Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 124.


__ADS_3

Di kantor. Bagas duduk di kursi kerjanya dengan menatap kosong ke arah layar laptop nya. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja. Memikirkan tentang Nina dan juga Gerry. Bagaimana bisa kebetulan seperti ini.


Gerry pria brengsek yang dia cari selama ini. Ternyata sangat dekat oleh Nina. Wanita berkaca mata yang dulu sempat mengisi harinya waktu Agil dan Beby belum menikah. Bagas dan Nina sering kali dipertemukan, hingga mereka tanpa sadar menjadi dekat.


“Brengsek kau, Gerry!”


Bagas meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Menghubungi Agil dengan cepat. Tak menunggu lama Agil mengangkat panggilan nya.


“Aku sudah menemukan dimana Gerry,” ucap Bagas dengan tangan mengepal geram mengingat nama Gerry.


“Apa kau yakin? Dari mana kau tahu?”


“Ceritanya panjang, tapi yang jelas aku sudah tau mengenai dirinya. Ternyata Gerry sudah memiliki anak berusia 4 tahun.”


“Benarkah?”


“Ya, dan sore ini aku akan pergi kerumahnya. Dian sudah mendapatkan informasi tempat tinggal nya.”


“Hati-hati, aku yakin Gerry sangat licik. Sama seperti malam itu, aku tidak sabar ingin bertemu dan bertanya padanya. Tentang malam itu dengan siapa dia berkomplot.”


“Kau benar, aku tidak akan pernah memaafkan nya. Karena sudah membodohi adik ku dan juga si culun-”


“Si culun? Apa yang kau maksud adalah Nina? Kau bertemu juga dengan nya?”


“Hmm, cerita nya panjang. Kau itu kepo sekali, sudah dulu aku sibuk!”


Bagas segera memutuskan panggilan nya. Entah kenapa dia menjadi sangat gugup. Ketika Agil mulai menanyai nya soal Nina. Bagas memegangi dadanya yang berdegup kencang.


“Apa-apaan ini, kenapa aku jadi deg-degan sih? Norak sekali,” gerutu Bagas.


🌺🌺🌺


Sore harinya.


Dian masuk kedalam ruangan Bagas. Dia mendapati Bagas yang sudah bersiap untuk segera pulang. Mengenai Bagas yang mencari Gerry, Dian sudah tahu semua. Karena Bagas sudah menceritakan nya.


Dian merasa senang, karena Bos baru nya itu sudah mulai mempercayai dirinya. Karena itu Dian ingin memperlihatkan kualitas kerja yang dia miliki. Dia tidak mau Bagas mengeluh akan kerjaan nya. Dalam beberapa jam saja. Dian membuktikan bahwa dirinya layak dijadikan seorang asisten pribadi. Ia berhasil mendapatkan informasi lengkap mengenai Gerry.


“Tuan, saya sudah menyiapkan mobil.”

__ADS_1


“Terima kasih, Dian.”


Bagas pun pergi keluar dari kantornya di susul oleh Dian di belakang nya. Dian mengendarai mobil menuju tempat yang dituju oleh mereka, yaitu tempat tinggal Gerry.


“Aku tidak sabar ingin mencekik leher mu, Gerry,” gumam Bagas geram. Menatap keluar jendela.


Beberapa menit kemudian. Sampailah mereka di sebuah rumah mewah berwarna biru langit. Di depan gerbang rumah tersebut terdapat post satpam yang kosong tidak ada orang.


“Tuan, sebaiknya saya yang turun duluan untuk mengecek rumah tersebut. Saya rasa rumah itu kosong dan tidak berpenghuni,” ucap Dian. Ketika Bagas hendak keluar dari mobil.


“Tidak apa-apa, Dian. Kita turun bersama saja,” sahut Bagas.


Bagas pun turun dari mobil disusul oleh Dian. Perlahan dia masuk kedalam pekarangan rumah tersebut. Nampak usam dan lapuk. Bagas mengetuk pintu rumah itu beberapa kali.


“Maaf, siapa yah?” Seorang wanita keluar hanya dengan menggunakan piyama mandi. Nampak bahwa dia barus saja selesai mandi, terlihat dari rambutnya yang masih basah.


“Apa benar ini rumah, Gerry Battista?” tanya Bagas.


“Benar, ini memang rumah Gerry. Tapi kau siapa?”


“Apa Gerry nya ada?” Bagas mempertajam tatapan nya. Membuat wanita yang berdiri dihadapan nya itu seketika menjadi gugup.


Bagas pun langsung menyelonong masuk. Wanita itu berdecak kesal, melihat tingkah Bagas. Dia pun mencoba untuk menahan Bagas agar tidak masuk lebih dalam.


“Dian,” panggil Bagas.


