
Beby duduk memangku kakinya di sofa yang ada di kamar Nina. Mendiamkan gelas berisikan susu hangat di tangan nya. Beby melamunkan sesuatu menatap lurus ke arah vas bunga ditengah meja.
“Jadi siapa ayah kandungku? Kenapa Bunda merahasiakan nya, mungkinkah dia orang yang tidak bertanggung jawab?”batin Beby.
“By,” ucap Nina seraya menepuk bahu Beby dengan pelan.
Ia terhentak kaget dan tersadar dari lamunannya. “Apa yang sedang kamu pikirkan, By?” tanya Nina seraya ikut menjatuhkan tubuh di sebelahnya.
“Aku tidak sedang memikirkan apa-apa,” ucap Beby berusaha menyunggingkan senyuman, agar Nina tidak mencurigainya.
Nina meraih tangan Beby, dan dia tersenyum. “By, jika ada sesuatu bicaralah padaku, mungkin aku memang belum tentu bisa membantu. Tapi, aku siap untuk menjadi pendengar yang baik,” tutur Nina.
Beby tidak bisa menahan air mata, yang akhirnya menetes. Ia pun langsung memeluk Nina dengan begitu erat.
“Andaikan saja kita bertemu sejak dulu, mungkin sekarang kamu akan menjadi sahabat terbaikku, Nin,” ucap Beby.
Nina menepuk-nepuk punggung Beby. “Sekaranv pun aku siap untuk menjadi sahabat baik mu, By.”
Beby melepaskan pelukannya, dia tersenyum menatap Nina. “Makasih ya, Nin.”
“Sama-sama, By,” ucap Nina.
Bel pintu kamar Nina pun berbunyi. Nina beranjak dari duduknya, dan meninggalkan Beby untuk membukakan pintu. Beby menatap kepergian wanita tersebut sampai menghilang dari balik lorong.
“Agil, Bagas, silahkan masuk.”
__ADS_1
“Dimana, Beby?”
“Ada didalam lagi sarapan.”
Beby mendengar suara langkah kaki dan suara percakapan mereka. Ia pun segera mengusap air mata yang tadi sempat menetes diwajahnya. Beby tidak mau jika Agil, kekasihnya itu melihat bahwa dirinya sedih.
“Moe, maafkan aku pagi-pagi sudah meninggalkan mu,” ucap Agil seraya ikut duduk di sebelah Beby.
Agil melingkarkan tangan nya di pinggul Beby kemudian memberikan kecupan hangat dikeningnya. Beby tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak apa-apa, itu bukan pertama kalinya kamu seperti itu,” ucap Beby.
Agil tersenyum dan menyipitkan matanya. “Apa kamu sedang membicarakan waktu itu?”
“Apaan sih,”-Beby menyikut perut Agil pelan-“malu ada Bagas dan Nina disini.”
Agil dan Beby malah tertawa. Sedangkan Nina hanya diam menatap ketiga orang itu. Nina merasa begitu senang memiliki teman-teman seperti mereka. Meskipun bisa dibilang dia sangat berbeda dari ketiga orang itu bahkan ke empat orang bersama Daniel. Nina merupakan orang biasa dengan penampilan yang sangat jauh berbeda. Tidak pernah terbayangkan jika dirinya akan menjadi salah satu diantara orang-orang itu.
Agil meraih tangan Beby, menariknya beranjak dari sofa. Kemudian berjalan menuju pintu. Ia pun menghentikan langkahnya dan sontak Agil pun ikut berhenti.
“Kita mau kemana?” tanya Beby.
“Jalan-jalan," jawab Agil.
“Sudah gak usah banyak tanya ... Nina nanti perginya sama Bagas.” Agil kembali menarik Beby keluar dari kamar Nina.
__ADS_1
Sedangkan Nina dan Bagas masih berada di dalam kamar. Bagas sedikit canggung, bisa-bisanya Agil pergi begitu saja tanpa menunggunya.
“Kamu-” ucap keduanya bersamaan.
“Kamu duluan,” ucap Bagas.
Nina menghela nafas nya. “Kamu ... apa kamu-” Ia gugup hingga tidak bisa berkata-kata.
“Cepatlah bersiap, aku menunggu mu di luar,” potong Bagas dengan cepat melangkah keluar kamar.
Nina memegangi dadanya yang berdebar sangat kencang. Jantungnya hampir saja meledak, dia sendiri bingung apa yang terjadi dengan tubuhnya. Setiap kali berada di dekat Bagas, matanya terus ingin memandang wajah tampan tersebut.
Nina pun segera bersiap-siap, dia memakai baju kaos dan celana jeans hitam sama seperti yang Beby kenakan. Keduanya sengaja membeli baju Couple tersebut untuk dikenakan selama berada di Paris.
Nina meraih tas yang biasa ia kenakan, lalu mengambil sesuatu di dalam nya. Sebuah topi berwarna putih. Topi pemberian Bagas waktu kemarin dia hendak berangkat ke Paris.
Senyuman mengembang di wajah Nina saat ia mengenakan topi itu. “Aku rasa topi ini sangat cocok jika ku pakai sekarang,” ucapnya.
Ia pun segera keluar menemui Bagas yang menunggu di luar kamarnya. Tak lupa Nina juga mengenakan kaca mata miliknya.
Bagas yang tengah memainkan ponselnya, tidak menyadari Jika Nina sudah keluar dari kamar. Bahkan sedang berdiri tepat di hadapan nya.
“Ayo!” ucap Nina.
Bagas menegakkan kepalanya, betapa ia tertegun ketika melihat Nina. Wanita itu nampak bercahaya dan memiliki karisma nya sendiri. Bagas tidak sadar jika dirinya bahkan tidak berkedip.
__ADS_1
“Hei,” ucap Nina melambaikan tangan di depan wajah Bagas.
“Sorry ... kamu sudah selesai? Ayo kita susul Agil dan Beby,” ucap Bagas gugup ia pun berjalan mendahului Nina di belakang nya.