
"Ada dua kamar tamu yang kosong, dan kamar utama adalah kamar ku," ucap Agil.
"Ok ... kalau begitu Beby kita sekamar yah," sahut Nina yang menatap penuh harap ke arah Beby. Beby tersenyum simpul sambil melirik Agil yang mengerutkan dahinya.
Bagas juga ikut melirik Agil dengan tatapan mengejek. "Rasain ... hahaha! Malam ini loe harus tidur meluk guling," bisik Bagas.
Agil mendengus kesal. Dia memasang wajah melas menatap Beby. Beby dan Bagas menahan tawa dengan susah payah. Tingkah manja Agil terlihat sangat lucu.
"By, kamu mau kan sekamar dengan ku?" tanya Nina lagi.
Nina menyentuh tangan Beby. Beby langsung menatap Nina, dan melirik Agil kembali. Pria itu tetap memasang wajah melas dan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku tidak masalah! Kita akan tidur sekamar," jawab Beby tersenyum.
"Yes!" Nina terlihat kegirangan.
"Sial," pekik Agil. Nina terkejut sontak dia langsung menatap Agil yang memalingkan wajahnya. "Ada apa? Kamu marah? Kepada ku?" tanya Nina.
Agil tak menjawab, enggan untuk menoleh atau menatap ke arah yang lain. Dia kesal, sangat-sangat kesal. Tujuan nya membawa Beby ke Mansion malam ini. Karena dia merindukan kebersamaan nya dengan Beby. Tapi Nina merusak segala rencananya.
"Hahaha!" Bagas tertawa begitu keras. "Kalah telak," celetuk nya lalu kembali tertawa. Beby ikut senyum-senyum sambil geleng-geleng kepala. Tangan Beby bergerak mengusap-usap punggung belakang Agil.
Nina semakin tak mengerti maksud semua orang. Terlebih Agil yang tiba-tiba ngambek dan tak mau menatap nya. "Sebenarnya kenapa sih? Kok aku gak ngerti yah, memang apanya yang 'kalah telak'? By, jawab aku?"
Beby tertawa dan menggelengkan kepalanya. Bagas ikut-ikutan mengusap bahu Agil sambil berkata, "Sabar bro ... sabar, hahaha!"
"Jika kamu tidak mau berhenti tertawa, aku benar-benar akan memotong gaji mu bukan ini," ancam Agil menatap tajam Bagas.
"Wess ... santai bro, jangan bawa-bawa kerjaan dong!" kata Bagas. "Ok, aku diam!" Bagas menutup rapat mulutnya.
Daniel yang melihat kebodohan Agil pun ikut tersenyum dan geleng-geleng kepala. Melihat sahabatnya itu yang mulai banyak berubah, tentunya Daniel sangat senang. Jika Beby dan Agil merasa bahagia bersama, tentu Daniel akan mendukung hubungan mereka.
__ADS_1
"Tenang saja, Nin. Agil tidak marah kepadamu, dia memang suka aneh seperti itu. Nanti juga sembuh sendiri gila nya," celetuk Daniel sambil menyentuh pundak Nina.
Agil melirik tajam ke arah Daniel. Matanya melotot seperti akan menerkam Daniel dengan ganasnya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk. Agil langsung merogoh ponselnya di saku celana.
"Amanda," ucapnya membaca nama kontak yang tertera. "Aku angkat telpon dulu, kalian masuklah kedalam, biarkan pelayan yang merapikan ini semua."
"Oh ya, aku balik duluan yah ... ada urusan mendadak." Daniel ikut berdiri.
"Baiklah, hati-hati bro..." kata Agil. Serata pergi menjauh untuk menerima panggilan dari Amanda.
Sedangkan Daniel menatap Beby yang terus memperhatikan kemana langkah Agil pergi. "By, aku duluan yah," pamit Daniel.
Beby berdiri dan tersenyum. "Hati-hati yah," katanya.
Daniel juga berpamitan kepada Nina. Namun, tidak kepada Bagas. Mereka berdua hanya saling melempar tatapan dingin. Kemudian Daniel pun pergi menuju mobil sport mewahnya.
Sebelum menyalakan mesin mobil, Daniel sempat melihat Beby yang mengikuti langkah Agil. Dia menghela nafas panjang, kemudian menyalakan mobil. Lalu pergi dari Mansion mewah tersebut.
