
Mobil sedan mewah berwarna hitam itu memasuki lobi sebuah restauran. Disambut dua laki-laki yang sama-sama membukakan pintu untuk keduanya. Lalu Daniel memberikan kunci mobilnya kepada salah satu laki-laki tersebut.
"Silahkan, pak," ucap laki-laki itu mempersilahkan Daniel masuk.
Tanpa merasa ada seseorang yang dibawanya Daniel melenggang masuk. Meninggalkan wanita cantik yang memasang wajah cemberut. Kesal, tentu saja. Wanita mana yang tidak kesal jika prianya sangat dingin dan cuek seperti itu.
Freeya pun berjalan mengikuti langkah Daniel yang sedikit jauh darinya. Namun tak disengaja, entah datang dari mana. Seorang pelayan yang membawa dua gelas minuman di nampan nya. Hampir menabrak Freeya. Namun sempat terhindarkan dari tabrakan itu.
"Maaf, maafkan saya," sesal pelayan itu sambil menunduk takut.
"Tidak masalah, lagian juga gak kena kan."
Bagaikan seorang bidadari di depan pelayan itu, dia tersenyum begitu ramah. "Terima kasih banyak, bu."
Pelayan itu pun segera berlalu. Freeya menatap kepergian pelayan tersebut. Saat kembali hendak melanjutkan langkahnya. Dia terkejut saat sebuah tangan merangkul pinggang nya yang ramping.
__ADS_1
Wanita itu menoleh kearah sampingnya. Hampir saja, satu jengkal lagi mungkin bibir mereka akan menyatu. Jika Daniel tidak reflek menjauhkan sedikit wajahnya. Mereka terdiam dan saling menatap dengan intens.
"Kamu ini ya, baru di tinggal sebentar saja...sudah membuat keributan. Pelayan gam salah apa-apa malah mau di tabrak," gamblang Daniel memarahi Freeya.
"Apaan sih kamu! Aku juga gak sengaja kok, lagian kamu-" Freeya mengerucutkan bibirnya sambil mengomel tapi langsung di potong oleh Daniel.
"Sudah diam, berisik!"
Daniel membawa Freeya masuk kedalam restauran xengan tangan yang merangkul pinggang ramping istrinya itu. Membuat beberapa pasang mata menatap kemesraan pasangan itu. Bak suami istri yang saling mencintai, Daniel dan Freeya tersenyum memperlihatkan kemesraan mereka. Walaupun hanya sekedar akting.
"Baik, pak...wine nya yang seperti biasa ya," jawab pelayan tersebut seakan-akan sudah tahu wine kesukaan Daniel.
"Tunggu, maaf steak nya satu saja...saya mau salad saja dengan wine yang sama," sangvah Freeya sambil tersenyum menatap pelayan itu.
"Baik, silahkan ditunggu." Pelayan itu pun meninggalkan dua mahluk keras kepala yang katanya sedang berkencan itu.
__ADS_1
"Apa?" Menyadari bahwa dirinya sedang ditatapi sebegitu tajamnya oleh Daniel.
"Badan sudah kurus seperti itu, mau diet kaya gimana lagi," sahut Daniel tanpa rasa dosa sama sekali.
Freeya mendengus kesal sambil menggigit bibir bawahnya. Gemas dengan pria bermulut pedas itu. Bisa-bisa nya dia berkata seperti itu membuat darah dalam tubuh nya mendidih.
"Sudahlah, bicara sama kamu itu gak guna...kamu gak akan ngerti," ucap Freeya malas sambil mengalihkan wajahnya.
"Lagian yang ngajak kencan kan kamu, tapi kenapa kamu gak mau pesan makanan, malah yang di makan hanya sayuran...tau gitu aku males mengiyakan ajakan mu."
Wanita itu terdiam dan tiba tiba saja mengingat sosok Ratu yang memohon padanya. "Baiklah aku minta maaf, aku hanya merasa pencernaan ku tidak enak dan pengen makan sayuran saja," ucap nya mengalah.
"Terserahlah.." Jawaban yang sangat menyebalkan buat Freeya.
Wanita itu hanya mampu menghela nafas saja. Bersabar dan mengalah, demi Ratu dan Kaisar. Freeya rela duduk ddi hadapan pria itu. Meskipun dari bibir manisnya itu tidak pernah keluar kata manis. Selalu kata kata yang membuat darahnya mendidih, ingin rasanya dia mencubit gemas bibir pria itu.
__ADS_1