
“Jadi ... namamu Beby bukan?” ucap Nenek Diana. Seraya tangan nya terus mengambil beberapa jenis lauk dan menaruhnya di piring Beby.
Beby mengangguk dan tersenyum getir, melihat piringnya yang terisi penuh. “Bagaimana caraku untuk menghabiskan nya?” batin Beby.
Beby menelan salivanya dan menatap ke arah Agil yang duduk di seberang nya. Pria itu hanya tersenyum. “Habiskan semua itu, jika tidak dia akan marah,” ucap Agil pelan hampir tanpa bersuara.
“Dimana kamu tinggal?” tanya Nenek Diana.
“Emmm, aku-”
Beby melirik Agil, pria itu mengangguk. “Sekarang ini aku tinggal di kost-kostan dekat dengan kampus, Nek.” jawab Beby ragu-ragu.
Nenek Diana hanya manggut-manggut. “Lalu, dimana ibumu?”
“Bunda dan kedua adikku berada di Amsterdam.” Beby menyendok makanan nya ke dalam mulut. Tenggorokan nya terasa cekat, pertanyaan demi pertanyaan yang dilayangkan oleh Nenek Diana. Seakan rasanya lebih menakutkan dari soal-soal ujian waktu SMA.
“Oh, jadi orang tuamu tinggal di Amsterdam.”
Agil menghentikan makan nya, dia hendak menyahuti omongan neneknya. “Ayah Beby dan Bundanya-”
Sayangnya tiba-tiba Tante Laras datang bersama dengan Om Bima, dan menyela kata-kata Agil yang terhenti. “Mah, Pak Rendy sudah datang,” ucap Om Bima.
“Suruh dia menunggu diruang kerjaku,” kata Nenek Diana, kemudian menatap Agil dan Beby.
“Kalian lanjutkan sarapan nya ... Nenek sedang ada urusan.”
Agil dan Beby mengangguk bersamaan. Agil meraih tangan Beby yang berada diatas meja. Ia mengangguk dan tersenyum. “Kamu sudah melakukan yang terbaik, Beby.”
“Benarkah?”
“Ya, aku selalu melihatmu sebagai wanita yang luar biasa. Aku jatuh cinta pada kesederhanaan hatimu, jadilah diri sendiri ... itu yang terpenting.”
Tante Laras tersenyum sinis, dia menarik kursi tepat disebelah Beby. “Jadi ... apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”
Beby menoleh dan mengerinyit. “Aku tidak mengerti ... apa maksud Tante.”
“Hahaha,” Tante Laras tertawa.
“Oh ayolah ... jangan berpura-pura polos, aku sangat tahu pemikiran wanita seperti mu.” Tante Laras mencibir Beby dan menatap Beby dengan tatapan merendahkan.
“Tante Laras ... aku mohon hentikan. Aku sedang tidak ingin berdebat, disini ada Nenek,” ucap Agil.
Agil menggenggam kuat sendok ditangan nya, untuk meredam amarah nya.
__ADS_1
“Aku tidak sedang bicara padamu, aku bicara padanya.” Tante Laras menatap kembali Beby.
“Jadi ... ayo jawab pertanyaan ku tadi.”
“Maaf Tante ... tapi aku benar-benar tidak mengerti maksud dari pertanyaan itu.” Beby beranjak dari duduk nya.
“Aku akan membantumu menjawabnya. Pertama kalian tidak sengaja dipertemukan, lalu mulai berpacaran, melakukan hal-hal yang ... diluar batas, menikah, bercerai, dan mengambil keuntungan dari perceraian,” tutur Tante Laras.
Beby menatap Tante Laras dengan perasaan yang kalut. Bagaimana bisa seorang wanita berbicara seperti itu kepada wanita lain. Dia bukan tipe wanita seperti yang dikatakan Tante Laras.
“A-aku tidak-”
“Sebaiknya kita pergi dari sini,” ajak Agil yang langsung menarik Beby. Meninggalkan Tante Laras yang tersenyum puas sudah menghina Beby.
Di dalam mobil Beby hanya diam. Agil memperhatikan Beby yang termenung. Ada perasaan bersalah yang Agil rasakan. Karena perkataan Tante Laras, yang dia yakin sangat menyakiti hati Beby.
“Moe.” Agil mengusap kepala Beby.
“Hmm, ada apa?” Beby menoleh dan tersenyum.
“Kamu masih bisa tersenyum ... padahal aku bisa melihat air mata yang kamu tahan sedari tadi,” batin Agil.
“Maafkan perkataan Tante Laras padamu,” lirih Agil.
Beby kembali menatap keluar jendela. Seketika Agil menggerakkan setir kemudinya kepinggir jalan dan berhenti.