🌺🌺🌺
"Maaf, aku tidak bisa! Aku sedang sibuk," jawab Agil dingin.
"Sebentar saja, plis ... ada sesuatu yang penting."
Agil mengusap wajahnya dan menyibak rambutnya kebelakang. Dia mondar mandir, kebingungan. Entah kenapa dia merasa Amanda berkata jujur, bahwa ada sesuatu yang penting. Tapi Agil juga tidak mau meninggalkan Beby.
"Agil ... ayolah, hanya sebentar saja!"
"Baiklah, tunggu sebentar lagi," kata Agil.
"Ok, aku tunggu!" Amanda pun memutuskan panggilan.
__ADS_1
Saat Agil berbalik, langkah nya terhenti. Beby sudah berdiri tepat dibelakangnya. "Beby ... sayang kenapa kamu disini? Ayo masuk!"
Agil merangkul Beby dan mengajak nya masuk ke dalam Mansion. Sesampainya di ruang tamu, Beby melepaskan rangkulan Agil padanya. Kemudian dia menatap lekat wajah Agil.
"Ada apa?" tanya Agil.
Agil memaksakan senyuman nya. Karena dia merasa jika Beby agak sedikit berbeda.
"Kamu mau pergi?" tanya Beby balik.
"Hmm, aku hanya pergi sebentar," jawab Agil seraya mengangguk dan mengusap kepala Beby.
"Jadi ... apa karena malam ini kita tidak tidur sekamar, kamu malah mau pergi?"
Agil mengerinyit dan langsung memegang kedua pundak Beby. "By, plis ... jangan berpikiran yang tidak-tidak, apa kamu tidak percaya padaku?"
Beby memalingkan wajahnya, hatinya memang sulit untuk mempercayai Agil. Mengingat bagaimana sifat bad boy yang dimiliki Agil. Tidak menutup kemungkinan bahwa Agil akan bermain dengan wanita lain, jika dia merasa bosan dan membutuhkan suasana baru.
"Hei ... bukan kah aku sudah berjanji padamu. Aku tidak akan membuatmu kecewa, By. Seperti apa yang dilakukan Dewa kepadamu! Jika aku sudah memutuskan untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius, itu artinya aku tidak main-main. Aku adalah tipe pria yang konsisten," tutur Agil sungguh-sungguh. Dia sengaja menatap mata Beby dengan sangat lekat.
"Baiklah, aku akan menunggu mu. Kamu bilang hanya sebentar bukan," ucap Beby dengan wajah cemberut dan tangan yang dia lipat di depan dada.
Agil pun tersenyum. Dia meraih tengkuk leher Beby, kemudian mendekat mengecup kening Beby dengan sangat lembut. "Bye," pamit Agil.
Beby menatap kepergian Agil dengan hati yang kecewa. Dia melambai saat Agil juga melambai kepadanya. Mobil Agil kini sudah menghilang dari pandangan nya. Beby pun bergegas masuk ke salam kamar nya bersama Nina.
🌺🌺🌺
Di kediaman keluarga Ganendra. Rumah tua yang besar, namun masih terlihat sangat mewah. Karena dirawat dengan sangat baik. Rumah tersebut adalah peninggalan keluarga Ganendra secara turun menurun. Tapi, sayangnya Agil tidak pernah mau tinggal dirumah itu, semenjak Amanda menjadi istri sang ayah. Agil lebih memilih tinggal di apartemen mewah nya saja.
Dengan gagahnya, Agil keluar dari mobilnya. Dia melangkahkan kaki menuju pintu utama. Di sana sudah berdiri seorang wanita cantik dengan memakai gaun putih. Dia menyambut kedatangan Agil dengan senyuman yang merekah. Tapi Agil tidak menghiraukan nya.
__ADS_1
Karena sekarang. Mau secantik apa wanita yang berdiri dihadapan nya, atau semenarik apa wanita yang mendekatinya. Agil tidak tertarik, karena menurutnya Beby diatas segalanya dari wanita-wanita itu. Sosok Beby sudah benar-benar menempati singgasana di dalam hatinya. Agil tidak bisa berpaling lagi kepada wanita manapun.
Agil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa diruang tamu. Disusul dengan Amanda yang juga duduk di sofa lain nya. Dia melempar sebuah amplop coklat di meja tepat dihadapan Agil. Membuat Agil sontak mengerinyit.