Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 57.


__ADS_3

Bagas terus memperhatikan gerak-gerik Nina. Wanita itu menuangkan minuman ke dalam gelas, lalu membawanya. Dia berjalan kearah Daniel yang tengah duduk memainkan ponsel.


"Ini, untukmu!" Nina menyodorkan gelas berisi minuman di depan Daniel.


Daniel yang terkejut langsung mendongak menatap Nina. Ia tersenyum dengan ramahnya dan menerima gelas tersebut. "Thanks, Nin," tutur Daniel.


"Aku boleh duduk?" tanya Nina gugup. Seraya menunjuk kursi yang berada disebelah Daniel.


"Tentu saja," sahut Daniel tersenyum, lalu meneguk isi dalam gelasnya.


Tidak lama kemudian, Agil dan Beby keluar. Suara pintu yang terbuka dan langkah kaki yang beradu. Membuat Ketiga orang yang berada di luar langsung menoleh bersamaan.


Agil merangkul Beby dengan sangat mesra. Terlebih canda dan tawa yang menghiasi wajah keduanya. Benar-benar menampakan kebahagiaan.


Daniel segera memalingkan wajahnya, dia tidak ingin berlama-lama melihat pemandangan itu. Benar-benar sudah tidak ada lagi kesempatan untuk dirinya mendekati Beby. Perasaan kesal pasti ada, mengingat dirinya yang sudah lama mengenal Beby. Tapi Agil lah yang kini sudah sangat dekat tanpa batas dengan Beby.


Nina yang melihat perubahan air di wajah Daniel. Terlebih saat pria itu segera memalingkan wajahnya. Nina langsung menangkap sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan. "Ternyata dia menyukai Beby. Tapi ... Beby kini sudah menjadi milik Agil," batin Nina.


Mereka semua pun makan malam bersama, dengan obrolan santai, dan canda tawa sesekali. Beby menatap Nina dengan lekat, dia berharap bahwa wanita yang kini ada di hadapan nya. Berbeda dengan Melanie, sahabat yang sudah sangat ia percaya. Tapi malah mengkhianati nya.


Menyadari jika dirinya sedang ditatapi, Nina menatap kembali Beby. Beby tersenyum dan Nina membalasnya. Lalu ia kembali menyantap makanannya.


Drrt drrt drrt!


Ponsel Beby tiba-tiba bergetar. Sebuah panggilan masuk dari bundanya. Beby beranjak dari kursinya. "Aku tinggal sebentar yah," pamit nya. Lalu segera pergi menuju tempat hening untuk bicara.


Agil menatap kepergian Beby dengan penuh tanda tanya. Dia penasaran siapa yang sudah menelpon Beby, hingga harus mencari tempat lain untuk bicara. Agil ikut beranjak dan mengikuti langkah Beby.


Kini Beby tengah berada di taman mini yang letak nya tidak jauh dari teras belakang, tempat mereka makan malam. Di tempat itu terdapat pagar kaca yang juga menghadap ke arah pantai. Beby berdiri di dekat pagar tersebut sambil berpegangan. Kemudian dia menerima panggilan masuk dari bundanya itu.


"Halo, Bunda?" sapa Beby.


"Beby ... sayang, bagaimana kabarmu?"


"Beby, baik-baik saja. Beby tau bunda pasti nelpon Beby karena ingin menanyakan keadaan ayah kan! Bunda pasti sudah mendengar berita penangkapan ayah," ucap Beby.

__ADS_1


"Hmm ... maafkan bunda sayang."


"Gak apa-apa kok, Bunda. Ayah baik-baik saja, Beby sudah menemuinya kemarin," tutur Beby.


"Syukurlah."


"Tapi-"


"Tapi apa sayang?"


"Ada sesuatu yang ingin Beby tanyakan kepada bunda. Tapi, Beby harap bunda jawab dengan jujur," ucap Beby dengan suara yang tertahan. Seakan tak sanggup untuk bertanya, tapi itu tetap harus dia lakukan. Karena jika tidak, hatinya tidak akan tenang jika tidak mendengar dari mulut sang bunda sendiri.


"Beby ... kenapa diam sayang? Jangan buat bunda cemas dong!"


"Bunda, apa benar Beby bukan anak kandung ayah ... seperti Freeya dan Ayden?" Beby menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya. Saat kata-kata itu keluar dari mulutnya.


"Apa maksudmu, Beby?"


"Apa kurang jelas yang Beby maksud? Beby bertanya, apakah Beby benar bukan anak kandung ayah?" Beby menahan air matanya agar tidak menetes.


"Ayah yang sudah mengatakan nya sendiri kepada Beby! Bunda, Beby harap bunda jujur kepada Beby. Beby sudah dewasa, Beby pantas untuk mengetahui yang sebenarnya." Kini air mata Beby sudah mengalir, di wajah cantik nya.


