Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 23.


__ADS_3

Aku duduk dengan memangku kaki di sofa ruang tamu Melanie. Menatap tangga yang menuju kamar tidurnya. Langkah kaki yang beradu, aroma minyak wangi yang begitu menyengat, serta suara cekikikan mereka berdua. Terdengar memuakkan di telingaku, hingga membuat perut ku terasa mual, ingin muntah.


Prok prok prok!


Suara tepuk tangan ku menggema, membuat mereka berdua terkesiap. Pandangan ku beralih menatap tangan Dewa yang melingkari pinggul ramping Melanie. Dengan senyuman nya yang manis, ia terlihat sangat bahagia. Aku pun menggelengkan kepala dan tertawa renyah.


"Beby!" seru keduanya terkejut melihatku.


"Aku membawakan kopi dan pancake kesukaan mu Mel, yuk sarapan bareng!" tunjuk ku pada cup kopi dan sekotak pancake yang aku beli tadi.


"Oh, ternyata ada Dewa juga! Sayang maaf! Aku tidak tahu kau ada disini, jika aku tahu, mungkin aku akan membelikan kopi kesukaan mu!" ucapku tersenyum menyeringai kepada mereka berdua.


"Ayo duduk! Jangan berdiri aja!" Aku menarik tangan Melanie dan menyuruhnya duduk di sofa. Melanie nampak kebingungan ia terus menatap ke arah Dewa.


Sedangkan Dewa, terlihat frustasi. Mengusap wajah nya dengan kasar lalu membalikkan tubuhnya, membelakangi ku.


"Sayang, kemari duduk! Kau boleh meminum kopi ku!"


Aku menarik tangan nya. Namun tiba-tiba saja, hal tidak terduga terjadi. Dia berbalik dan menepis tangan ku dengan kasar. Hingga aku tersungkur menabrak ujung sofa.

__ADS_1


Aku kembali berdiri dan tersenyum miring di hadapan nya. Saru tamparan mendarat di pipi nya. Dia menatapku tajam, dan tamparan berikut nya kembali mendarat di pipi sebelah nya lagi.


"BEBY!!!!" Dia berteriak sangat nyaring. Seketika Melanie langsung berdiri memeganginya. Aku pun tertawa dengan renyah nya.


"Kenapa? Sakit? Itu tidak sesakit hati ku saat ini!" tanya ku dengan melotot di depan wajah Dewa.


"Beby, apa yang kau lakukan? Kembalikan ponselku!" decak Melanie ketika aku merampas ponsel mahal yang baru dia beli seminggu yang lalu.


Dan...


Prang!


"Beby, kau sudah gila! Aku baru membelinya, kau tahu itu sangat mahal!" Melanie histeris dan langsung memunguti kepingan demi kepingan ponselnya.


"Aku tahu itu kok ... itu keluaran terbaru dan harganya sangat mahal! Tapi itu tidak bisa dibandingkan dengan betapa hancur hatiku saat ini! Melihat pacar dan sahabatku ..."


"... melakukan hal yang sangat menjijikkan di belakangku!"


"Kalian berdua adalah binatang! Bejat dan tidak tahu malu! Aku tidak akan memaafkan kalian berdua!"

__ADS_1


Aku merutukki mereka berdua. Sekarang setiap kali aku menatap wajah mereka. Rasanya aku mau muntah, betapa menjijikan nya diri mereka di mataku.


"Terlebih kau Melanie! Bisa-bisanya kau mengkhianati ku , aku ini sahabatmu!"


"Hei, Beby! Asal kau tahu, aku tidak pernah menganggap cewek bodoh, angkuh, dan suka pamer seperti mu sahabat! Aku sendiri begitu muak melihat wajahmu setiap hari!"


Deg!


Seperti di pukul di bagian dada. Sakitnya tidak diluar tapi di dalam. "Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu Mel! Selama ini persahabatan kita ..."


"Apa semua ini hanya sandiwara?"


Dia berdiri dihadapan ku dengan tersenyum miring. "Benar! Semuanya hanya sandiwara!"


"Tapi untuk apa?" tanya ku mengerinyit tidak mengerti mengapa dia bisa se-tega itu padaku.


"Untuk membuat mu hancur! Memberikan pelajaran kepada cewek sombong sepertimu!" Dia menunjuk dada ku dengan sedikit tekanan, membuat tubuhku termundur sedikit kebelakang.


"Bisa-bisanya kau serendah ini!" tukas ku menatap nya penuh jijik. Lalu aku beralih menatap wajah Dewa.

__ADS_1


"Dan kamu, Dewa! Kurang apa aku selama ini? Apakah karena aku menolak berhubungan intim dengan mu, hingga kamu bermain dengan Melanie di belakangku?" tanya ku padanya. Dia tak menjawab dan malah memalingkan wajahnya.


__ADS_2