Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 71.


__ADS_3

Diperjalanan, tiba-tiba saja Bagas menepikan mobilnya dan berhenti di depan sebuah restauran. Agil yang berada di mobil belakang bersama Beby, bertanya-tanya kenapa Bagas berhenti. Terlebih saat Bagas keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam restauran itu.


“Moe, kamu tunggu sini ... aku lihat Bagas dulu,” ucap Agil.


“Enggak mau, aku mau ikut,” decak Beby ingin ikut bersama Agil.


“Ahh, yasudah ayo,” ucap Agil seraya menghela nafas dan turun dari mobil. Sambil menggandeng Beby dia masuk ke dalam restauran. Sedangkan Nina masih menunggu di dalam mobil Bagas.


“Apa yang ayah lakukan disini?” ucap Bagas menghampiri seorang pria paruh baya yang duduk sendiri menunggu pesanan nya diantarkan.


Pria tersebut terkejut dan langsung berdiri. “Bagas,” ucapnya langsung memeluk Bagas.


Ialah Prayoga Pangestu, CEO dari perusahaan Pangestu Holding yang terkenal di kota Amsterdam. Prayoga adalah ayah kandung Bagas.


Singkat cerita, saat Prayoga dan Adinda ibunya Bagas bercerai enam belas tahun lalu. Bagas ikut bersama sang ayah tinggal dan bersekolah di Amsterdam. Hingga dia SMA Bagas bertemu dengan Agil dan Daniel yang juga bersekolah di Amsterdam. Tapi Bagas adalah senior yang usianya satu tahun lebih tua dari Agil dan Bagas.


Prayoga sendiri selalu berharap Bagas mau melanjutkan dirinya untuk mengelola perusahaan dan jadi pewaris keluarga Pangestu. Tapi sayangnya, hanya karena sebuah kesalahpahaman. Membuat Bagas pergi pulang ke indonesia dan menetap di kota J. Dan bekerja sebagai Asisten Pribadi Agil.

__ADS_1


“Bagas,” ucap Agil menepuk bahu Bagas.


Pandangan Agil mengedar menatap pria yang tengah berdiri dihadapan Bagas. “Apa kabar, Tuan Prayoga?”


“Baik, sudah lama sekali ya kita tidak bertemu,” ucap Prayoga seraya bersalaman dengan Agil.


“Kalau begitu aku tunggu diluar, Gas,” bisik Agil pada Bagas. Agil pun menepuk kembali bahu Bagas dan menggandeng Beby pergi dari sana.


Sedangkan disisi lain. Beby tak berhenti menatap pria paruh baya tersebut. Entah kenapa dia seperti pernah melihat orang tersebut. Ia mencoba mengingatnya, tapi benar-benar tidak ada memori yang teringat.


“Tunggu sebentar ... Bagas sedang ada urusan, aku dan Beby pergi duluan,” ucap Agil.


Nina hanya manggut-manggut mendengarkan perintah Agil. Seraya ia menatap ke arah restauran, penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Bagas.


Di dalam mobil nya Agil. Sambil memasang sabuk pengaman, Beby tidak berhenti melamun. Mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu dengan Prayoga ayahnya Bagas.


“Ada apa?” Agil mengusap pucuk kepala Beby.

__ADS_1


“Tidak ada apa-apa, hanya saja aku seperti pernah bertemu dengan nya,” ucap Beby.


Agil mengerinyit. “Tuan Prayoga, maksudmu?”


Beby mengangguk dan kembali melamun. Agil pun dengan iseng mengecup bibir Beby. Membuat Beby tersadar. Memegangi bibirnya yang habis di kecup.


“Kamu ini ... cari kesempatan dalam kesempitan,” ucap Beby tidak terima sudah dicium tiba-tiba.


“Hahaha,” Agil tergelak.


“Yasudah tidak usah terlalu dipikirkan, sebaiknya kencangkan sabuk pengaman mu,” lanjut Agil seraya menyalakan mesin mobil dan siap melaju.


Beby menuruti perkataan Agil, dia mengencangkan sabuk pengamannya. Agil pun melajukan mobilnya membelah jalanan Paris.


“Dimana yah aku pernah bertemu Tuan Prayoga itu? Kenapa rasanya sangat tidak asing, sama halnya waktu pertama kali bertemu Bagas,” batin Beby.


“Cepat atau lambat semuanya akan terbuka, Beby. Aku sudah berjanji akan mengembalikan kebahagiaan mu yang sempat hilang, bahkan aku akan menjamin bahwa kamu akan semakin bahagia bersama ku,” batin Agil.

__ADS_1


__ADS_2