“Apa maksudmu, Moe? Kamu tahu yang dikatakan Tante Laras itu tidaklah benar,” kata Agil yang kini sudah membuka sabuk pengaman nya.
“Kamu salah.” Beby menoleh menatap Agil dengan lekat.
“Aku memang bukan wanita baik-baik ... kamu yang sangat tahu, Agil. Aku menjual keperawanan ku demi apa? Demi uang dan kebutuhan sosial ku. Tidak ada wanita yang seperti itu, jika memang dia wanita baik-baik. Dan juga asal kamu tahu, aku tidak akan munafik di depan mu ... aku memang sangat menyukai kekayaan, aku tidak bisa hidup sederhana, betapa sulitnya kehidupan ku yang sekarang. Hingga membuatku hampir gila-”
“Moe ... dengarkan aku.” Agil meraih pundak Beby.
“Jika kamu mau bertanya ... apakah aku memandang mu dari kekayaan atau memang memiliki perasaan tulus kepadamu, maka aku akan menjawab-”
“Iya memang benar keduanya, aku senang kamu adalah pewaris Keluarga Ganendra. Paling tidak hidupku tidak akan susah ... dan mengenai perasaan ku, aku memang memiliki perasaan padamu, tapi itu belum sepenuhnya utuh.”
“Jadi ... kalau kamu mau mundur sekarang, maka pergilah. Aku bukan wanita yabg tepat untuk mu.”
Beby mengalihkan pandangan nya, karena air matanya yang menetes. Sedangkan Agil hanya bisa tertegun mendengar perkataan Beby. Dia tidak bisa berkata-kata, karena itulah isi hati Beby yang sebenarnya.
“Aku tidak akan mundur,” kata Agil.
__ADS_1
Beby terkejut, dia kembali menatap Agil dengan tatapan tak mengerti. “Bodoh ... kamu sangat bodoh, Agil.”
“Aku memang bodoh karena sudah jatuh cinta padamu, Moe. Dan aku tidak akan melepaskan mu.”
“Kamu pasti akan menyesal sudah mencintaiku, Agil.”
“Never ... Itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan menyesal karena sudah mencintaimu,” ucap Agil sungguh-sungguh.
“Bagaimana jika nanti aku mengkhianatimu? Apalah kamu akan tetap mencintaiku?”
“Tergantung ... pengkhianatan apa yang kamu lakukan.” Agil menaikan kedua bahunya.
“Aku akan merebut semua hartamu, dan membuatmu tidak memiliki apapun,”ucap Beby.
Agil malah tersenyum dan geleng-geleng kepala. “Aku akan memberikan nya secara sukarela kepadamu, semuanya ... semua yang aku punya, bahkan nyawa ku sekalipun, yang terpenting kau ada di sampingku.”
Agil mendekat dan langsung mengecup kening Beby dengan penuh kasih sayang. Beby mendorong Agil kembali ke kursinya.
“Kamu salah Tuan Ragilio ... apa kamu berpikir jika kamu sudah tidak memiliki apapun, aku akan tetap berada di sampingmu?”
Agil mengangguk dan berkata, “Tentu saja, karena kamu mencintaiku.”
Beby memalingkan wajahnya. “Aku pasti akan meninggalkanmu,” lirih Beby.
“Kalau begitu kamu harus membunuhku terlebih dulu.”
“Apa maksudmu?”
“Bunuh aku jika kamu mau pergi ... karena aku tahu hidupku tidak akan ada warnanya lagi, jika tidak ada dirimu,” tutur Agil.
Beby tertegun dengan perkataan Agil. Pria dihadapan nya itu, apakah sangat dalam cintanya. Hingga dengan mudahnya, memberikan semua yang dia punya untuk Beby.
“Maafkan aku,” lirih Beby.
Ia langsung menghambur memeluk lelaki yang ada dihadapan nya itu. Bukan hanya perkataan dan sikap nya yang manis. Dia juga memiliki perasaan yang begitu tulus. Beby memeluk Agil dengan begitu erat.
“Aku tidak bermaksud berkata sekasar dan sejahat itu padamu, aku hanya tidak ingin kamu salah memilihku ... dengan ketulusan mu itu, apakah aku sanggup untuk mengkhianati mu? Hiks hiks,” ucap Beby terisak-isak.
Agil melingkarkan tangan nya di tubuh Beby, menariknya semakin dekat. Agil mencium pundak dan mengendus tengkuk leher wanita yang kini sangat ia cintai.
“Aku tidak akan pernah melepaskan mu, Moe. Aku sangat mencintaimu,” ucap Agil. Berkali-kali dia menghujami pucuk kepala Beby dengan kecupan hangat.
TBC.
__ADS_1