
Sore itu disebuah cafetaria, nampak sangat padat, hampir seluruh meja terisi oleh pengunjung. Di bagian sudut ada seorang wanita yang tengah duduk sambil memainkan laptopnya. Sambil meminum segelas jus dan memakan brownis coklat pesanan nya.
“Huft, hari ini aku tidak bisa fokus kerja karena kejadian semalam, tubuhku terasa begitu ngilu,” keluh Freeya sambil menghela nafas.
Dia merenggang kan tangan nya keatas dan menggeliat. Agar otot-otot nya tidak lagi ngilu dan tegang. Setelah itu dia kembali mengetik sesuatu di laptop miliknya.
Namun, Tiba-tiba saja seorang pria datang menghampirinya. Sontak dia terkejut dan langsung mendongak menatap wajah pria yang tengah berdiri dihadapan nya.
“Dokter Dion,” seru Freeya terkejut dan seketika berdiri.
Dokter Dion meraih tangan Freeya dan hendak menariknya. “Freeya, ada yang ingin ku bicarakan padamu.”
“Dokter Dion, ada apa dengan mu? Lepaskan tanganku! Orang-orang sedang menatap kita berdua!”
Freeya melotot dan mencoba melepaskan tangan besar Dokter Dion yang melingkar ditangan nya. Rasa nya sungguh risih, apalagi saat pandangan mata semua orang tertuju pada mereka berdua.
“Aku tidak perduli Freeya. Kamu harus ikut denganku!” ucap Dokter Dion dengan paksa menarik Freeya.
“Apa-apaan sih! Lepaskan aku, kamu tidak berhak memperlakukan aku seperti ini!” pekik Freeya kesal.
“Aku berhak melakukan ini! Karena kamu adalah tunangan ku!”
Suasana semakin riuh, hampir seluruh pengunjung memperhatikan mereka berdua. Bahkan saat ini ada yang sedang merekamnya. Freeya mendengus kesal dan mendorong kuat dada Dokter Dion hingga termundur beberapa langkah kebelakang.
__ADS_1
“Berhenti membuatku malu! Tunangan apa maksudmu? Aku tidak pernah menyetujui pertunangan apapun! Jangan Mengada-ngada!”
Freeya membalikkan tubuhnya dan hendak merapikan laptop dan alat kerjanya di atas meja cafetaria. Namun lagi-lagi dengan kasarnya Dokter Dion menarik Freeya dengan paksa. Hingga dia terhuyung dan terjatuh di dalam pelukan Dokter Dion.
Akan tetapi, sebelum itu terjadi. Sebuah tangan besar dan lembut meraih pinggulnya. Dan dia tidak jadi jatuh kedalam pelukan Dokter Dion.
Freeya menabrak dada kekar Daniel yang di balut dengan kemeja putih. Freeya sangat terkejut dia terdiam menatap wajah Daniel yang mengeras dan menatap tajam Dokter Dion. Sejak kapan pria ini datang? Dia seperti hantu yang selalu saja muncul disaat yang tepat.
“Daniel,” lirihnya pelan karena begitu tidak percaya dengan yang matanya lihat.
“Kamu!” seru Dokter Dion dengan alis yang bertautan, melihat Daniel.
“Kenapa? Apa kamu terkejut melihatku?” ucap Daniel santai dengan seringaian.
“Tunangan apa? Aku tidak-” ucapan Freeya terhenti.
“Hahaha, lucu sekali. Bagaimana bisa istriku menjadi tunangan mu?” Daniel terkekeh geli dengan wajah sinisnya.
Mata Dokter Dion seketika terbelalak. Bibirnya bergetar ingin berkata, dia terus menatap Daniel dengan mata merahnya. Dia mencengkram kuat kerah kemeja Daniel.
Namun itu tidak membuat Daniel bergeming. Dia tetap tegak dengan wajah penghinaan nya kepada Dokter Dion.
“Kamu! Jangan sembarangan bicara! Freeya adalah calon istriku, dia tidak mungkin menikah dengan orang lain, karena-”
__ADS_1
“Karena apa? Karena kamu sudah membeli dirinya dengan investasi mu di perusahaan ayahnya?” sahut Daniel dengan penuh kegeraman dan menghempaskan tangan Dokter Dion dengan kuat. Ingin sekali rasanya dia mencekik pria brengsek didepan nya itu, namun dia mengurungkan niatnya itu. Karena itu hanya akan membuat reputasinya buruk depan publik.
Tapi tidak dengan Freeya yang langsung menampar wajah Dokter Dion dengan telak, hingga meninggalkan memar merah.
“Kamu benar-benar bajingan! Apa kamu pikir dengan trik yang kamu lakukan ini akan membuatku menerima mu? Cih, itu tidak akan terjadi!” ucap Freeya dengan penuh tekanan dan tatapan kebencian. Kemudian dia pergi meninggalkan Cafetaria.
Dokter Dion yang sadar, sontak langsung ingin mengejar Freeya. Namun lagi-lagi ditahan oleh Daniel. Dia menepis tangan Daniel dengan kasar.
Daniel tersenyum miring lalu mendekat pada Dokter Dion.
“Kamu tidak pantas disebut seorang pria, karena sifat pengecut dan menjijikkan mu itu,” bisik Daniel dan lalu pergi.
Dokter Dion merasa begitu kesal dia mengepalkan tangan dan menendang kursi yang ada di dekatnya. Mengamuk seperti orang gila. Hingga menjadi tontonan banyak orang.
Sedangkan diluar cafetaria. Daniel mendekati Freeya yang duduk di salah satu bangku yang ada di bawah pohon. Dia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang kini berlinangan air mata. Karena begitu kesal tadi, Freeya sampai meninggalkan barang-barangnya di dalam. Bahkan blazer miliknya juga tertinggal.
Daniel pun menutupi tubuh Freeya menggunakan jas miliknya. Wanita itu menengadah menatap dirinya. Mata yang sembab penuh air mata, hidung merah, dan bibir yang terus bergetar karena isakan. Tanpa sadar membuat Daniel langsung menarik wanita itu kedalam pelukan nya.
“Tenang lah, aku tidak akan membiarkan dia mengganggumu lagi...”
Tangan nya mengelus lembut kepala Freeya yang menyembunyikan wajah di dadanya. Daniel juga merasakan sesuatu melingkar memeluk tubuhnya. Dia pun membawa Freeya masuk kedalam mobilnya. Lalu memerintahkan Asisten Dion untuk mengambil barang-barang Freeya yang masih tertinggal di dalam cafetaria.
To be continued...
__ADS_1