Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 68.


__ADS_3

Sedangkan disisi lain. Nina terus menggerutu sambil berjalan, mencari pintu keluar club tersebut. Karena suasana uang pengap dan pencahayaan yang minim. Jujur saja, dia sangat sulit untuk melihat.


Nina merasakan tangan nya yang dipegang oleh seseorang. Sontak dia langsung menarik tangan nya kembali. Dua orang pria tengah tersenyum kepadanya.


“Eh ... Nina kan, si culun kaca mata,” celetuk pria yang pertama.


Pria yang sudah memegang tangan Nina pun berdiri dan mendekat. “Mau kemana? Ayo disini aja, sama kita-kita.”


“Aku tidak mau,” tolak Nina yang mundur satu langkah ke belakang.


“Ayolah, lagi pula kita kan teman sekampus.” Pria itu menarik paksa tangan Nina. Akhirnya terjadi saling tarik menarik, hingga membuat gelas yang Nina bawa. Isinya membasahi wajah pria tersebut.


Pria itu mendengus kesal dan mengusap wajahnya dengan kasar. “Kamu! Berani-beraninya...”


Tangan nya ditangkap oleh Bagas, ketika dia hendak memukul Nina. Bagas memelintir tangan pria itu hingga membuatnya meringis kesakitan.


“Dasar pengecut! Beraninya memukul wanita, banci kalian!”


“Hey ... lepaskan tanganku! Sakit ... memangnya kamu siapanya si culun?”


Bagas semakin memelintir tangan pria itu. “Culun-culun ... dia itu punya nama, namanya itu Nina! Aku ini teman nya, awas saja jika ku dengar kalian mengganggunya lagi atau memanggilnya si culun!” ancam Bagas.


“Iya-iya ... kami tidak akan mengganggunya lagi.”


“Yasudah pergi sana,” usir Bagas seraya melepaskan tangan pria tersebut. Kedua pria itu pun pergi dengan wajah masam dan rasa sakit tangan nya yang di pelintir Bagas.


Bagas menoleh kebelakang, ia melihat Nina yang hanya diam menundukkan kepalanya. Dibalik rambut panjang yang hampir menutupi seluruh bagian wajahnya.


“Ayo!” ajak Bagas meraih tangan Nina. Ia membawa Nina keluar dari club tersebut.


“Apa kamu terluka?” tanya Bagas.


Nina pun mulai menegakkan kepalanya perlahan menatap Bagas. “Aku baik-baik saja, makasih.”


“Sama-sama ... lagi pula itu memang salah mu sendiri.” Bagas membelakangi Nina.


“Salahku?” Nina mengerinyit tak mengerti.


“Dasar culun bodoh!” Bagas membalikan kembali tubuhnya. Dia menatap penampilan Nina dari atas hingga kebawah.

__ADS_1


“Hey ... tadi kamu bilang ke pria-pria itu untuk tidak memanggilku culun lagi! Tapi sekarang malah kamu yang memanggilku seperti itu,” omel Nina tidak mengerti.


Bagas tersenyum miring. “Tentu saja mereka tidak boleh ... karena yang boleh memanggilmu seperti itu hanya aku. Culun bodoh, kan aku yang sudah menyelamatkan mu tadi,” ucap Bagas.


Nina mendengus kesal, ia menggigit bibir bawahnya karena gemas. “Dasar cowok nyebelin,” hardik Nina.


Bagas malah tergelak melihat Nina yang memasang wajah cemberut. “Lagi pula ... coba lihat pakaian mu saat ini,” ucap Bagas.


Nina ikut memperhatikan penampilan nya. “Ada apa dengan pakaian ku? Apa ada yang salah?”


“Tentu saja salah. Pria-pria tadi itu tertarik padamu karena pakaian mu ini terlalu anggun,” tutur Bagas masih memperhatikan Nina dengan seksama.


Nina yang diperhatikan seperti itu. Jadi sedikit kikuk, dia menggaruk-garuk tengkuk lehernya karena gugup. Wajah Nina sedikit merona, dan bibirnya bergetar ingin tersenyum.


“Kamu tidak cocok memakai pakaian seperti ini ... tapi lebih cocok nya pakai kaca mata.” Bagas mengeluarkan kaca mata milik Nina dari saku jas, lalu memakaikan nya di mata Nina.


Nina mengerinyit heran sejak kapan kaca matanya ada pada Bagas. “Kaca mataku?”


Setelah memakaikan kaca mata, Bagas berjalan kebelakang Nina. Diraihnya rambut panjang Nina yang terurai, lalu menjepitnya menggunakan jepitan rambut berbentuk bunga.


“Dan menguncir rambutmu seperti itu,” ucap Bagas setelah selesai melakukan aksinya.


