Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 89.


__ADS_3

Malam harinya, setelah makan malam bersama dengan adik-adik dan kakek nenek nya. Beby memilih untuk beristirahat di kamar nya. Kamar masa kecil yang begitu sederhana. Beby ingat dengan benar, kenangan nya. Saat berlibur dan mengunjungi Kakek dan Nenek nya saat liburan sekolah.


Tok tok tok.


“Beby, sayang ini bunda. Apa bunda boleh masuk?”


Beby beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu. Linda masuk ke dalam kamar setelah Beby membuka pintunya.


“Sayang, ada yang ingin bunda bicarakan dengan mu,” ucap Linda seraya menarik Beby untuk duduk bersama di tepi tempat tidur.


“Ada apa, Bunda?”


“Tapi, jawab bunda dengan jujur.”


Beby mengangguk dan menatap wajah bunda nya yang nampak begitu serius. Tangan nya di raih oleh Linda dan di genggam dengan erat.


“Jadi ... kamu dan Tuan Ragilio...”


Beby kembali mengangguk, membenarkan semua pertanyaan yang ada di benak Linda. Pertanyaan yang sulit untuk dia katakan. Linda menutup mulutnya sangat terkejut.


“Bahkan Agil sudah berjanji untuk menikahi Beby, Bunda.”


Linda tidak bisa berkata-kata lagi. Melihat kebahagian yang berbinar di mata Beby. Nampak sekali bahwa Agil memperlakukan anak nya itu dengan baik.


“Tapi, bagaimana bisa kalian bertemu? Beby, jawab bunda dengan jujur. Bunda sangat mengenal bagaimana keluarga Ganendra.”


Beby mengerinyit tidak mengerti. “Apa maksud perkataan, Bunda? Oh iya, aku hampir lupa ... aku juga ingin bertanya pada Bunda. Apakah Bunda mengenal Agil dan keluarganya?”


“Bunda mengenalnya, tapi bukan berarti bunda dekat dengan mereka. Nenek mu dan Nyonya Diana adalah teman dekat.”


“Nenek Diana?”


Linda menganggukkan kepala. “Jadi kamu sudah bertemu dengannya? Sepertinya Tuan Ragilio benar-benar serius padamu,” ucap Linda.


Beby tersenyum kecil, wajahnya memerah. “Apa Bunda juga mengenal Tante Laras dan Om Bima nya Agil?”


“Laras itu dulu teman sekolah Bunda dan Ayahmu.”


Beby merasa aneh melihat perubahan air diwajah sang Bunda. “Ayah Prayoga?”


“Hmm ... Laras itu wanita licik dan suka iri, terlebih kepada Bunda.”


“Benarkah? Astaga, ternyata dari dulu dia memang punya sifat seperti itu.”


“Apa maksudmu, sayang? Apakah Laras melakukan sesuatu padamu?” Wajah Linda nampak sangat cemas.

__ADS_1


“Tidak kok, Bunda. Tante Laras tidak pernah melakukan hal buruk kepada Beby.” Ia memaksakan senyuman di depan Linda.


“Bunda tidak tahu saja, nenek lampir itu selalu mengomel, mencibir, bahkan menghina dengan mulut pedasnya!” batin Beby.


“Sekarang giliran mu, jawab bunda dengan jujur. Bagaimana cara kalian berdua bertemu?”


“Hmm, sebenarnya-”


Ucapan Beby menggantung. Ditatapnya dengan lekat wajah Linda.Keraguan yang dia rasakan semakin besar. Beby tidak mau jika sang bunda pasti akan kecewa mendengarnya.


“Maafkan Beby, Bunda. Sebenarnya Beby.... mmmhhh.”


Belum sempat kata-katanya selesai. Beby menutup mulutnya menggunakan sebelah tangan. Menahan sesuatu yang terasa pahit keluar dari mulutnya. Dengan gegabah Beby berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Huek huek huek.


“Beby, kamu kenapa sayang?”


Linda ikut masuk ke dalam kamar mandi. Berdiri di belakang Beby sambil memijit punggung nya dengan lembut.


“Enggak tau, beberapa hari ini Beby merasa.... mmmhh.” Dia kembali memuntahkan sesuatu di wastafel.


Huek huek huek.


Seperti perutnya sedang diaduk-aduk. Semua makanan yang ia makan saat makan malam tadi. Ia muntah kan tanpa sisa di wastafel. Beby memegangi kepalanya yang sedikit pusing, air mata menetes melalui sudut kelopak matanya.


“Beby, maaf bukan maksud Bunda mau ikut campur urusan kamu. Tapi, sebagai seorang ibu, bunda berhak tau apa yang terjadi dengan mu? Jadi jawab bunda dengan jujur.”


