Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 112.


__ADS_3

Satu tahun sudah berlalu. Bagas kembali dari Amsterdam ke kota J. Untuk bertemu dengan adik dan keponakan barunya. Akan tetapi ia tidak bisa berlama-lama di kota J. Karena ia masih harus mengurus perusahaan yang ada di kota B. Masalah keuangan nya sangat kacau. Cabang di kota B hampir bangkrut dan ditutup oleh pihak Bank, akibat hutang yang menumpuk.


Karena itu Tuan Prayoga meminta Bagas secara khusus mengurus nya. Dia yakin bahwa anak nya itu pasti bisa menyelamatkan cabang perusahaan nya tersebut. Dengan keahlian Bagas di dunia bisnis yang tidak jauh berbeda darinya.


Cabang perusahaan Prayoga Company yang akan di kelola oleh Bagas. Tidak memakai nama Prayoga Company, melainkan nama lain. Karena perusahaan tersebut awalnya adalah perusahaan milik pengusaha yang bangkrut. Dan Tuan Prayoga membeli dan melanjutkan nya. Perusahaan itu bernama Blue Print Corporation.


“Halo, iya ayah ... ini aku baru saja sampai, sekitar satu jam perjalanan dari kota J.”


Ia berbicara di telpon dengan Tuan Prayoga sang ayah. Setelah memutuskan panggilan. Bersamaan dengan mobil nya yang berhenti di sebuah apartemen.


“Tuan, silahkan.”


Asisten pribadinya membukakan pintu mobil. Bagas memperbaiki kancing jas nya dan segera turun dari mobil. Ia mengedarkan pandangan nya menyapu suasana sekitar.


Kota B dikenal dengan cuaca dingin dan sejuknya. Karena kebanyakan di kelilingi oleh pegunungan yang rindang dengan pepohonan. Sungguh pemandangan yang begitu segar dan enak dipandang. Begitu pun juga dengan letak Apartemen tersebut, yang berada diatas puncak gunung.


“Silahkan Tuan, saya akan mengantarkan ke unit anda.”


Bagas menatap asisten pribadi baru itu yang dipilihkan langsung oleh Tuan Prayoga untuk nya. Meskipun awalnya Bagas menolak, tapi dia pikir tidak masalah. Asisten pribadi itu juga kelihatan nya orang yang bisa di percaya.


“Ini kartu unit anda, Tuan ... kapan pun anda menghubungi saya, saya pasti siap 24 jam penuh.”


Bagas tersenyum dan menepuk pundak asisten pribadi yang nampak tegang itu. “Santai saja ... aku bukan monster yang harus kau takutkan,” ucap Bagas.


“Tapi, Tuan-”


“Siapa namamu?”


“Nama saya Dian Kusuma, Tuan. Anda bisa memanggil saya Dian.”


Bagas kembali tertawa pelan. Melihat tingkah asisten pribadi itu. Dia kaku dan tegang, benar saja Bagas tidak bisa menahan tawanya. Mengingat waktu dia yang menjadi asisten pribadi Agil. Hampir setiap hari dia yang suka mengomeli Agil, bukan malah Agil yang mengomelinya.


“Yasudah, kau bisa pergi. Tidur yang nyenyak malam ini, karena besok adalah hari pembantaian mu,” ucap Bagas.


“Hah? Apa Tuan? Hari pembantaian?” Raut wajah Dian menjadi ketakutan.

__ADS_1


“Hahaha, aku hanya bercanda. Jangan terlalu kaku jadi pria, tertawa lah untuk merenggangkan rahang mu yang tegang.” Bagas terus tertawa. Dia masuk ke dalam unit apartemen nya dan menutup pintu.


Dia masih terpaku di depan pintu. Dia menghela nafas lega. Kegugupan nya tadi malah membuat bos barunya tertawa. Jauh dari ekspektasi nya. Dian berharap menjadi asisten yang tegas dan sigap di depan bos baru. Tapi malah di bencandain oleh bos nya itu. Dian merasa aneh dengan sifat bos barunya itu, dia semakin penasaran terhadap Bagas. Sebenarnya Bagas Prayoga itu orang nya seperti apa. Ia pun pergi.


***


Di dalam apartemen yang hanya memiliki satu buah kamar, dapur, ruang santai dan balkon. Sedangkan kamar mandi ada di dalam kamar. Bagas membuka pintu balkon nya. Membiarkan udara sejuk nya pegunungan malam hari, masuk menyejukkan ruangan santai nya.


“Lumayan juga kota ini bisa buat refreshing, udaranya sangat sejuk,” ucap Bagas memuji keindahan kota itu. Dari atas apartemen nya yang ada di atas puncak. Ia bisa melihat jelas keindahan kota B di malam hari.


Tiba-tiba saja terlintas di pikiran nya. Sosok Nina yang waktu pertama kali mereka bertemu. Yaitu di mansion Agil yang berada di pinggir pantai. Saat itu Nina yang membiarkan rambut panjang nya terurai sedang berdiri di teras mansion yang menghadap ke pantai, menatap matahari tenggelam di ufuk barat.


