
Bagas Prayoga 27 tahun. CEO muda yang penuh kharisma. Terkadang suka narsis dengan kegantengan nya, terkadang juga bisa sedingin es. Dia juga tipe cowok yang curigaan dan tidak gampang percaya kepada orang lain.
Nina (Frederica Mochini) 24 tahun. Pegawai baru dalam setahun terakhir. Cantik dan cekatan. Dia di kenal dengan Nona Nina yang dermawan. Karena jiwanya yang suka membantu. Orang-orang tidak mengenali nama aslinya, karena menurut Nina nama itu aneh. Berbeda dengan nama anggota keluarga yang lain.
Beby Moelinda Endrawira 24 tahun. Hot Mommy yang suka glamor, dan sangat manja kepada suami. Mulutnya pedas dan memiliki sifat angkuh tingkat dewa. Kesombongan mutlak nya yang memang dari lahir susah untuk dirubah. Tapi sebenarnya, dia sangat baik hati kepada orang-orang terdekatnya.
Ragilio Ganendra, 26 tahun. Hot Daddy, yang hobinya manjain istri. Segala harta dan nyawa nya sekali pun akan dia berikan untuk kebahagiaan istri dan anaknya. Sudah tampan, dewasa, kaya, punya badan proporsional, Seksi, dan juga penyayang. Dia suami idaman banget.
Baby Rey, (Reymond Ganendra) 8 bulan. Lucu imut, bertubuh gembal, dan gemesin. Dia memiliki mata yang indah seperti Mommy Moe, dan wajah tampan seperti Daddy Agil.
__ADS_1
...đșđșđș...
Keesokan harinya.
Alarm di ponselnya terus berdering. Bagas yang kala itu masih terlelap, merenggangkan tubuhnya untuk bangun. Ia meraba ponsel yang ada di bawah bantal. Dengan mata satu yang terbuka, dia melihat jam yang tercantum pukul tujuh pagi. Alarm pun dimatikan.
Dengan malas nya dia bangun dan duduk di atas ranjang. Memijit matanya yang masih enggan untuk terbuka. Karena cuaca yang dingin dan sejuk membuat tidur nya sangat nyenyak semalam. Alhasil rasa malas melanda di pagi hari.
Bagas pun berusaha untuk membuka matanya dan beranjak dari ranjang. Kemudian berjalan lunglai ke kamar mandi. Masih belum sadar sepenuhnya, dia tidak sadar menyalakan air keran wastafel.
âOhh Shitt!â
Dia mengumpat ketika merasakan air keran yang begitu dingin. Seketika matanya langsung membulat dan terang.
âAku lupa mengatur keran air hangat nya, disini dingin sekali,â ucap Bagas.
Ia pun melepaskan piyama tidur nya dan segera mandi dibawah guyuran air shower yang hangat. Setengah jam kemudian, kini dia sudah siap dengan setelan kerja. Kemeja putih celana biru tua, serta jas yang serasi dengan celana nya. Bagas tampak sangat menawan.
Bagas keluar dari kamar dan berjalan ke arah dapur. Membuka lemari es, mencari sesuatu yang bisa buat mengganjal perutnya.
âTernyata sudah disiapkan ... lumayan lengkap,â ucap Bagas melihat isi lemari es yang lengkap dengan makanan.
Bagas tertawa pelan. Ketika pembawa berita membicarakan mengenai âBlue Print Corporationâ yang berada dalam titik rendah, atau hampir bangkrut.
âKalian bisa tertawa sepuasnya ... aku akan membawa kembali nama âBlue Print Corporationâ dan mengganti nya dengan âPrayoga B Corporationâ, hahaha.â
Bel pun berbunyi. Bagas yakin jika itu adalah Dian asisten pribadinya. Bagas pun beranjak dari duduk nya kemudian memperbaiki kancing jas dan keluar dari unit apartemen nya.
âSelamat pagi, Tuan.â
Bagas menepuk bahu Dian. âSudah, jangan kebanyakan formalitas ... jika kau terus seperti ini, aku bisa terus tertawa melihatmu,â ucap Bagas terkekeh.
Dia berjalan di depan Dian. Memasuki lift dan tutun ke lobby. Di lobby Dian mempersilahkan Bagas dan menuntun nya ke mobil yang sudah dia siapkan.
