
Diperjalanan suasana begitu hening. Daniel menatap punggung wanita yang tengah memalingkan wajahnya, menatap sendu keluar jendela. Meskipun dia tidak mengatakan apapun dan tidak menampakan sesuatu. Daniel bisa merasakan betapa sakit hatinya saat ini.
Huft.
Daniel menghela nafas panjang dan menyandarkan kepalanya. Memijit pelipisnya yang sempat menegang akibat berhadapan dengan dua manusia biadab tadi.
“Eehhmm....” Daniel berdehem untuk mencairkan suasana.
“Pliss, jangan bicara padaku untuk saat ini. Kamu membohongiku, tentang kakak ipar.”
Deg.
Daniel terdiam, saat tiba-tiba dadanya terasa sesak. Dingin dan ketus, tidak pernah sebelumnya wanita di hadapan nya itu berbicara dengan nada dingin padanya. Dan untuk pertama kalinya ini, sikap dingin Freeya membuat dia merasa bahwa, dia adalah satu-satunya pria yang akan memiliki wanita ini.....selamanya.
“Aku akan menjelaskan nya saat sudah sampai di rumah,” ucapnya dengan penuh rasa canggung dan rasa bersalah. Karena sudah membohongi Freeya waktu itu, mengenai dirinya dan Agil.
Freeya tidak menjawab perkataan nya. Dan suasana semakin dingin dan canggung. Daniel mengusap wajahnya dengan kasar, bingung harus melakukan apa. Agar membuat wanita disampingnya itu kembali ceria lagi, seperti biasanya.
***
“Kita bicara di ruangan ku,” ajak Daniel seraya meraih tangan Freeya saat memasuki rumahnya.
__ADS_1
“Aku sedang tidak ingin bicara denganmu saat ini.”
Wanita itu menatapnya dingin dan melepaskan tangan yang ia genggam. Lalu melangkah pergi meninggalkan nya.
“Freeya...”
Daniel menatap sendu kepergian Freeya yang menaiki tangga menuju lantai dua.
“Sial! Apalagi yang harus ku lakukan? Dia sangat marah padaku.”
Daniel kembali mengusap wajahnya dan menghela nafas dengan kasar. Dia pun berjalan ke arah ruang kerjanya, diikuti asisten Dion dibelakangnya.
Dari kejauhan ada sepasang anak kembar yang tengah mengintip dari balik tembok. Ketegangan yang baru saja terjadi diantara pria dan wanita dewasa itu.
Kaisar menghela nafas dan melirik Ratu. “Sejak kapan kamu memanggilnya dengan seperti itu?”
“Apaan sih, Kai? Memang nya salah ya? Meskipun aku tidak suka dengannya, tapi tetap saja dia memang cantik! Seperti aku ya kan,” ucap Ratu dengan percaya diri.
Kaisar memutar bola matanya malas. “Dia cantik dan baik hati, berbeda dengan mu, cantik enggak tapi nakal!”
Kaisar pun pergi begitu saja meninggalkan kata-katanya yang ketus kepada Ratu. Gadis kecil itu mendengus kesal dan cemberut mengejar langkah saudara kembarnya itu.
__ADS_1
Di dalam kamarnya. Freeya melepaskan jas nya dan melempar tas nya ke atas sofa. Lalu dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu.
“Ayah, tega sekali kamu memperlakukan ku seperti sebuah barang!”
Jangan kan untuk berteriak, bahkan menangis pun sudah tidak ada artinya lagi. Percuma, pikirnya. Tidak akan mengubah sifat ayahnya. Freeya menghela nafas dan membuka mata, menatap langit-langit kamarnya.
“Air mataku sangat berharga, dan aku tidak akan menyia-nyiakan nya. Hanya untuk sosok ayah yang tega memperlakukan putrinya sendiri seperti sebuah barang. Ayah tidak pernah berubah sejak dulu.”
Freeya menarik sudut bibirnya. Memaksakan diri untuk tegar dan tersenyum. Dia tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Apalagi sampai menampakkan kesedihan nya pada orang lain.
Disaat dia sedang menangkan pikiran nya. Tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk. Dia melirik kearah pintu dengan dahi mengkerut.
“Siapa?”
Segera beranjak dari ranjang dan berjalan kearah pintu.
“Kaisar....Ratu?”
Senyuman nya ter-utas begitu saja saat melihat sepasang anak kembar, yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
“Apa kami boleh masuk?” tanya Ratu yang berwajah ketus. Tidak dengan Kaisar yang bahkan tidak mau menatap Freeya. Sikap keduanya selalu bisa membuat hati Freeya tergelitik.
__ADS_1
“Masuklah....”
To be continued....