Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 138.


__ADS_3

...Warning❗❗...


...Di episode ini mungkin ada sedikit adegan panas yah, untuk yang gak suka bisa langsung di skip aja. Sebenarnya Author juga kurang bisa sih menggambarkan adegan panas, jadi tolong dibawa enjoy aja pas baca😁🙏🏻...


...***...


Bagas menatap wajah Nina yang sangat dekat dengan wajahnya. Kemudian dia mencium bibir Nina dengan sangat lembut. Awalnya Nina tidak membalas karena terkejut. Tapi lama kelamaan dia membalasnya. Bagas meraih tangan Nina dan mengarahkan ke dadanya.


Nina terkejut dia menghentikan ciuman mereka. Lalu menatap Bagas. “Kau-”


“Jangan takut, kau juga akan terbiasa dengan ini...” ucap Bagas tersenyum. Lalu kembali mencium bibir sang istri.


Entah kenapa Nina merasa seperti ada sesuatu yang terbakar di dalam dirinya. Rasa geli yang tanpa sadar membuat tangan nya bergerak meraba-raba roti-roti empuk milik sang suami.


Bagas menghentikan ciuman mereka. Dia tersenyum miring menatap wajah Nina yang sudah memerah. Nina malu dan dia menunduk.


“Kau sudah menyentuh tubuhku,” ucap Bagas.


Nina terkejut dia sontak mendongak menatap wajah Bagas. Mata pria itu sudah sayu dan nafasnya begitu tidak stabil.


“Sekarang giliran ku untuk menyentuhmu? Apa kau mengizinkan nya?” tanya Bagas pelan dia mendekat dan mencium cupling milik sang istri.


Nina menggeliat merasa geli. Dia meraih wajah Bagas dengan kedua tangan nya. “Kau boleh menyentuhnya, mulai hari ini aku adalah milikmu seutuhnya, Bagas,” bisik Nina di telinga Bagas.


Pria itu tersenyum lebar. Tanpa ragu-ragu dia perlahan menyentuh leher jenjang Nina sambil menciumi setiap lekuknya. Lalu tangan itu perlahan turun meraba bongkahan kembar tersebut saat bibirnya sibuk membuat tanda kepemilikan di leher jenjang tersebut.


“Akh...” Tanpa sadar Nina mengeluarkan suaranya pelan.


Bagas tersenyum dan semakin bersemangat. Dia menatap sang istri yang menutup matanya sambil menggigit kuku tangan. Suara yang terucap dari bibir Nina seakan terdengar merdu ditelinga nya.


Bagas menarik tali yang mengikat lingerie itu. Hingga terbuka dari tubuh Nina. Kemudian dia mulai bermain dengan lembut di bongkahan kembar itu. Membuat Nina semakin menggelinjang dan mengeluarkan suara nya.


Setelah puas bermain di sana, Bagas kembali mencium bibir Nina dengan lembut. Sambil tangan nya yang terus bergerak turun menuju tempat sensitif milik Nina. Lembut dan mulus seperti kapas. Kulit tubuh Nina yang bersih, seakan membuat Bagas tidak bisa mengendalikan dirinya. Hasratnya sudah menggebu-gebu di dalam dirinya.


“Akhh, Bagas...” Nina mencengkram bahu Bagas ketika suaminya itu menyentuh daerah sensitifnya. Dia menatap wajah sang suami yang juga menatapnya.


“Aku tidak akan kasar, Mochi,” ucap Bagas dengan suara serak. “Apa kau juga mau menyentuh nya?” lanjutnya.


Nina menatap Bagas dan bagian tubuh suaminya itu yang masih tertutup handuk. “Apa tidak apa-apa?” tanya nya polos.


Bagas terkekeh pelan. “Tentu saja bodoh! Dia sudah menjadi milikmu,” ucap Bagas.

__ADS_1


Dia menuntun tangan Nina untuk membuka handuk yang melilit di pinggang nya. Tangan Nina bergetar perlahan dia menyentuh milik Bagas yang sudah mengeras sejak tadi.


“Akhh...” Nina mendesah dan tanpa sadar menggenggam sedikit kuat milik Bagas. Ketika pria itu memainkan jari di daerah miliknya.


Bagas terkejut, matanya membulat. Namun rasanya sungguh nikmat. Ketika jemari lentik mik istrinya menyentuh miliknya.


Bagas mengusap bahu Nina dengan lembut. Lalu menuntun nya untuk berbaring diatas tempat tidur. Nina menatap sang suami yang berada diatasnya. Wajah tampan dan tubuh yang proporsional. Di begitu gagah dan menawan.


“Ini adalah pertama kalinya untuk kita berdua, aku akan melakukan nya perlahan, Mochi.”


Nina mengangguk dan tersenyum kikuk dengan wajah merah. Perlahan Bagas mulai menuntun miliknya. Lalu memposisikan tubuhnya dengan benar.


“Akhh, Bagas...” ringis Nina pelan saat sesuatu menerobos masuk ke dalam miliknya. Rasanya begitu sakit seperti merobek sesuatu.


Bagas mengusap peluh dikening Nina dan air mata yang sempat keluar dari sudut mata sang istri. “Maaf sayang, aku akan pelan-pelan ... mungkin akan sedikit sakit,” ucap Bagas yang dijawab anggukkan oleh Nina.


