk.


“Keluarlah, bawa itu, aku sarapan di ruang makan saja...”


Brak.


Pintu kamar mandi tertutup. Asisten Dion terdiam merasa aneh dengan sikap sang tuan.

__ADS_1


“Ada apa dengan Tuan Daniel? Kenapa sekarang dia membahas soal sarapan seorang ayah? Bukan kah biasanya dia yang minta sarapannya di bawa ke kamar saja, biar tidak memakan waktu banyak?”


Asisten Dion bertanya-tanya di dalam hatinya. Dia pun segera membawa nampan sarapan itu keluar dari kamar Daniel.


Setelah beberapa menit. Daniel telah rapi dengan setelan kemeja kerjanya. Dia berdiri didepan cermin di ruang penyimpanan khusus jas-jas nya.


“Tidak-tidak... ini tidak cocok.”


“Yang ini warna nya terlalu mencolok.”


“Kenapa jas buruk seperti ini masih tersimpan disini? Buang!”


Beberapa jas berserakan dilantai. Daniel menggaruk tengkuk lehernya, menatap jas-jas yang tergantung rapi di depan nya.


“Apa yang sedang kamu lakukan, Daniel? Jangan konyol, untuk apa aku susah payah mencari jas untuk kerja? Biasa juga tidak seperti ini, aku bisa gila-gila lama-lama...”


Tangan nya meraih sembarang jas dan membawanya keluar. Berjalan ke arah dapur. Dia melihat Freeya dan Ratu gadis kecilnya, sedang sarapan bersama. Meskipun hening tanpa ada yang berbicara, namun pemandangan itu membuat hati Daniel terenyuh. Tidak pernah ada pemandangan seperti itu sebelumnya.


“Tidak-tidak!”


Seketika tersadar dia menggelengkan kepalanya. Membuang lamunan aneh yang baru saja dia pikirkan.


“Sepertinya akibat kurang tidur semalam, membuatku berhalusinasi gila!”


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2