Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 139.


__ADS_3

Tidak terasa sudah tiga bulan berlalu. Bagas dan Nina juga sudah kembali ke apartemen mereka di kota B. Karena cabang perusahaan yang Bagas kelola, sudah mulai pulih dari sebelum nya. Dia bekerja dengan begitu baik.


Drrt drrt drrt.


Nina mengerjap dan mengucek matanya. Ketika mendengar ponselnya diatas nakas bergetar. Wanita itu merenggang kan tangan nya. Menyibak selimut tebal dan duduk ditepi ranjang. Dia meraih ponselnya yang terus bergetar.


“Ada apa, Mochi? Siapa yang menelpon mu sepagi ini?” tanya Bagas dengan suara teredam. Karena bantal yang menutupi wajahnya.


Ia hanya diam menatap nama yang tertera di layar panggilan tersebut. “Bibi,” lirihnya.


Sudah sangat lama rasanya dia tidak berhubungan lagi, dengan Bibi dan Pamannya yang jahat itu. Sejak dia menikah dengan Bagas, pria itu tidak mengizinkan dirinya untuk menemui apalagi berhubungan dengan kedua orang itu.


Bagas merasa aneh, karena sang istri tidak menjawab. Ia pun membuka matanya dan menggeser tubuhnya mendekati Nina di tepi ranjang.


“Siapa?” tanya menengok ke layar ponsel Nina. Raut wajahnya seketika berubah, dahinya mengkerut dan tatapan nya menajam. “Tidak usah di angkat,” tegasnya.


Bagas menarik tangan Nina untuk kembali masuk ke dalam selimut. Ia menatap wajah sang istri yang terlihat diam dan memasang wajah sendu.


“Tidak perlu mengkhawatirkan mereka,” ucapnya, “karena mereka juga tidak pernah mengkhawatirkan mu!”


“Dari mana kau tahu, bahwa mereka tidak mengkhawatirkan ku? Lalu apa namanya jika sekarang mereka menelpon ku? Bagas aku mohon ka-”


Bagas menutup mulut Nina dengan telapak tangan nya. “Mereka menghubungimu karena menginginkan uang,” tukas Bagas.


Nina mengerutkan keningnya. “Benarkah?”


“Kalau tak percaya angkat saja dan tanyakan apa mau mereka?” ucap Bagas sambil melingkarkan tangan nya di perut sang istri.


Nina diam sejenak, memikirkan perkataan Bagas sambil menatap layar ponselnya. Bagas tersenyum miring, memikirkan sesuatu yang licik.


“Begini saja, bagaimana kalau kita taruhan?” tawarnya tersenyum.


“Taruhan apa?” tanya Nina polos, tanpa curiga dengan tawaran suaminya itu.


“Jika perkataan ku salah, kau boleh meminta apapun padaku ... tapi jika perkataan ku benar, malam ini kau harus memanjakan ku dengan maksimal,” ucap Bagas sensual dengan senyuman liciknya.


“Issh, dasar mesum!” Nina berdecak dan mendesis memutar bola matanya. “Baiklah, setuju!”


Bagas tersenyum lebar dia mulai membayangkan hal yang akan terjadi nanti malam. “Kalau begitu angkat panggilan dari Bibi mu yang gila itu!”

__ADS_1


Nina turun dari ranjang dan pergi ke balkon kamar. Bagas menatap sendu kepergian sang istri. Dia merasa begitu kasian terhadap Nina. Wanita itu sampai sekarang bahkan masih mengharapkan ketulusan dari paman dan bibi yang selalu jahat padanya selama ini.


Bagas juga merasa marah dan kesal. Terhadap Fitriani, wanita itu kenapa harus menghubungi Nina lagi. Mengingat kemauan nya sudah dipenuhi oleh Bagas. Tentang uang senilai 5M yang dia minta. Untuk jaminan bahwa dirinya tidak akan mengusik kehidupan Nina dan Gio lagi. Tapi entah apa yang membuat wanita itu dan suaminya kembali menghubungi Nina.


Bagas meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. Kemudian segera menghubungi Dian.


“Dian, kirim seseorang kerumah Bibinya, Mochi! Minta kedua orang itu untuk pergi jauh, kalau perlu paksa mereka dan usir! Aku tidak mau dia terus mengganggu istriku!” perintah Bagas pada Dian.


“Baik, Tuan,” jawab Dian sigap.


Panggilan pun terputus, bersamaan dengan Nina yang juga sudah selesai. Bagas menaruh cepat-cepat ponselnya ketempat semula.


Senyuman nya seketika luntur. Melihat sang istri yang berjalan lemas kembali ke kamar. Wajahnya yang ditekuk dan murung. Menandakan bahwa hatinya pasti terluka.


Bagas beranjak dari ranjang. Berjalan menghampiri Nina. Lalu memeluknya dengan erat. “Tidak apa-apa, jika kau ingin menangis ... menangis lah padaku,” ucapnya menepuk-nepuk punggung sang istri.


Nina membalas pelukan Bagas. Dia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang suami. “Hiks hiks, seharusnya aku mendengarkan perkataan mu ... mereka tidak pernah mengkhawatirkan diriku, yang mereka pikirkan hanya uang uang uang...”


Nina menangis terisak-isak. Bagas semakin mengeratkan pelukan nya. Kini tangan nya mengusap-usap kepala Nina dengan lembut.


“Karena itu lupakan mereka, Mochi. Sekarang hidupmu hanya untuk aku Gio dan calon anak kita ini,” ucap Bagas mengelus perut Nina.


“Bagas, aku sangat mencintaimu!” Nina menatap lekat mata sang suami dan kembali memeluk nya dengan erat. Begitu pun sebaliknya.