"Hiks hiks, Beby maafkan bunda sayang." Suara bunda terdengar bergetar dan terisak.


"Jadi benar, Beby bukanlah anak kandung ayah?" Beby kembali bertanya walupun perih mengatakan nya. Bunda tidak menjawab dan hanya menangis.


Beby melepaskan ponsel dari telinganya. Dia memegangi dadanya yang sakit seperti ditusuk pisau belati. Dengan tubuh bergetar Beby meringsut terduduk di hamparan rumput hijau. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu.


"Hiks hiks ... jadi aku benar-benar bukan anak ayah, aku bukan keturunan keluarga Endrawira! Lalu siapa ayahku? Dimana dia? Aku begitu muak semua orang terus berbohong dan menyembunyikan kebenaran dibelakang ku!"


Tangisan Beby semakin pecah, dia mencengkram rumput-rumput itu dengan kuat. Ingin berteriak sekuat mungkin, tapi tak bisa. Isak tangisnya membuat dadanya sesak. Beby memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.


Tidak lama kemudian.


Agil datang dan meraih kedua bahu Beby. Ia segera menarik Beby ke dalam dekapan nya. Membiarkan Beby membasahi bajunya dengan air mata. Agil mengelus-elus kepala Beby, untuk menenangkan nya.

__ADS_1


"Beby, berhenti menangis ... kamu tidak sendirian, ada aku disini sayang. Jangan menangis lagi," ucap Agil.


Beby mendongakkan kepalanya, menatap Agil dengan sendu. "Kenapa semua orang selalu membohongi ku? Apakah aku terlalu naif, hingga sangat mudah untuk membodohi ku!"


Agil menggelengkan kepalanya, lalu kembali mendekap Beby dengan sangat erat. "Tenanglah, itu tidak akan terjadi lagi! Ada aku disini, aku tidak akan membiarkan mu terluka lagi, Beby! Percayalah padaku," tutur Agil.


"Bisakah aku mempercayaimu?" Beby melepaskan pelukan Agil. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi Agil.


Agil menatap sendu punggung belakang Beby. Lalu dia maju untuk kembali memeluk kekasihnya itu. "Kamu bisa mempercayaiku, Beby! Aku janji akan membuatmu bahagia," kata Agil.


"Aku mencintaimu, Beby," sambung Agil dengan lirih.


Beby mengusap air matanya. Lalu dia berbalik badan. Tersenyum dan menyentuh wajah Agil dengan kedua tangan nya. Ditatapnya dengan lekat ke dalam netra indah milik Agil.


"Aku rasa aku juga sudah mulai jatuh cinta padamu, Agil. Tapi apakah aku pantas bersanding dengan mu? Aku bukan wanita suci lagi, kau ingat?" kata Beby.


"Hei ... apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku tahu, karena yang sudah mengambil kesucian mu adalah aku! Biarkan aku, bertanggung jawab untuk itu."


"Tapi, ayahku dipenjara, orang tuaku bercerai, bahkan sekarang kebenaran baru terungkap jika aku bukan anak kandung ayahku. Entah ada dimana ayah kandungku saat ini, aku pun tidak tahu. Keluarga ku begitu berantakan, aku takut akan membuat keluarga Ganendra malu nantinya," lirih Beby menundukkan kepalanya.


Agil meraih dagu Beby dan menatap lekat matanya. "Aku tidak perduli tentang itu semua. Karena yang terpenting adalah bagaimana perasaan mu kepadaku," kata Agil.


"A-aku ... maaf, mungkin sekarang aku belum bisa mengatakan jika aku mencintaimu. Tapi, aku bisa mengatakan jika aku sudah mulai jatuh cinta dengan mu, Agil," ungkap Beby.


Agil tersenyum dan mengangguk. Dia mengusap air mata Beby dari wajah cantik wanita itu. "Aku siap untuk menunggu sampai waktunya tiba, Beby. Saat itu terjadi, kamu lah ... yang akan mengatakan nya sendiri padaku. Jika kamu sangat mencintaiku, dan takut untuk kehilangan ku."


Beby pun mengangguk dengan sungguh-sungguh. Ia maju selangkah dan kembali memeluk Agil dengan erat. Agil membalas pelukan Beby. Dia juga menghujami pucuk kepala Beby dengan kecupan hangat penuh kasih sayang.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu, Beby," batin Agil.


"Aku akan berusaha keras ... untuk mencintaimu sepenuhnya, Agil. Menjadikan mu satu-satunya yang memiliki hatiku, terima kasih sudah hadir dalam hidupku," batin Beby.


TBC.


...🌺Jangan lupa like dan vote yah🌺...

__ADS_1


__ADS_2