Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
SEASON 2 : Ratu memiliki ibu yang cantik.


__ADS_3

Suasana diruang makan menjadi lebih canggung. Saat kedatangan Daniel yang tentu saja membuat Ratu sang anak terkejut. Tentu saja, karena sangat jarang sang ayah bisa sarapan bersama dengan nya. Ia pun semakin curiga terhadap sang ayah dan dokter cantik yang kini duduk dihadapan nya.


Ia memicingkan mata dan menatap keduanya secara bergantian sambil mengunyah makanan nya. “Sangat aneh, aku yakin mereka memiliki hubungan...” batin nya.


Sedangkan Freeya mengedarkan pandangan nya menatap Ratu yang terus menatap ke arahnya. Dengan tenang Freeya tetap melanjutkan makan nya. Tidak memperdulikan Daniel yang tengah duduk di kursi makan utama di tengah-tengah mereka berdua.


Baru saja Freeya hendak membuka pintu mobilnya, tangan kecil ikut meraih tangan nya. Sontak ia sangat terkejut dan melepaskan tangan tersebut. Menoleh kearah si pemilik, yang tak lain adalah Ratu.


“Ratu?”


“Aku mau turun sekolah denganmu!”


“Tapi-”


“Kenapa? Apa kamu tidak mau mengantarku sekolah? Meskipun arah jalan yang kita tuju sama?”


Beradu mulut dengan gadis kecil di depan nya. Freeya memilih mengalah. Ia tersenyum dan mengangguk pelan. “Baiklah, jika itu mau mu...”


“RATU...”


Suara berat seorang pria terdengar dingin dan seolah memerintahkan Ratu berhenti. Saat ia hendak masuk ke dalam mobil Freeya. Sontak dia terhenti dan menoleh bersamaan dengan Freeya ke arah asal suara.


“Ayah?”


“Apa yang kamu lakukan? Naik ke mobil ayah, kita masih harus membicarakan soal semalam...”


Freeya terdiam ditempatnya menatap dengan mata bulat kearah Daniel. Wajah nya yang ditekuk dengan rahang yang mengeras, menjelaskan bahwa dirinya dalam keadaan marah.

__ADS_1


Sesaat mata mereka bertemu, saling beradu pandang. Daniel memicingkan matanya dan sedikit demi sedikit raut wajah marahnya mencair.


Freeya menggeleng pelan. “Dia hanya anak kecil, jangan memarahinya,” ucap Freeya pelan.


“Aku akan mengantarnya ke sekolah... kamu tidak perlu khawatir, pergilah bekerja...”


Freeya membukakan Ratu pintu dan mendorong pelan tubuh Ratu untuk masuk. Kemudian dia tersenyum pada Daniel yang masih berdiri tegak di tempatnya. Memandang wanita yang tanpa sadar bisa membuat amarahnya mencair dalam seketika.


Mobil Freeya pun melaju dengan kecepatan sedang menuju sekolah Ratu. Ia menatap sesekali kearah gadis kecil itu yang hanya diam menatap lurus ke depan. Tidak ada wajah jutek dan hanya terlihat bibir yang bergetar serta hidung yang memerah. Gadis kecil itu sedang menahan tangisan nya.


Lampu lalulintas berubah merah. Freeya meraih tasnya yang dia taruh di kursi belakang. Meraba-raba isi di dalam nya.


“Ini untukmu, makanlah saat istirahat makan siang...”


Ia memberikan sebuah coklat dengan kotak berwarna ungu didepan wajah Ratu. Sedikit lama menatap coklat tersebut, Ratu pun mengambilnya dari tangan Freeya.


Freeya tersenyum ramah dan tangan nya bergerak membelai kepala Ratu. Rambut panjang gadis kecil itu mengingatkan dirinya sewaktu kecil.


“Diet?”


“Iya, karena itu aku tidak akan memakan coklat tersebut. Kamu bisa memakan nya untuk ku.”


Gadis kecil itu memalingkan wajahnya menatap ke depan. “Untuk apa kamu diet? Tubuhmu sudah bagus, tidak perlu diet pun, kamu terlihat cantik...”


Mendengar pujian singkat yang keluar dari mulut Ratu. Tanpa sadar membuat Freeya tidak bisa menahan senyuman. Lampu kembali hijau, dia kembali menjalankan mobilnya.


“Benarkah? Apa aku secantik itu?” ucap Freeya sambil mengendarai mobil.

__ADS_1


“Hmm,” sahut Ratu dingin.


“Kamu pintar sekali memuji seseorang....” Freeya kembali membelai kepala Ratu. “Kamu juga sangat cantik, pasti banyak anak-anak yang mau berteman denganmu...”


Suasana menjadi hening.


“Hmm, terima kasih untuk semalam... kamu sudah rela melawan para penjahat itu. Jika saja tadi malam aku tidak mengajak mu bertemu dan kau tidak mengantarku pulang, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi,” ucap Ratu.


“Tidak masalah, itu bukan salahmu atau pun salahku... kita tidak tahu apa motif para penjahat itu, bisa saja target mereka semalam adalah aku. Tapi untung saja ayahmu cepat datang, aku takut jika kamu sampai terluka,” sahut Freeya.


Ratu terdiam menatap wanita cantik yang tengah mengendarai mobil disebelahnya. Sentuhan tangan yang membelai kepalanya, tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam sekejap, dia merasa memiliki seorang ibu. Tapi dia tersadar, wanita ini bukanlah siapa-siapa.


“Sudah sampai,” ucap Freeya saat mobil berhenti di halaman sebuah sekolah.


“Terima kasih sudah mau mengantarku.” Ratu keluar dari mobil dan disusul oleh Freeya.


“Sama-sama, cantik. Jangan lupa makan siang dan coklatnya ya....” Freeya kembali tersenyum ramah dan membelai kepala Ratu.


Ratu menjadi gugup dia langsung berlari menuju lorong sekolah nya. Sesekali dia menoleh kebelakang melihat Freeya yang masih tersenyum dan melambai ke arahnya.


“Ratu, siapa dia? Apakah dia ibumu?”


“Ibunya Ratu sangat cantik...”


“Aku kira kamu tidak punya ibu.”


“Iya, kami kira kamu tidak punya ibu. Tapi ternyata ibu mu sangat cantik....”

__ADS_1


Beberapa teman perempuan nya yang berdiri di depan lorong. Menyerbunya dengan pertanyaan-pertanyaan. Ratu tak menjawab dia memilih pergi ke kelasnya. Bibirnya tertarik sedikit, membentuk sebuah senyuman.


To be continued...


__ADS_2