
Tiba lah hari pernikahan untuk Beby dan Agil. Suasana yang nampak sangat menggembirakan. Rona kebahagiaan nampak jelas di wajah para keluarga, kecuali Tante Laras yang wajah keriputnya selalu di tekuk.
Kini Beby sudah cantik dan menawan. Memakai kebaya elegan yang khusus disiapkan Agil untuk nya, dipesan langsung dari seorang designer favorit Beby sendiri. Yaitu, Kate Winslet designer terkenal di kota New York.
Ia berdiri di depan sebuah kaca besar di dalam kamarnya. Yang pasti dirumah Nenek nya di Amsterdam, karena mereka berdua akan mengadakan acara ijab qobul disana. Dihadiri para keluarga terdekat saja.
Beby tersenyum menatap betapa cantik nya dia hari ini. Rambutnya di sanggul dengan riasan ringan diwajah, ia nampak begitu menawan. Mata nya tertuju pada bagian perutnya yang ternyata sedikit membuncit. Setelah memakai kebaya yang ketat, barulah dia sadar. Padahal kemarin-kemarin dia mengira perutnya masih rata.
“Sudah berapa bulan aku telat? Aku rasa perutku sedikit membuncit,” ucapnya sambil mengelus perut.
“Ya, ampun! Aku hampir lupa sudah hampir dua bulan aku telat, dan terakhir kali kami berhubungan sekitar dua bulan yang lalu. Sekarang usia kandungan ku-” Beby menutup mulutnya tidak percaya.
Mungkin kah dia sudah hamil lebih dari satu bulan? Ia menggelengkan kepalanya. “Apa tidak kelihatan yah?”
Tok tok tok.
Beby tersentak kaget. Saat pintu kamarnya di ketuk dan masuklah dua orang pria tampan dan maskulin. Beby jadi sedikit tegang dan kikuk karena masalah perut yang membuncit itu.
Bagas dan Prayoga tersenyum menghampiri Beby yang mematung. Prayoga langsung memeluk anak perempuan nya yang sangat cantik itu. Sudut matanya berair, tapi ditahannya dengan kuat agar tidak meneteskan cairan bening itu. Tentu saja, itu adalah air mata kebahagiaan. Sekian lamanya dia baru bisa bertemu kembali dengan anak perempuan nya ini. Prayoga begitu berterima kasih kepada Agil, karena sudah membawa kembali warna dalam hidupnya dan juga hidup Bagas.
“Kamu sangat cantik, sayang,” puji Prayoga, menyentuh dagu Beby.
__ADS_1
“Makasih, ayah,” ucap Beby tersenyum.
“Ya sudah, ayah keluar dulu.” Prayoga menatap Bagas dan segera keluar dari kamar itu. Karena dia tidak sanggup menahan air mata bahagia itu. Ia tidak mau Beby melihat dirinya yang begitu emosional.
Setelah ayahnya pergi, Bagas menatap skeptis sang adik. Ia memegang pundak Beby. “Ada apa?”
“Tidak apa-apa, kak,” jawab Beby sambil menggeleng.
“Gak usah bohong! Kakak tahu pasti ada yang sedang kamu pikirkan?” ucap Bagas memperdalam tatapan nya.
Beby memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Bagas. Karena matanya sedikit memanas, dan ingin mengeluarkan air mata.
“Aku hanya berpikir, mungkin kah jika ayah Arsyad ada disini ... dia akan bahagia seperti kalian semua yang melihatku akan menikah?”
“Apa kamu merindukan nya?” Bagas meraih kedua pundak Beby dan membalikkan tubuhnya.
“Tidak juga,” lirihnya pelan.
“Tatap mataku, Beby.”
Beby mendongak menatap sendu mata Bagas. “Kakak, tahu bahwa kamu sangat merindukan nya.”
__ADS_1
Beby langsung memeluk Bagas dengan erat. Beberapa tetes air matanya menetes. Bagas membalas pelukan sang adik dan mendaratkan kecupan lembut di pucuk kepalanya. Setelah itu melepaskan kembali pelukan nya.
“Sudah, jangan nangis Beby ... tuh jadi jelek lagi kan mukanya,” ejek Bagas sambil mengusap air mata Beby menggunakan tisu dengan perlahan. Agar tidak merusak riasan diwajah sang adik.
“Kamu tenang saja yah, kakak yang akan mengurus semuanya setelah ini.”
Beby mengerinyit tidak mengerti. “Maksud kakak apa?”
“Hahaha,”-Bagas malah tertawa-“lihat saja nanti, bahkan tikus-tikus got itu akan mendapatkan balasan nya.”
Seketika, Beby langsung menangkap arti dari perkataan Bagas. “Maksud kakak mereka?”
“Hahaha,” Bagas malah kembali tergelak. Lalu tiba-tiba saja ponselnya bergetar, Bagas langsung merogoh saku jasnya.
“Agil?”
Melihat Bagas mendapat panggilan, Beby pun membalikan tubuhnya. Kembali bercermin untuk merapikan riasan wajahnya dari air mata tadi.
“Hmm, ada apa?” tanya Bagas dengan ketus kepada Agil.
“Kamu dimana? Dikamar Beby?”
__ADS_1
“Tentu saja, kenapa memangnya?”
“Lama sekali, cepat bawa calon istriku keluar.”