Beby menatap ragu mata Linda. Dia takut jika keadaan nya akan membuat sang bunda kecewa. Ia pun mengangguk pelan.


“Kamu dan Agil ... apa sudah melakukan hal itu?”


Beby menelan salivanya. Ia kembali mengangguk pelan dengan wajah yang tertunduk. Tidak berani menatap mata sang bunda.


Linda menghela nafas nya. “Baiklah, itu tidak masalah selagi dia mau bertanggung jawab ... bunda rasa kamu harus memeriksa kan kandungan mu dan beritahu Agil yang sebenarnya.”


“Memeriksa kan kandungan? Maksud bunda apa?”


“Bunda yakin sekarang kamu sedang mengandung anaknya.”


“Aku hamil?” gumam nya pelan sambil memegangi perutnya yang masih rata.


“Bunda gak marah sayang, tapi sebaiknya kamu beritahu Agil secepatnya. Bunda pergi dulu, kamu istirahat yang nyaman.”


Linda mengecup pucuk kepala Beby tanda sayang. Kemudian dia berjalan menuju pintu dan menutup rapat kembali pintu kamar Beby.

__ADS_1


Sepeninggal Linda. Beby berdiri di depan meja hias. Ia menyibak setengah baju bagian bawahnya. Memperlihatkan jelas perutnya. Masih rata dan belum membesar.


“Aku hamil? Apakah Agil mau bertanggung jawab?”


Beby mengusap perutnya dengan lembut.


“Akhh... konyol sekali, tentu saja dia akan bertanggung jawab. Aku adalah wanita yang paling dia cintai, dia juga sudah berjanji akan menikahi ku. Agil pasti senang mendengar kabar ini.”


Beby pun merebahkan tubuhnya dengan perlahan ke atas tempat tidur. Rona merah menghiasi wajah Beby. Ia meraih ponselnya dan segera menghubungi nomor telpon Agil.


“Kenapa nomor nya tidak bisa dihubungi?”


Beby melempar ponselnya ke sembarang arah. Kesal karena Agil tidak mengangkat panggilan nya. Kemana pria itu pergi apakah dia sudah sampai ke hotel apa belum. Beby bertanya-tanya di dalam hati.


“Sudahlah, aku akan menunggu sampai besok pagi.”


Beby pun bersiap-siap untuk tidur. Akan tetapi saat dirinya sudah hampir terlelap. Pintu kamar nya kembali di ketuk.


“Masuk saja, tidak dikunci,” teriak nya dari tempat tidur.


Pintu pun terbuka. Ternyata yang datang adalah Freeya sang adik perempuan nya yang berusia delapan belas tahun. Beby duduk di atas tempat tidur.


“Kak, ini dari bunda. Tadi bunda suruh aku antar ini ke kamar mu,” ucap Freeya memberikan sebuah kotak kecil kepada Beby.


Beby pun meraihnya. Matanya terbelalak ketika membaca tulisan dikotak itu. “Ini kan testpack...”


“Iya kak, bunda suruh kakak untuk mengecek nya. Tenang saja aku bisa menjaga rahasia,” ucap Freeya tersenyum polos.


“Ternyata adikku ini sudah dewasa,” ucap Beby seraya beranjak dan mengusap pucuk kepala Freeya.


“Tentu saja aku sudah dewasa ... memangnya kakak yang masih seperti anak kecil,” sahut Freeya tertawa geli.


“Dasar kamu ya, yasudah sana pergi. Kakak mau cek dulu,” usir Beby dengan candaan nya. Freeya pun pergi, Beby mengunci kembali pintu kamarnya. Agar tidak ada yang masuk saat dirinya sedang di kamar mandi.


Beby berdiri di depan cermin wastafel. Ia sudah melakukan pengecekan menggunakan testpack tadi. Kini tinggal melihat hasilnya saja. Tapi Beby masih sangat ragu. Dia menutup matanya dan mulai membukanya perlahan.


Meskipun tadi Linda sudah memberitahunya bahwa dia pasti hamil. Tapi tetap saja, saat ini Beby merasa sangat gugup. Dadanya berdebar-debar tak menentu.


Air matanya menetes ketika melihat dua garis merah. Ia menghela nafas menangis dengan tersedu-sedu. Tapi itu bukan air mata kesedihan atau penyesalan, melainkan air mata kebahagiaan.


Untuk pertama kalinya, dia akan menjadi seorang ibu. Ia telah mengandung anak dari pria hebat dan luar biasa seperti Agil.


“Aku sangat mencintaimu, Agil. Kini aku sadar bahwa kamu sudah memiliki hatiku seutuhnya.”


Setelah itu Beby kembali ke dalam kamar. Tidur dengan nyenyak, memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk memberitahu Agil tentang kehamilan nya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2