
Freeya duduk dengan perasaan tidak tenang di ruang makan. Karena sedari tadi sepasang anak kembar di depan nya itu, hanya diam dan bahkan tidak mengangkat kepala mereka, untuk menatapnya. Mereka sibuk dengan ponsel dan juga santapan makan malam mereka.
“Eehhmm.” Dia berdehem, agar suasana tidak secanggung ini.
“Ratu, Kaisar, dimana ayahmu? Apa dia tidak makan malam bersama dengan kita?” tanya Freeya, sambil menengok ke kanan dan kiri, mencari sosok Daniel yang tak kunjung datang ke ruang makan.
“Entahlah,” sahut Ratu dengan singkat dan mengedikkan bahunya.
Sedangkan Kaisar hanya diam dan masih fokus dengan santapan nya. Sejak Freeya berkata bahwa dia akan menikahi ayah mereka, Ratu dan Kaisar menjadi bingung untuk menghadapi Freeya seperti apa.
Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. Freeya menoleh ke arah suara tersebut. Alisnya terangkat sebelah, dia memasang wajah jutek dan memalingkan wajahnya dengan cepat.
Daniel menghela nafasnya dan segera duduk di sebelah Freeya. Setelah dia duduk para pelayan mulai melakukan tugasnya.
Ruang makan sudah seperti kuburan. Tidak ada percakapan dan hanya suara sendok, garpu, yang beradu dengan piring kaca.
“Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa hanya diam seperti itu?” tanya Daniel kepada kedua anak nya.
Kaisar dan Ratu sama-sama menengadahkan kepala mereka. Wajah dingin dengan tatapan yang tajam yang dia dapatkan. Daniel pun mengernyitkan keningnya, merasa aneh dengan tatapan tersebut.
Saat dia menoleh ke sebelah, tak sengaja mereka berdua saling menatap. Wajah Freeya memerah dan dia langsung memalingkan wajah dengan cepat.
“Freeya, tenanglah. Dia seorang duda yang memiliki anak yang sudah besar-besar... bagaimana bisa kamu tertarik padanya?” gumam Freeya sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang.
__ADS_1
“Wanita ini, apa dia masih marah padaku?” gumam Daniel dalam hati.
“Tuan, ini dia pesanan anda,” kata Asisten Dion dengan terengah-engah. Seperti seseorang yang habis lari maraton 5km. Dia memberikan sebuket bunga tulip putih yang cantik kepada Daniel.
Daniel jadi salah tingkah karena Freeya, Ratu, dan Kaisar, menatap penuh tanya kearahnya. Dia pun melotot pada Asisten Dion yang masih terengah-engah.
“Dion, aku rasa kamu benar-benar mau gaji mu aku potong ya?” bisik Daniel dengan geram.
“Hah? Ti-tidak Tuan, saya hanya melakukan tugas yang anda berikan, salah saya apa Tuan?” Asisten Dion tergagap-gagap. Sudah lelah mencari-cari hal yang bisa membuat wanita berhenti marah, tapi malah kena semprot sama Tuan nya.
“Kenapa kamu memarahinya?” tanya Freeya, yang merasa kasihan melihat Asisten Dion yang masih kelelahan sudah dimarahi.
Daniel mengangkat alisnya dan menatap dingin Freeya. “Dia Asisten ku, ya terserah aku mau memarahi dia atau tidak!” jawab Daniel.
“Pulanglah, sudah malam!” usir Daniel pada Asisten Dion.
“Baik, Tuan.” jawab Asisten Dion dan dia segera pergi.
Setelah kepergian Asisten Dion. Daniel memberikan bunga tulip putih itu kepada Freeya. Wanita itu sangat terkejut sampai-sampai dia hampir tersedak minuman.
“Untuk apa ini?”
“Untukmu,” ucap Daniel tanpa memandangnya.
__ADS_1
“Buat apa?” Freeya meraih bunga tersebut dan membaca sebuah Memo diatasnya.
[For you, my love and my life]
Mata Freeya membulat dan wajahnya memerah. “A-apa kamu yang menulis ini?”
“Iya, tentu saja sebagai permintaan maaf ku, karena sudah berbohong padamu.”
“Ini, apakah ini benar-benar kamu yang menulisnya?” Freeya memberikan Memo tersebut pada Daniel.
Daniel mengerutkan dahinya dan meraih Memo tersebut, lalu membacanya. “I-ini...”
“Dion, kurang ajar... apa dia sedang mengerjai ku?”
Freeya terkekeh geli melihat wajah Daniel yang memerah dan tersipu malu. “Sudahlah, aku tahu kamu memang orang yang romantis,” sindir nya.
“Diam lah, aku bukan pria seperti itu,” ucap Daniel seraya memalingkan wajah malunya.
Kaisar dan Ratu saling menatap dan mengedikkan bahu. Melihat kedua orang dewasa dihadapan nya tersebut. “Kalian berdua, apakah tidak malu? Bermesraan di depan anak kecil?”
“KAMI TIDAK BERMESRAAN!” jawab keduanya bersamaan.
Kaisar dan Ratu tertawa kecil. Membuat Freeya dan Daniel semakin tersipu malu. Bahkan kini keduanya duduk saling berjauhan.
__ADS_1
To be continued...