“Si cupu bodoh itu ... apa dia marah padaku? Karena itu dia menghilang?”


Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. Bagas mengeluarkan sekotak rokok dari dalam sakunya. Lalu mengambil satu batang dan menyesapnya.


“Hmm, dimana kau sekarang?”


Ia menyesap rokok itu dan menghembuskan gempulan asap di udara. Menatap ke arah kota yang indah dengan kerlapan lampu-lampu gedung dan rumah-rumah.


Bagas berhenti merokok lima tahun yang lalu. Tapi dalam setahun belakangan, dia mulai kembali merokok. Entah apa alasan nya. Bagas hanya merasa pikiran nya tidak tenang dan selalu dibayangi kenangan masa lalu nya. Karena itu dengan merokok dia bisa merasa tenang.


Wanita itu bernama Naina, cantik dan pintar. Mereka bertemu saat Bagas kuliah di Amsterdam. Bagas dan Naina berada di kelas yang sama. Hari demi hari berlalu mereka semakin dekat, dan akhirnya memutuskan untuk pacaran. Setahun menjalani kasih, tiba-tiba saja Naina menghilang tanpa kabar. Membuat Bagas frustasi, dan dia meninggalkan Amsterdam dan datang ke kota J. Untuk melupakan kenangan-kenangan nya bersama Naina.


Sejak saat itu Bagas merasakan hatinya sudah mati. Jantungnya tidak pernah berdegup lagi kepada seorang wanita. Terlebih saat itu Bagas juga bertengkar dengan ayahnya. Sedangkan ibunya sibuk dengan kehidupan barunya menikah dengan ayah dari sahabatnya sendiri yaitu Daniel.


Akhirnya Bagas memutuskan untuk bekerja dan menjadi asisten pribadi sahabatnya Agil. Sepenuhnya dia sudah melupakan sosok Naina perlahan. Akan tetapi, Bagas mulai dilema ketika pertemuan pertamanya dengan Nina.


Wanita berkaca mata dengan penampilan biasa. Dia memiliki mata indah yang mirip dengan mata Naina. Bagas hafal sekali tatapan mata Naina, dan tatapan itu ada pada Nina wanita berkaca mata itu.


Tetapi Nina juga sama, dia menghilang begitu saja tanpa kabar. Bagas mulai lelah dengan permainan hatinya. Hati yang sudah lama mati, tiba-tiba saja berdebar kembali. Kepada wanita culun berkaca mata itu.


Bagas tidak sadar jika sudut matanya mengeluarkan cairan bening. Saat sadar, dia langsung mengusapnya. Menatap cairan bening itu di punggung tangan nya.


“Sepertinya mata ku kemasukan debu,” ucapnya tertawa sumbang.

__ADS_1


Drrt drrt drrt.


Ponselnya bergetar. Ia sengaja mengubah mode menjadi getar saja dari saat di pesawat. Senyuman nya terukir lebar. Melihat panggilan video dari adik kesayangan nya, Beby. Segera Bagas menggeser tombol hijau disana dan mensejajarkan ponsel dengan wajahnya.


“Happy birthday, yeayyy,” teriakan Beby begitu melengking.


Bagas tersenyum. “Hahaha, siapa yang ulang tahun?”


“Kerja boleh tapi masa ulang tahun sendiri gak ingat,” ucap Beby.


“Sudah, Moe. Dia itu bukan tidak ingat, tapi sengaja mau narsis,” celetuk Agil yang berada di sebelah Beby.


Bagas tertawa. “Hei, orang ganteng gak perlu narsis sudah banyak yang suka.”


“Cih, Moe lihat ... kakak mu itu sungguh narsis.”


Bagas dan Beby tertawa bersamaan. “Selamat ulang tahun kak, semoga segera dapat jodoh yah ... hahaha.”


“Iya benar kata, Moe. Cepat cari jodoh biar ada yang peluk saat tidur,” celetuk Agil kembali seraya mencium pipi Beby.


“Kalian itu kalau nelpon hanya untuk mengejek ku, mending aku matiin sekarang,” sahut Bagas ketus.


“Yah, gitu aja marah,” ucap Agil tertawa.


“Dimana keponakan ganteng ku, lihat kalian aku sudah muak.”


Agil dan Beby tertawa bersamaan. “Rey sedang bersama Nenek Diana ... kami akan menjemputnya sekarang,” ucap Beby.


“Yasudah kalau begitu, jangan terlalu malam kasihan Rey jika terkena angin malam. Kalau kalian sih aku gak perduli, mau sakit apa gak,” ucap Bagas ketus.


Membuat Beby dan Agil kembali tertawa. “Baiklah, bye kak. Jaga kesehatan mu,” ucap Beby.


“Kalian juga jaga kesehatan,” ucap Bagas seraya memutuskan panggilan.


Ia pun masuk kembali ke dalam ruangan santai dan menutup pintu balkon nya. Lalu masuk ke dalam kamar. Membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Karena besok adalah hari pertamanya di perusahaan Blue Print Corporation. Bagas menyiapkan dirinya untuk menyesuaikan diri.

__ADS_1


TBC.


Note : Berikan pendapat kalian dong🤭.


__ADS_2