Langit cerah dengan awan putih yang bergumpal-gumpal seperti sebuah gulali kapas. Menjadi pandangan yang indah jika dilihat dengan pantai pasir putih yang indah.


Bagas, Gio, dan Nina di undang piknik bersama disebuah pantai. Dengan keluarga kecil bahagia Beby dan Agil. Pantai dimana mansion Agil tempat pertama kali mereka bertemu.


Agil memeluk Beby dari belakang. Mengejutkan sang istri yang tengah tersenyum memandang ke arah depan sana.


“Apa yang membuatmu tersenyum, Moe?” bisik nya, seraya mencium pundak Beby.


Beby menggenggam tangan Agil yang melingkar diperutnya. “Lihatlah, mereka sangat bahagia,” ucapnya.


Agil mengikuti arah pandangan Beby. Nampak Bagas dan Nina yang sedang menemani Gio dan Baby Rey bermain di pinggiran pantai.


“Aku bersyukur kita bertemu pada malam itu, sayang,” ucap Beby berbalik dan melingkarkan tangan nya di leher Agil.


“Malam itu meskipun pahit awalnya, itu bukan hanya mengubah kehidupan ku saja ... tapi juga mengubah kehidupan Nina yang selama ini pahit. Akhirnya dia bisa hidup bahagia bersama orang yang dia cintai...” Beby menyandarkan kepalanya dipundak sang suami.

__ADS_1


“Aku juga merasakan hal yang sama, Moe.” Agil mengecup pucuk kepala Beby. “Akhirnya Bagas bisa bahagia kembali menemukan adik yang dia sayangi dan juga cinta sejatinya.”


“Aku mencintaimu, Agil. Selamanya akan selalu seperti ini, aku tidak akan pernah melepaskan mu,” ucap Beby.


Agil tersenyum dia mendekat, lalu mencium bibir Beby. “Aku juga mencintaimu, Moe. Hanya kamu seorang,” ucap Agil.


Malam harinya. Agil dan Beby membawa Gio dan Baby Rey tidur bersama di kamar utama di mansion nya. Sedangkan Bagas dan Nina masih duduk santai sambil mengobrol di balkon belakang mansion yang menghadap ke laut.


Bagas menghampiri Nina sambil membawa susu hangat dan sebuah selimut. Kemudian menaruh gelas susu tersebut dimeja di hadapan Nina. Lalu dia duduk disebelah istrinya itu.


“Dingin kau bisa terkena flu,” ucap Bagas seraya menyelimuti tubuh Nina dengan selimut yang dia bawa.


“Makasih,” ucapnya tersenyum. “Kemari lah kau juga bisa terkena flu nantinya.”


Bagas terkejut ketika Nina menariknya ikut masuk ke dalam selimut. Kini mereka berdua duduk sambil memakai satu selimut yang sama.


“Hmm, Mochi,” panggil Bagas.


Nina yang awalnya tengah menatap langit malam yang indah. Segera menoleh ke arah suaminya itu. “Ada apa?”


“Apa kau masih ingat di tempat ini?” tanya Bagas menatap lekat mata Nina.


“Aku tidak akan pernah melupakan nya, tempat ini adalah tempat kita bertemu untuk pertama kalinya...” Nina tersenyum dan menatap sekelilingnya.


“Pria sombong yang begitu narsis, tentu saja aku tidak pernah lupa,” lanjutnya meledek. “Mulutnya yang pedas selalu mengatai ku si culun bodoh!”


Bagas tersenyum dan hanya diam menatap Nina yang berbicara. Dan sesekali dia meraih helaian rambut sang istri yang menutupi wajah cantiknya. Lalu menyelipkan nya di belakang dauh telinga.


“Aku tidak menyangka bahwa malam ini kita kembali duduk bersama di tempat ini dan dikursi yang sama, juga pada jam yang sama...” Nina menyandarkan kepalanya di pundak Bagas.


“Bedanya, dulu kita hanya sebatas orang asing yang baru pertama kali bertemu ... sedangkan sekarang kita adalah sepasang suami istri yang bahagia,” tuturnya kembali.


Bagas menarik tubuh Nina agar semakin mendekat dan di peluknya dengan erat. “Aku mencintaimu, Mochi ... aku berjanji bahwa kau akan selalu bahagia hidup bersamaku dan bersama anak-anak kita.”


Nina mengecup pipi Bagas dengan lembut. “Aku juga sangat mencintaimu, Bagas... terima kasih karena kamu sudah mau menerima aku dan terutama Gio, aku sangat bahagia bisa bertemu dengan pria yang memiliki hati tulus seperti mu...”


Mereka pun melewati malam dengan indah. Mengenang pertemuan pertama mereka ditempat itu. Begitu pun juga dengan Beby dan Agil yang tidur dengan lelap. saling berpelukan dengan dua anak laki-laki tersebut, Gio dan Baby Rey.


Ternyata malam kelam dan pahit itu. Benar-benar mengubah kehidupan Beby, dan orang-orang disekitar mereka. Beby juga sudah belajar banyak hal dengan kesalahan yang pernah dia perbuat.

__ADS_1


Percaya boleh, cinta boleh, tapi jangan mau dibutakan dengan itu semua. Ingat kejujuran itu lebih baik dari kebohongan yang akan membuat hidup mu sendiri hancur. Jangan juga terlalu sombong dan menjunjung tinggi keangkuhan mu. Begitu pun juga dengan rasa iri yang bisa membuat seseorang nekat berbuat sangat keji, seperti yang dilakukan Melanie. Jalani lah hidup yang baik, dan hindari semua perbuatan yang mungkin akan membuat hidup baik mu berubah jadi buruk.


TAMAT.


__ADS_2