
Angin berhembus masuk melalui kaca jendela mobil yang dibuka. Menerbangkan rambut seorang wanita yang tengah menatap sendu dengan wajah sembab nya sehabis menangis.
Dia terus menatap ke arah luar jalanan, tanpa mau menatap ke arah pria yang tengah duduk disebelahnya. Suasana semakin canggung.
Sial!
Dia mengumpat dalam hati sambil mengusap air matanya, yang sudah lancang keluar dihadapan pria tersebut. Bahkan dia sampai menangis terisak dalam dekapannya. Jujur, Freeya tidak menginginkan seseorang melihat kesedihan nya. Karena hanya akan membuat dirinya lemah dimata orang-orang.
“Maaf, aku sudah membuat kemeja mu basah,” ucap Freeya canggung.
Pria berwajah dingin itu hanya diam, menatap layar ponselnya tanpa menjawab. Membuat Freeya sedikit kesal, dia pun kembali memalingkan wajahnya.
“Tinggal lah dirumah ku!”
Pria itu tiba-tiba berucap. Sontak Freeya langsung menoleh dan menatapnya dengan tidak percaya. “Tinggal rumahmu? Yang benar saja!”
Sepertinya ada yang salah dengan otak pria ini!
“Pria tadi... aku yakin dia tidak akan membiarkan mu pergi begitu saja. Bisa jadi dia akan mengirim seseorang untuk kembali menculik mu seperti kemarin malam,” jelas Daniel menatap dengan serius.
“Menculik ku? Apa maksudmu?”
Daniel mengangguk lalu memberikan ponselnya kepada Freeya. Wanita itu meraih nya dan melihat apa yang sedang ditampilkan di layar tersebut.
“Dokter Dion?” Matanya membulat tidak percaya. “Pria ini? Apakah sama dengan yang menyerang ku kemarin malam?”
__ADS_1
“Dia ketuanya dan ternyata pria inilah yang memerintahkan untuk menculik mu.” Jari telunjuk Daniel menunjuk tepat di wajah Dokter Dion.
Freeya bernafas dengan tidak teratur. Matanya berkaca-kaca dan wajahnya memerah. Dia mengepalkan tangan nya di depan dada dengan kuat, menahan amarah yang membakar dirinya.
Brengsek!
“Aku tidak percaya dia akan melakukan hal itu, dia sudah gila!” umpat Freeya.
“Dan yang lebih gila lagi adalah Tuan Arsyad, dia menjual anaknya sendiri demi investasi tak seberapa yang dijanjikan oleh pria itu,” sambung Daniel sambil terkekeh dan geleng-geleng kepala.
“Kamu benar, ayahku sungguh keterlaluan,” ucap Freeya geram mengingat sosok sang ayah.
“Karena itu tinggal lah di rumahku untuk sementara waktu.”
“Entahlah, aku tidak terbiasa untuk bergantung hidup dengan orang lain,” ucapnya lirih.
“Kamu tidak sedang bergantung, anggap saja kita impas. Kamu memerlukan sebuah tempat berlindung, dan sedangkan aku sedang mencari seorang dokter yang bisa mengontrol kesehatan anak-anakku sementara waktu.”
“Hmm, aku-”
“Terlalu banyak bicara, tinggal jawab iya saja susah.... aku tidak tahu bagaimana keluargamu bisa tahan hidup dengan kebisingan mu ini.”
Freeya mengerucutkan bibirnya menatap kesal pria yang kini tengah tertawa kecil sambil menatap layar ponselnya. Tiba-tiba saja sesuatu yang terasa seperti sebuah drum menggemparkan dadanya.
Senyuman yang indah di wajah tampan tersebut. Tidak bisa membuat Freeya memalingkan wajahnya. Dalam kesekian detik pria itu juga menatap kearahnya. Pandangan mereka bertemu.
__ADS_1
Ada apa denganku?
Dada keduanya sama-sama bergemuruh. Detik berikutnya mereka tersentak dan langsung memalingkan wajah merah masing-masing.
“Hmm....”
Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Asisten Dion yang duduk di balik kemudi, melirik kaca sepion tengah. Aneh sekali, kedua orang itu dalam mode hening. Sama-sama menatap ke arah luar jendela masing-masing.
“Aku-”
“Kamu-”
Freeya tersenyum sumbang begitu pun Daniel. “Baiklah aku menerima tawaran mu, tapi hanya untuk beberapa waktu saja. Sampai masalah ku dengan Dokter Dion selesai...”
“Kalau begitu pindah sekarang juga,” perintah Daniel.
“Sekarang?”
“Tidak, tahun depan! Yah, tentu saja sekarang!”
“Ish, biasa saja! Gak usah ketus juga.” Freeya memanyunkan bibirnya. Dasar jutek!
“Berisik!” sahut Daniel yang disambut senyuman kecut dari bibir Freeya. Pria yang menyebalkan!
To be continued....
__ADS_1