Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 85.


__ADS_3

“Agil, hiks hiks.” Beby hanya bisa memanggil nama Agil dan menangis.


Pria itu pun mengajak Beby kesebuah taman. Agil meminta Beby duduk dan menunggunya kembali di sebuah bangku taman. Agil pergi untuk membeli air mineral untuk Beby.


Beby terus menangis. Bayang-bayang wajah Linda, Prayoga, dan juga Bagas saat di restauran tadi. Tergambar jelas di ingatan nya. Ia tidak menyangka jika Bagas adalah kakaknya.


“Ini minumlah dulu,” ucap Agil seraya memberikan sebotol air mineral kepada Beby. Dengan perlahan Beby mulai meminum habis air tersebut.


Agil menatap lekat wajah kekasihnya itu. “Dia pasti begitu syok dengan kejadian barusan,” batin Agil.


“Kamu baik-baik saja, Moe?” tanya Agil seraya mengelus puncak kepala Beby.


Beby menatap nya dengan mata yang masih basah. “Agil, apakah kamu sudah tahu bahwa Bagas-” Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Agil mengangguk dan berkata, “Maafkan aku, Moe. Seharusnya aku memberitahumu dari awal, tapi aku-”


Beby menutup mulut Agil dengan tangan kecilnya. “Kamu tidak salah, sayang. Aku yakin ini caramu untuk memberitahu kami tentang kebenaran nya, hanya saja-”

__ADS_1


“Ada apa?” Agil meraih dagu Beby dan mengarahkan wajah wanita itu ke arah nya.


“Aku ... aku merasa dadaku begitu sesak saat mengetahui kebenaran itu. Aku memang sangat ingin bertemu ayah kandung ku, tapi saat berhadapan dengan nya saat di restauran. Tubuhku seakan mati rasa, yang aku pikirkan saat itu hanyalah ‘aku butuh udara sesak dan keluar dari kesesakan itu’.”


“Apa kamu membenci nya?”


“Tidak, aku tidak membencinya. Aku tidak mengerti apa yang aku rasakan saat ini.”


“Kemarilah,” ucap Agil seraya menarik Beby ke dalam pelukannya.


“Aku sangat mengenal Tuan Prayoga dan juga Bagas tentunya ... mereka adalah orang-orang yang baik, dan aku juga tahu bahwa selama ini Prayoga berusaha sekeras mungkin untuk menemukan Bunda mu.”


“Aku tahu,” potong Beby dengan cepat.


“Selama ini dia juga berusaha keras untuk menemui ibu tiri dan adik nya,” sambung Beby.


Agil mengangguk dan mengecup pucuk kepala Beby. “Cobalah untuk menerima kebenaran ini, Moe.”

__ADS_1


Tap tap tap.


Seseorang mendekati mereka berdua. Yang tak lain adalah Bagas. Pria itu berdiri tepat dihadapan Agil dan Beby sambil membawakan tasnya.


“Bagas,” ucap Agil melepaskan pelukan nya.


Beby sadar jika pria itu adalah Bagas. Dengan cepat dan sedikit kikuk ia mengusap air mata dan duduk kepinggir bangku. Masih ragu untuk menatap wajah Bagas.


“Aku akan menyapa Nyonya Linda dan Tuan Prayoga, berbicara lah disini,” ucap Agil beranjak dari tempat duduk nya.


Sebelum pergi Agil menepuk bahu Agil dan mengangguk. Untuk menyemangati Bagas, karena dia tahu bahwa Beby sangat keras kepala. Sangat susah untuk membujuknya.


Sepeninggal Agil. Dengan ragu-ragu Bagas duduk tepat disebelah Beby. Ia menyodorkan tas yang ia pegang kepada Beby. “Ini milikmu,” ucapnya.


“Terima kasih,” sahut Beby meraih tas itu tanpa menatap ke arah Bagas.


Bagas bingung harus memulai percakapan dari mana. Karena kini adik yang selama ini dia rindukan ada didepan matanya. Bahkan dalam beberapa bulan terakhir, tanpa disadari mereka ternyata sangat dekat.

__ADS_1


“Jadi, kita ini bersaudara,” ucap Bagas menatap punggung belakang Beby yang berpaling. Ada perasaan kecewa yang dia rasakan. Karena wanita yang baru saja dia ketahui adalah adiknya, enggan untuk menatapnya.


__ADS_2