Perlahan Bagas mulai menanamkan miliknya semakin dalam. Lalu mengeluarkan nya. Alhasil cairan hangat berwarna merah keluar dari milik sang istri. Bagas mendekat dan mencium kening Nina. “Aku sangat mencintaimu, Mochi.”


“Aku juga mencintaimu, Bagas.”


Bagas pun mulai beraksi. Dia kembali memposisikan tubuhnya sejajar diatas Nina. Kemudian memasukkan kembali miliknya. Dan memainkan nya dengan tempo pelan dan semakin cepat mengguncang tubuh sang istri.


Nina mencengkram kuat bahu Bagas. Merasakan sakit yang lama kelamaan berubah menjadi nikmat. Yang belum pernah dia rasakan. Dan hanya Bagas lah yang punya hak untuk membuatnya merasakan kenikmatan tersebut.


Desahan- desahan yang keluar dari mulut mereka berdua bersautan dengan merdu. Bagas merasa hampir mencapai puncak. Begitu pun juga dengan Nina, desahan nya semakin nyaring. Dia mencengkram seprai dengan kuat.


“Akhh...”


Bagas menenggelamkan miliknya semakin dalam dan memenuhi milik sang istri. Keduanya terkulai lemas berbaring terlentang di atas ranjang. Bagas menatap sang istri yang menutup mata dan bernafas dengan terengah-engah.


Dia pun mendekat dan langsung memeluk Nina dan mengecup penuh kasih kening nya. “Aku mencintaimu, Mochi.”


“Aku juga mencintaimu, Bagas.” Nina melingkarkan tangan nya memeluk Bagas dan semakin menenggelamkan wajahnya. Di dada bidang pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Setengah jam mereka berdiam diri di posisi saling berpelukan. Bagas mengusap lembut kepala Nina. “Mochi,” panggil nya pelan.


“Mau mandi bersama?” tanya nya.


“Hmm, baiklah.” Nina mengangguk dan hendak bangun.


“Awwh,” ringisnya saat merasakan sakit di bagian intimnya.

__ADS_1


Bagas terkekeh. “Sini... biar ku bantu.”


Bagas menggendong tubuh Nina ke arah kamar mandi. Wajah Nina memerah. “Kau sih, terlalu bersemangat...”


Bagas kembali terkekeh dan tersenyum. “Tentu saja aku bersemangat ... orang liat yang bening beginian.”


“Issh, kau ini...” Nina mengerucutkan bibirnya dan memukul pelan dada Bagas.


Bagas mengecup bibir tersebut. Membuat Nina terkejut dia menatap wajah Bagas dengan lekat. Lalu mendekat dan balik mengecup bibir pria itu. Bagas tersenyum mendapat balasan tersebut.


“Mau mandi di Bathtub atau disini?” tanya Bagas.


Nina menatap bak mandi dan shower secara bergantian. “Disini saja,” ucapnya turun dari gendongan Bagas perlahan. Dia memilih mandi diguyuran air shower hangat.


“Baiklah...” Bagas menyalakan air shower yang hangat.


Mengguyur tubuh polos mereka berdua. Bagas membalikan tubuh Nina membelakangi dirinya. Lalu dia mulai menggosok rambut sang istri dengan lembut. Dan juga punggung belakangnya yang mulus.


“Mochi,” panggil Bagas lirih.


“Sepertinya ada yang bangun lagi,” ucapnya lagi pelan.


Nina mengerutkan dahinya. Dia menoleh ke belakang, melihat wajah sang suami yang mulai berubah. Dengan tatapan sayu menatap dirinya.


Tanpa menunggu lama Bagas mencium bibir Nina. Tangan nya juga bermain-main kembali di bongkahan kembar sang istri.


“Bagas, aku lelah...” Nina melepaskan ciuman mereka.


“Sebentar saja, Mochi sayang...”


Bagas langsung menuntun tubuh Nina untuk membungkuk dan berpegangan di keran shower. Lalu dia mulai memasukkan miliknya. Dibawah guyuran air shower, Bagas kembali mengguncang tubuh wanita yang sangat dia cintai itu. Rasanya tak ada rasa bosan, dia ingin terus melakukan nya bersama Nina. Tubuh Nina sudah menjadi candu terbaru untuk nya.


Dan Nina juga tidak bisa menolak kemauan suaminya. Dia juga merasakan hal yang sama. Sentuhan dan kenikmatan yang Bagas berikan padanya. Seakan membuatnya tidak bisa menolak, dan terus terbuai ingin merasakan nya terus menerus.


“Aku berharap bisa terus bersama mu, Bagas. Sampai maut yang memisahkan kita berdua...” batin Nina.


“Aku sangat mencintaimu, Mochi. Hanya kau wanita yang ada di dalam hatiku, sampai aku mati...” batin Bagas.


TBC.


Note : Author mau minta maaf sebelumnya, kalau misalkan cerita ini terlalu membosankan dan juga lama banget tamatnya🙏🏻☺️.

__ADS_1


Author sudah usahakan untuk membuat karya yang bisa membuat para readers senang, terima kasih untuk dukungan kalian selama ini... Author sangat bersyukur punya readers-readers yang baik hati seperti kalian semua🤗☺️


__ADS_2