Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
SEASON 2 : 11. Bukan seorang pelakor.


__ADS_3

Pukul delapan pagi. Freeya sudah berada di ruang kerja nya di Rumah Sakit Husada. Memeriksa beberapa berkas pasien bersama dengan Rani asisten perawatnya.


“Siapkan keperluan nya, kita akan mengunjungi pasien kamar VIP, Kaisar Zein Adichandra,” perintah Freeya.


“Baik, Dok,” jawab Rani sigap seraya menyiapkan hal-hal tersebut.


Tok tok tok!


Kaisar menoleh ke arah pintu saat terdengar suara ketukan. Masuklah seorang wanita cantik berpakaian rapi dengan jas putih dokter. Tak lain adalah Freeya.


Senyuman terulas di wajah cantiknya. Namun yang disenyumin malah memasang wajah datar. Freeya pun kembali mengulum senyuman nya tersebut.


“Jutek sekali,” batinnya.


“Bagaimana rasanya? Semalaman disini pasti membuat mu merasa nyaman ... terlebih cairan vitaminnya bisa membuat tubuhmu kembali bugar,” ucap Freeya lembut dan bersahabat.


Selagi Freeya mengajak Kaisar bicara. Rani sang perawat, melakukan tugasnya. Mengecek selang infus dan cairan nya. Lalu menyuntikan kembali obat yang diperlukan.


“Apa aku sudah boleh pulang hari ini?” tanya Kaisar.


“Tentu saja, jika kamu maunya seperti itu ... tapi kita tunggu sedikit lagi ya,” jawab Freeya.


Freeya sempat menangkap senyuman diwajah Kaisar walaupun hanya sekilas. Disitulah Freeya sadar bahwa anak laki-laki dihadapan nya itu. Benar-benar sangat ingin pulang. Lagi pula, memang tidak pernah ada seseorang yang betah tinggal dirumah sakit. Meskipun itu hanya beberapa jam. Menurut Freeya sikap Kaisar memang sangat wajar.


“Kamu sepertinya sangat senang akan pulang.”


“Tentu saja aku senang, disini aku malah tidak bisa tidur.”

__ADS_1


“Hahaha, benarkah? Ternyata perkiraan ku salah ... aku mengira bahwa kamu akan merasa nyaman disini, maafkan aku...” Freeya menutup mulutnya dan tertawa. Mencoba mencairkan suasana kaku di dekat Kaisar.


“Tidak apa-apa.” Tanpa sadar Kaisar tersenyum. Entah kenapa membuat hati Freeya merasa senang, sudah membuat anak laki-laki itu tersenyum.


“Hmm,” Freeya merasa canggung ingin menanyakan suatu hal.


“Ada apa?” tanya Kaisar dengan wajah bingung.


“Kenapa kamu sendirian saja?” tanya Freeya seraya memeriksa denyut nadi Kaisar.


“Aku tidak sendiri, ada asisten pribadi ayahku yang menemani .. tapi sekarang dia sedang keluar,” jawab Kaisar.


“Benarkah? Kenapa tidak ayahmu atau ibumu saja? Kenapa harus asisten pribadi ayahmu yang menemani disini,” tanya Freeya kembali, tanpa sadar malah ingin tahu.


“Hmm, kamu banyak tanya sekali,” celetuk Kaisar menatap datar Freeya.


“Hehehe, maafkan aku...” ucapnya canggung.


“Aku hanya bercanda...”


Seketika Freeya mengerinyit tidak mengerti. Menatap raut wajah Kaisar yang mengatakan bahwa dia bercanda. Tapi tidak menampakan wajah humor sama sekali. Malah menampakan wajah datar super dingin.


“Dia bercanda? Tapi wajahnya seperti itu?” batin Freeya.


“Ayahku harus menemani adik ku... sedangkan ibu? Aku tidak pernah memiliki seorang ibu, sejak kami lahir ibuku sudah tidak ada,” jelas Kaisar.


Gerakan Freeya terhenti. Dia menatap sendu wajah Kaisar yang sedih menatap ke arah jendela. Entah kenapa Freeya juga merasakan kesedihan di mata Kaisar.

__ADS_1


Dia juga mulai teringat akan perkataan Daniel kemarin. Ternyata dia tidak bohong, bahwa dia memang tidak memiliki seorang istri. Jadi dia benar-benar bukan seorang pelakor.


Ada perasaan lega dalam hatinya. Namun ada perasaan bersalah juga karena sudah bersikap seperti kemarin kepada Daniel.


“Hei,” Kaisar melambai tangan di depan wajah Freeya, membuatnya tersentak kaget. “Jangan melihatku seperti itu.”


“Kenapa?” tanya Freeya bingung.


“Kata Ayah, kita sebagai seorang lelaki ... tidak boleh bersikap menyedihkan di depan seorang wanita. Dan tatapan mu saat ini membuatku merasa sebagai lelaki yang menyedihkan,” jelas Kaisar kembali.


Freeya benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Kaisar. Dia sudah seperti seorang lelaki dewasa saja.


Freeya geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Ternyata Ayahmu itu nyentrik sekali, mengajarkan anak seusia mu tentang hal seperti itu,” ucap nya.


“Apa kamu mengenal ayahku?”


“Hahaha, tidak- aku tidak mengenalnya ... kami baru saja bertemu saat dirumah sakit kemarin...”


Freeya tiba-tiba menjadi gugup dan salah tingkah. Jujur dia tidak mau jika Kaisar yang masih anak-anak harus tahu bahwa pertemuannya dan sang ayah sungguh miris. Dan berakhir diatas ranjang.


“Aneh sekali, kamu berbicara seolah-olah kamu mengenal dekat ayahku,” ucap Kaisar menatap Freeya dengan tatapan menyelidik.


“Tidak, tentu saja tidak ... aku tidak mengenal ayahmu! Sudah selesai, kalau begitu kami pergi. Kaisar sekarang kamu istirahat yah, jika sudah boleh pulang perawat akan mengabari ...”


Freeya menarik Rani keluar dari ruangan VIP tersebut. Diluar ruangan dia menghela nafas lega. Hampir saja, pikirnya. Jika tidak Kaisar akan terus bertanya. Anak itu memiliki aura yang sama dengan ayahnya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2