
Daniel meraih tangan Freeya yang menutupi ujung bibirnya. Membuat Freeya terkejut, matanya yang sudah berair membulat, menatap Daniel dengan lekat. Pria itu mengusapkan kapas dengan lembut dibibirnya yang memar.
Deg deg deg deg.
Freeya menelan saliva nya, dan membiarkan dadanya berdegup kencang. Menatap pria didepan nya yang sedang tersenyum. Tetesan air matanya pun mengalir di pipi mulusnya.
“Tidak selamanya kamu bisa menyembunyikan rasa sakit yang kamu rasakan, pada orang lain. Karena aku bisa melihat rasa sakit itu,” ucap Daniel seraya mengusap air mata yang terus mengalir.
Nafasnya mulai terisak pelan. Bibir dan kelopak matanya bergetar. Freeya menahan kuat agar tidak melemah di depan Daniel. Namun tatapan hangat Daniel saat ini, membuat kepercayaan dirinya runtuh, dia ingin menangis melepas rasa sakit ini.
“Jangan membuatku lemah...” batin nya.
“Jangan memaksakan diri, menangis di hadapanku tidak akan membuatmu lemah,” ucap Daniel kembali
Mata Freeya membulat. Lagi-lagi perkataan Daniel seperti palu godam yang menghantam dinding kekuatan yang kokoh, yang selama ini dia bangun dengan susah payah dalam dirinya, kini telah hancur.
Tangan Freeya bergetar menutupi mulutnya. Air matanya kembali menetes, bersamaan dengan tangisan nya yang pecah. Dengan terisak-isak, Freeya tak bisa menahannya lagi. Dadanya terasa sesak, sampai benar-benar membuatnya tidak bisa merasakan udara.
Daniel membawa Freeya kedalam dekapan hangatnya. Entah kenapa matanya ikut berair, dia menahan air matanya agar tidak menetes. Dadanya terasa perih, seakan bisa merasakan kesakitan yang Freeya rasakan.
“Bagus, keluarkan semua rasa sakit itu... percuma saja jika kamu berusaha kuat, tapi tidak memiliki tempat untuk mencurahkan emosi itu. Menyimpannya sendiri hanya akan membuat semua itu percuma, kamu belum bisa menjadi wanita kuat.”
Hiks hiks hiks.
__ADS_1
Nyaman, itulah kata-kata yang pas untuk yang dia rasakan saat ini. Dekapan hangat Daniel, membawanya menjauh dari kesesakan yang dia rasakan selama ini. Walaupun memiliki seorang kakak perempuan dan adik laki-laki. Freeya tidak pernah menceritakan hal yang dia rasakan disini, kepada ibu dan saudara-saudaranya, yang berada jauh. Dia tidak mau membuat semua orang khawatir, dia sudah dewasa, dan dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Bertahun-tahun merasakan kesepian, menjalani kehidupan sendiri. Ini pertama kalinya dia merasakan kehangatan dan tempat untuk dia bersandar. Freeya sendiri merasa aneh kenapa dia merasa begitu nyaman di dekat Daniel, padahal baru beberapa hari bertemu.
Beberapa saat kemudian. Angin dingin tadi kini telah meneteskan air dengan begitu derasnya di luar sana. Sedangkan didalam ruangan, kini terasa hangat. Freeya mengusap sisa air matanya menggunakan tisu.
Matanya yang bengkak serta hidung yang memerah, karena menangis. Tidak membuat wajah cantiknya sirna. Sudut bibir Daniel tertarik, membentuk sebuah senyuman. Freeya yang melihatnya, juga ikut tersenyum. Mereka pun tertawa kecil bersamaan.
“Jadi, kamu benar-benar tidak akan memarahi Ratu bukan? Dia tidak salah, yang salah itu kamu!” ucap Freeya.
Menyipitkan matanya dan berkata : “Aku? Dari mana ini adalah kesalahan ku?”
“Tentu saja, seharusnya kamu lebih perhatikan dimana anak mu berada, hingga dia bisa pergi sendirian, pasti kamu tidak perhatian pada anak,” sahut Freeya.
“Seorang wanita sangat berbahaya keluar di malam hari, terlebih seorang gadis kecil. Karena itu aku berniat mengantarkan nya pulang, lalu diperjalanan malah bertemu pria-pria brengsek tadi, kesal!”
Daniel pun menyela dengan cepat. “Seorang wanita juga sangat berbahaya berkendara di malam hari sendirian, menginap lah dan pulang besok pagi.”
Deg.
Freeya tersenyum dan menggigit bibir bawahnya. Membuat Daniel merasa aneh melihatnya. “Kenapa kamu tersenyum? Sudah gila?”
“Apa kamu sedang mengkhawatirkan ku?”
__ADS_1
“Siapa yang sedang mengkhawatirkan mu? Jangan terlalu percaya diri!” Daniel menonjol dahi Freeya dan memalingkan wajahnya yang terasa panas.
Freeya semakin tertawa, dan sangat ingin menggoda Daniel. “Iya, aku tahu kok, kamu pasti sedang mengkhawatirkan ku, ya kan!”
“Perkataan ku itu bukan hanya untuk mu, tapi juga untuk semua wanita, jadi berhenti mengatakan hal yang tidak jelas.”
“Yee, datar banget. Kalau khawatir yah ngaku aja, gak usah ngelak segala...”
“Siapa yang ngelak sih! Sudah diam berisik!” Daniel beranjak dan memanggil salah seorang pelayan.
“Desi, antar dia ke kamar tamu yang sudah dibersihkan,” perintahnya saat salah seorang pelayan wanita datang.
“Pergi sana, berisik sekali kamu disini!” usir Daniel pada Freeya.
Lagi-lagi Freeya malah tersenyum dengan sikap jutek Daniel. “Diam-diam tapi khawatir, ciyee...”
“Diam dan tutup mulutmu itu! Arau mau aku yang menutupnya!” ucap Daniel dengan gemas dan melotot.
Seketika, langsung membungkam mulut Freeya. Wanita itu terdiam dan menelan saliva nya. Mengingat kata-kata itu lagi, dan bayangan mengenai hal yang mereka lakukan sore tadi. Tidak, Freeya tidak mau.
Daniel pun berjalan mendekat, Freeya memundurkan langkahnya. Dia segera berlari menghampiri Desi sang pelayan. “Desi, ayo antar kan aku ke kamarku, disini begitu panas dan membuatku sangat gerah...”
Sepeninggal Freeya dan Desi. Daniel tertawa pelan, wajah gugup Freeya sangat lucu. “Ternyata ada juga hal yang bisa membuatnya berhenti berisik,” ucapnya terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
To be continued...