Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 126.


__ADS_3

Frederica Mochini (Nina)



Bagas Prayoga



Selama hampir satu jam. Nina duduk disebuah bangku dan penata rambut sedang melakukan sesuatu pada rambutnya. Nina menatap ke arah Bagas yang duduk tepat disofa depan nya.


Pria itu sama sekali tidak mengalihkan pandangan nya kepada Nina. Ia duduk menyilang kaki dan menumpu dagu dengan tangan nya. Nina menelan salivanya karena gugup. Tatapan Bagas seakan mengintimidasinya.


“Tuan, ponsel anda berdering,”ucap Dian.


Bagas tersentak kaget dia langsung melihat ponsel yang ada di atas meja. Lalu segera meraihnya dan pergi ke balkon.


“Ada apa dengan nya? Kenapa hari ini dia begitu aneh? Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran nya,” batin Nina.


Balkon.


Bagas mengangkat panggilan tersebut. Yang tak lain dari Agil.


“Ada apa?” Bagas menghela nafasnya. Ia bertanya walaupun tahu apa yang akan dikatakan oleh Agil. Mengingat kejadian tadi sore di rumah Gerry.


“Ada apa dengan mu? Apa kau sudah bertemu dengan Gerry?”


“Sudah,” jawab Bagas lirih.


“Besok aku akan kesana bersama, Beby.”


“Mau apa kalian kemari?” tanya Bagas terkejut.


“Melanie sudah bebas.”

__ADS_1


“Apa? Bebas? Bagaimana bisa?”


“Entahlah, tidak ada informasi yang bisa kudapat. Yang aku tahu, dia di jamin oleh seseorang.”


“Sangat aneh, siapa yang memiliki uang sebanyak itu untuk menjamin nya keluar?”


“Besok kita bicarakan bersama, sampai jumpa.”


Panggilan pun terputus.


Bagas pun kembali keruang santai. Langkahnya terhenti melihat Nina yang berdiri tepat dihadapan nya. Wanita itu nampak begitu cantik.


“Bagaimana penampilanku?” tanya Nina.


Bagas tersentak dari lamunannya. “Kau ... kau lumayan cantik,” jawab Bagas gugup.


Nina mengerucutkan bibirnya. “Kau ini selalu saja menyebalkan, Bagas.”


“Memang nya kau berharap apa? Jangan terlalu percaya diri,” ucap Bagas memalingkan wajah dan berjalan menuju kamarnya tanpa menatap Nina.


“Silahkan, saya akan mengantar anda pulang.” Dian mempersilahkan penata rambut. Sebelum dia pergi dia berpamitan juga kepada Nina. Dengan ramahnya Nina tersenyum.


Setelah kepergian Dian. Nina menyusul Bagas masuk ke dalam kamar. Pria itu tengah berbaring diatas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Ia pun duduk ditepi ranjang.


Ditatapnya wajah Bagas yang dahi nya mengkerut serta rahang nya yang begitu tegang. “Apa aku terlihat sangat buruk?”


Bagas berhenti memainkan ponselnya. Dia melirik Nina yang duduk di tepi ranjang. Ia duduk dan menggeser tubuhnya mendekati Nina.


“Tidak, tapi kau sangat cantik. Bagaimana pun penampilan mu, kau terlihat sangat cantik.”


Nina tersenyum mendapat pujian dari Bagas. “Kalau begitu kenapa sikap mu sangat aneh? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu?”


“Melanie sudah bebas,” tutur Bagas dengan menghela nafas panjang. “Aku takut dia akan kembali mencelakakan, Beby.”

__ADS_1


“Jika terjadi sesuatu pada Beby ... aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.” Bagas menunduk menyembunyikan kesedihan nya.


Bagas merasakan ranjang bergerak. Ternyata Nina naik ke atas ranjang dan segera memeluk dirinya. Bagas menelan saliva saat dadanya mulai berdetak kencang untuk kesekian kalinya kepada Nina.


“Tenang lah ... bukan kah kau sendiri yang katakan padaku, jika semuanya akan baik-baik saja,” kata Nina mencoba menenangkan Bagas.


“Kau benar, semuanya akan baik-baik saja.” Ia melingkarkan tangan nya dengan erat ditubuh Nina. Semakin bersandar dengan nyaman dipundak wanita itu. Setelah beberapa detik kedua nya tersadar lalu kembali melepaskan pelukannya.


“A-apa kau lapar? Aku akan masak sesuatu.” Gugup, Nina sangat gugup dia gelagapan turun dari ranjang.


“Hmm, sedikit,” jawab Bagas.


“Kalau begitu aku keluar.”


Bagas menatap kepergian Nina. Wanita itu nampak sangat cantik dengan rambut barunya. Tanpa sadar Bagas malah tersenyum.


***


Aroma sedap tercium di indra penciuman Bagas. Saat dia baru saja keluar dari kamar. Matanya melirik ke arah pantry. Disana Nina nampak serius dengan masakan nya. Sampai tidak sadar ada dirinya.


Bagas duduk di meja makan. Menumpu dagu dengan tangan nya diatas meja. Memperhatikan Nina tanpa berpaling. Rasanya sudah seperti suami istri saja.


“Jangan menaruh racun di makanan ku,” celetuk Bagas, membuat Nina terlonjak kaget.


“Oh, astaga kau mengagetkan ku ... aku tidak mungkin meracuni mu, karena-” Nina tidak melanjutkan kata-katanya.


“Karena apa?” tanya Bagas.


“Tidak,” jawab Nina singkat lalu kembali membelakangi Bagas.


“Apa dia memiliki perasaan spesial padaku? Hahaha, Bagas kau terlalu percaya diri,” batin Bagas.


Malam itu mereka makan malam bersama. Pasta rumput laut bikinan Nina. Setelah makan malam mereka kembali tidur. Tapi Bagas memilih tidur di sofa ruang santai. Dia tidak mau mengganggu tidur Nina. Karena besok mereka akan pergi menjemput Gio.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2