Bagas masuk ke dalam mobil. Dia duduk di kursi belakang. Membiarkan Dian fokus menyetir di depan.
âJadi hari ini, apa saja jadwal ku?â tanya Bagas seraya membaca beberapa kertas yang ada di dalam amplop coklat.
âEm, hari ini ada pertemuan para pemegang saham terbesar dan pertemuan dengan para karyawan sebagai pengenalan,â ucap Dian melirik dari kaca sepion tengah.
__ADS_1
âHuh, sepertinya aku harus berusaha keras.â Bagas menghela nafas membaca data keuangan yang setiap bulan nya terus menurun.
âBatalkan pertemuan dengan para karyawan, aku tidak suka memperkenalkan diri depan orang banyak. Biarkan saja mereka akan tahu dengan berjalan nya waktu tentang diriku.â
Lampu lalu lintas berubah merah. Dian menghentikan mobil mematuhi peraturan lalu lintas. Sembari menunggu dia terus menatap Bagas dari sepion tengah.
âAneh sekali dia ... biasanya orang akan senang memperkenalkan diri di depan para karyawan, untuk memamerkan jabatan tinggi yang dia punya. Tapi, dia malah tidak menyukai hal itu,â batin Dian.
Merasakan jika dirinya sedang di pandangi. Bagas menaruh kertas data keuangan itu di kursi sebelahnya. Kemudian menatap dingin ke arah sepion tengah. Dimana mata nya dan mata Dian menyatu.
âKenapa melihatku seperti itu?â
Dian langsung kelabakan, dan memalingkan wajahnya dengan cepat. âMaaf, Tuan. Saya tidak bermaksud apa-apa,â jawab nya gugup sambil berusaha menelan saliva sekeras batu.
Bagaimana dia tidak gugup, jika tatapan Bagas sedingin es kutub utara. Membuat jantung Dian seketika berhenti berdetak. Jauh dari ekspektasi nya, ternyata bos baru nya adalah seorang pria yang aneh. Terkadang dia bisa tersenyum dengan ramah, dan terkadang juga tatapan ramah nya berubah dingin seperti es.
âJika tidak ada yang salah, fokuslah memperhatikan jalanan jangan tengok sana-sini,â perintah Bagas.
âBaik Tuan,â jawab Dian sigap.
Asisten pribadi yang malang itu pun, meluruskan pandangan nya. Menatap jalanan dan hanya jalanan saja. Sesuai dengan perintah bos nya.
Bagas hendak tertawa namun ditahan nya. Karena dia sedang dalam mode serius. Jika sedang serius, bahkan nyamuk sekalipun tidak berani lewat di depan nya. Tapi wajah tegang Dian, berhasil membuat Bagas hampir tertawa di dalam mode serius nya.
Bagas pun mengalihkan pandangan nya ke arah kanan. Tidak sengaja menatap mobil yang ada di sebelah nya. Kaca nya yang terang, menampakan jelas seorang wanita cantik yang duduk di kursi sebelah pengemudinya.
âCulun? Bukan kah itu si culun?â
Lampu pun berubah hijau dalam sekejap. Mobil itu melaju mendahului mobil yang dikendarai Dian. Bagas tidak berhenti menatap mobil itu yang semakin menjauh.
âApa aku salah lihat? Dia tidak memakai kaca mata, tapi aku yakin dia si culun.â
âAkhh, sial! Untuk apa aku perduli itu culun atau bukan.â
Bagas menghela nafas kasar, sambil merenggangkan dasi nya. Dia sudah mengacaukan pikiran nya pagi ini. Karena melihat wanita yang mirip Nina. Bagas jadi kepikiran terus menerus. Dia pun memijit pelipisnya yang menegang sembari menyandarkan tubuhnya.
Tidak lama kemudian sampai lah mereka di sebuah gedung kantor berlantai sepuluh. Benar, itu adalah âBlue Print Corporationâ. Sebelum mobil berhenti di depan lobby. Bagas memperhatikan dengan seksama gedung tersebut. Dia berpikir akan mengganti nama perusahaan itu dan mendekorasi kembali gedung tersebut.
TBC.
__ADS_1
Note : Ayo bantu vote, biar makin semangatđ