Dian mengerti yang dimaksud Bagas, dia pun memegangi wanita tersebut. Agar tidak menggangu rencana Bagas.


“Gerry, kemari kau! Lihatlah ada orang tidak waras yang menerobos masuk rumah mu!” teriak wanita itu. Menggema di ruangan besar itu.


Mata Bagas tertuju pada salah satu pintu yang terbuka. Nampak lah wajah brengsek Gerry yang sangat dibenci oleh Bagas.


Senyuman miring, serta rasa gemas tergambar jelas diwajah Bagas. Saat itu Gerry sedang memakai piyama mandi yang sama dengan wanita tadi. Tidak berpikir lama, Bagas sudah bisa menerka apa yang sedang dilakukan mereka.


“Bajingan menjijikan,” ucap Bagas.


Gerry mengerutkan dahinya menatap Bagas dengan heran. Seraya berjalan semakin dekat. “Kau siapa? Kenapa membuat keributan, apakah kalian sadar sudah mengganggu ketenangan ku?”


Bugh.

__ADS_1


Kepalan tangan Bagas melayang mengenai rahang Gerry. Saking kuatnya ia sampai terguling dilantai. “Apa yang kau lakukan?” teriak wanita tadi histeris.


“Brengsek!” Gerry memegangi rahang nya yang terasa ngilu. Dia pun bangun dan hendak memukul Bagas.


Namun sayangnya Bagas menghindar dan menendang perut Gerry dengan cepat. Pria itu kembali tersungkur dilantai.


“Kau bilang apa tadi? Mengganggu ketenangan? Hahaha, bajingan seperti mu tidak pantas hidup tenang.” Bagas tertawa menyeramkan. Menatap Bagas dengan ganas seakan ingin mencabik-cabik wajahnya saat itu juga.


“Kau sudah gila? Apa yang kau inginkan dariku? Sebenarnya kau ini siapa?” Gerry merasakan sakit diperutnya. Ia semakin bingung sebenarnya siapa pria asing yang memukuli dirinya itu.


“Aku memang sudah gila, karena itu rasanya aku ingin menggantung mu hidup-hidup saat ini.” Bagas menyeringai licik.


Gerry menelan salivanya. Ancaman Bagas berhasil membuat nyalinya kendor. Gerry bangun dan berdiri bungkuk memegangi perutnya. Saat Bagas ingin memukul nya kembali, ia berteriak.


“Sebenarnya kau siapa?”


Kau tidak perlu tau siapa aku,” ucap Bagas gemas. Seraya mencengkram kuat leher Gerry.


Gerry menatap wajah Bagas dengan seksama. Lalu tiba-tiba saja dia tertawa. Bagas mengerutkan dahi dan melepaskan cengkraman nya.


“Apa yang kau tertawa kan? Dasar Brengsek!” Bagas kembali memukul wajah Gerry. Pria itu terhempas ke salah satu bufet.


“Kau pria bodoh itu ternyata!” teriak Gerry seraya membuka laci meja mengambil sesuatu. Bagas panik dia mengira Gerry hendak mengambil senjata tajam.


Langkah Bagas terhenti dan dia tertegun. Ketika Gerry melempar beberapa lembar foto ke wajah Bagas. Foto-foto itu berserakan dilantai. Bagas mengambil salah satu foto tersebut yang membuat mata nya membulat.


Dadanya berdegup kencang seperti ada sesuatu yang akan meledak. “Naina,” lirihnya.


Gerry tertawa menggelegar. Bagas mencengkram kembali leher Gerry, dan mengunci tubuh pria itu ke dinding.


“Apa maksud dari foto-foto ini? Kau mengambilnya secara diam-diam, apa hubungan mu dengan Naina? Dimana dia sekarang,” desak Bagas secara membabi buta kepada Gerry.


“Kau cari tahu saja sendiri, kau pikir kau pintar. akau hanya pria bodoh yang tidak tahu bahwa kau sudah dikhianati oleh kekasihmu sendiri,” ucap Gerry menepis tangan Bagas dari lehernya. Kemudian dia berjalan kearah sebuah bingkai foto besar yang ditutupi oleh sebuah tirai.


Mata Bagas terbelalak. Ketika Gerry menarik tirai itu. Memperlihatkan sebuah foto pernikahan. Dimana Gerry yang berdampingan bersama Naina. Bagas sangat terkejut sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Tangan nya bergetar dan bibirnya berkedut ingin bicara namun sulit. Lidahnya kelu tak berasa.


“Sekarang juga kalian keluar dari rumah ku. Atau aku akan memanggil keamanan,” usir Gerry.


Dian yang melihat bosnya begitu syok. Menuntun Bagas keluar dari rumah Gerry. Kembali ke dalam mobil. Dian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang keluar dari daerah tersebut.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2