“Kenapa menatapku seperti itu?” Bagas memicingkan matanya.


“Aku tidak menatapmu! Percaya diri sekali,” ucap Nina ketus.


Ia pun hendak melangkah pergi kembali masuk kedalam club. Namun, tiba-tiba saja sesuatu yang terasa hangat menutupi tubuh Nina.


Bagas melepaskan jas miliknya dan memakaikan nya kepada Nina. Melihat Nina yang sedikit risih dengan gaun tanpa lengan itu, entah kenapa tanpa sadar melakukan hal tersebut.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Nina menatap Bagas.


Bagas tersentak kaget dan tersadar. “Sial ... apa yang kulakukan sih? Gawat, si culun ini bisa-bisa kepedean,” batin Bagas.


“Hei, ditanya kok malah melamun,” ucap Nina seraya melambaikan tangan di depan wajah Bagas.


“Jangan kepedean, yah ... aku hanya risih saja melihat bahu wanita jika memakai gaun seperti itu,” ucap Bagas gugup.


Pria itu pun langsung berjalan melewati Nina. Tapi, dia berhenti di ambang pintu masuk dan kembali menoleh. “Ingat jangan mikir yang enggak-enggak!” tunjuk Bagas ke arah Nina. Lalu dia segera masuk ke dalam club meninggalkan Nina.

__ADS_1


Nina menatap heran kepergian pria aneh tersebut. Sebuah senyuman mengembang di bibir Nina. “Siapa juga yang mikir enggak-enggak ... dia memang pria yang aneh. Sebenarnya dia itu umur berapa sih?”


Nina pun segera menyusul Bagas masuk kedalam club. Agil, Beby, Daniel, Bagas, dan Nina, duduk bersama di satu meja VIP. Sambil mengobrol, bercanda, bersulang minuman, serta memperhatikan semua orang yang sedang menikmati dentuman musik dan minuman mereka masing-masing.


Sungguh, hampir seluruh isi resort tersebut menjadi tempat para mahasiswa dan mahasiswi kampus mereka. Agil menghabiskan uang sangat banyak untuk mengadakan acara liburan tersebut. Karena itu Amanda sangat marah, terlebih saat melihat Agil bersama dengan Beby.


Tapi Agil tidak menyesal sudah menghabiskan uang banyak. Jika dia bisa membuat Beby bahagia dan juga bisa melewati waktu-waktu manis bersama dengan Beby.


🌺🌺🌺


Disisi lain malam itu. Dewa berjalan gontai menuju kamar milik Melanie yang berada di lantai lima resort tersebut. Setelah bersitegang dengan Agil waktu di club, Dewa terus memperhatikan Beby. Betapa mesranya dia bersama dengan Agil, membuat Dewa sedikit cemburu. Tanpa ia sadari kini dia sudah sangat mabuk.


Bruk.


Dewa terjatuh didepan pintu kamar seseorang. Dia mencoba untuk berdiri meskipun kepalanya terasa begitu pusing dan pandangan nya berputar.


Saat sudah berhasil berdiri, Dewa memperhatikan nomor kamar tersebut. “Melanie,” ucapnya tersenyum.


Dewa mengira itu adalah kamar Melanie, ia pun menekan berkali-kali bel pintu tersebut. Hingga akhirnya pintu terbuka. Dia melihat seorang wanita cantik memakai gaun berwarna ungu selutut berdiri tepat dihadapan nya.


Wanita itu melemparkan senyuman nya, dengan mata sayu dan bau alkohol yang menyengat dari mulutnya. “Agil?” lirih wanita tersebut.


Dengan samar-samar dia mengira pria tampan di depan nya itu adalah Agil. Pria yang sangat dicintainya, tapi sebenarnya bukan. “Agil, aku tahu kamu tidak pernah serius dengan wanita itu.” Amanda terus meranyau.


Dia menarik Dewa masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Dewa, pria itu sudah tidak sadar lagi dengan apa yang dia lakukan. Mendapat sentuhan dari Amanda di seluruh tubuhnya. Tentu saja, membuat jiwa lelakinya tak bisa menolak.


Dewa mulai menciumi tengkuk leher dan perlahan melucuti gaun milik Amanda. Sambil berciuman dia menggendong Amanda sampai ke ranjang. Tanpa mereka sadari, mereka melakukan nya (Hubungan intim).


TBC.


Note : Sampai disini bagaimana kesan kalian untuk novel ini guys? Maaf yah jika ada yang kurang suka dengan karakter Beby yang sombong, karena tidak bisa segampang itu untuk merubah sifat yang memang dari diri kita sendiri. Begitu pun juga dengan Beby, meskipun cerita ini hanya karangan.


Bagas Prayoga.



Nina Deanova.


__ADS_1


__ADS_2