Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 39.


__ADS_3

Agil menatap Bagas yang melirik mereka berdua dari kaca sepion tengah. Bagas adalah sekertaris pribadinya, yang juga merupakan salah satu sahabatnya selain Daniel. Mereka bertiga adalah sahabat dari bangku SMA. Namun semuanya berubah, ketika Mamahnya Bagas menikahi Papahnya Daniel. Membuat Bagas dan Daniel menjadi bertengkar. Ego keduanya membuat persahabatan mereka renggang. Agil berada ditengah-tengah keduanya, berusaha untuk menyatukan kembali kedua sahabatnya itu.


"Gas! Kau itu apa-apaan sih? Aku kan menyuruhmu untuk membawanya masuk kedalam mobil! Tapi kenapa kau malah menarik tangan nya hingga memar!" gerutu Agil menatap tajam Bagas.


"Aku sudah baik-baik, tapi dianya yang memberontak!" Bagas tidak mau dikalah. Sedangkan Beby hanya menatap kedua orang itu yang sedang berargumen.


"Maafkan aku, By," ucap Agil meraih kembali tangan Beby, mengelus lembut bekas memar akibat tangan Bagas.


Beby pun mengangguk dan berkata, " Tidak apa-apa." Lalu ia mengusap bekas air mata diwajahnya, bekas menangis di dalam kantor polisi tadi.


Seketika Beby kembali mengingat perkataan ayahnya. Segera Beby mengalihkan pandangan nya keluar jendela. Agil yang melihatnya, langsung memberi kode Bagas untuk menjalankan mobil.


Bagas pun menyalakan mesin mobil dan membawa mereka ke suatu tempat. Di sepanjang jalan Beby hanya diam, dia juga enggan untuk menatap Agil. Ada perasaan malu dalam dirinya, mengingat betapa hancurnya keluarganya saat ini.


"Sudah sampai," ucap Bagas. Beby dan Agil pun sama-sama menoleh ke arahnya.


"Kau membawa kami kemana?" tanya Agil seraya melihat ke sekitarnya. Begitu pun Beby. Mata keduanya sama-sama tertuju pada, deburan ombak dan pasir putih yang indah.

__ADS_1


"Aku akan membelikan kalian berdua minum, silahkan bicara lebih dulu," ucap Bagas kembali, dia pun segera turun dari mobil. Seakan dia tahu dengan keadaan nya. Beby pasti memerlukan privasi untuk bicara.


Sepeninggal Bagas. Beby kembali menatap keluar jendela, tidak mau menatap ke arah Agil.


"Ayah? Jadi selama ini aku bukan anaknya! Lalu kenapa dia memberikan ku marga Endrawira, jika aku bukan keturunan nya! Beby, kau sungguh bodoh, bagaimana bisa kau tidak menyadarinya! Sejak dulu dia selalu bersikap dingin padamu!" gumam Beby dalam hati.


Perasaan nya begitu kacau, belum kering masalah yang kemarin. Sekarang malah disimbur kembali dengan masalah baru. Hati, pikiran, dan tubuhnya hampir tidak sanggup menahan gejolak kehidupan ini.


"Beby Moelinda Endrawira," ucap Agil.


Seketika Beby langsung menoleh, dan menatap Agil yang tengah memegang sebuah tablet ditangan nya. Pandangan Beby tertuju pada tablet itu, yang terdapat gambar dirinya serta biodatanya.


"Hmm," jawab Agil dengan anggukan.


"Tidak sopan!" cetus Beby memalingkan wajahnya kembali sambil mengusap air matanya yang sempat menetes.


Agil tersenyum usil melihat wajah cemberut Beby. "Oh...jadi kau adalah anak dari keluarga Endrawira?"

__ADS_1


Beby kembali menatap Agil sambil mengerinyit. "Kenapa memangnya?"


"Tidak apa-apa, aku hanya mengira kau adalah wanita liar yang tidak memiliki siapa pun. Dan aku tergerak untuk menjadi malaikat penyelamat mu." Agil megembangkan senyuman miring nya.


"Cih, percaya diri sekali! Darimana nya kau dilihat seperti malaikat!" cibir Beby dengan tatapan mengejek.


"Dari ketampanan ku lah, dan kau adalah bidadari nya," tutur Agil dengan percaya dirinya.


"Ieughh...dasar gombal! Maaf yah, aku tidak akan tergoda oleh gombalan mu! Menjijikan!" Beby memutar bola matanya malas sambil badan nya yang bergidik. Merasa geli dengan ucapan Agil.


Membuat Agil yang melihatnya, tergelak. Dia pun langsung menarik Beby kedalam dekapan nya. Mengelus lembut kepala wanita itu dan menghujami nya dengan kecupan.


"apa yang kau lakukan?" Beby mencoba melepaskan diri dari Agil. Namun, pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Berhentilah menangis," ucap Agil. Tiba-tiba jantung Beby berdetak tidak karuan. "Aku tidak menangis," lirihnya.


"Tidak diluar, tapi kau menangis di dalam! Kau tidak sendirian Beby, jangan menganggap dirimu tidak memiliki siapa pun. Karena ada aku disini..." Agil merenggangkan pelukan nya. Kemudian meraih dagu Beby, menegakkan nya hingga wajah mereka sejajar.

__ADS_1


🌺🌺🌺



__ADS_2