Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 100.


__ADS_3

Setelah melaksanakan akad nikah tadi pagi. Kini Agil dan Beby sudah berada di hotel mewah tempat Agil menginap selama di Amsterdam. Hotel itu juga yang akan menjadi tempat mereka melangsungkan resepsi pernikahan semeriah mungkin.


Tempatnya, di pantai pasir putih yang berada di bagian belakang hotel. Menjadi tempat impian setiap pasangan untuk mengadakan pernikahan disana. Beby dan Agil salah satu pasangan itu.


Di dalam kamar mandi, kamar hotel Agil. Beby yang sudah cantik mengenakan gaun berwarna merah. tertunduk di depan wastafel. Wajahnya pucat pasi, karena sudah hampir setengah jam dia mual-mual dan bahkan sampai muntah.


Freeya sang adik nampak kebingungan, dengan lembut dia menggosok-gosok punggung belakang sang kakak. Terdengar pintu kamar hotel dibuka dari luar. Freeya langsung menghampiri siapa pun yang datang itu.


“Kak Agil,” ucap Freeya dengan wajah cemas nya.


Ternyata Agil dan Bagas yang datang. Mendengar suara Beby yang masih terus muntah di dalam kamar mandi. Ia pun langsung berlari ke arah kamar mandi.


“Apa dari tadi dia seperti itu?” tanya Bagas pada Freeya.


Freeya mengangguk cemas. “Iya, kak ... sudah setengah jam seperti itu.”


“Aku akan memanggil Bunda, kamu tetap disini bantu Agil mengurus Beby,” perintah Bagas lalu dia keluar dari kamar tersebut.


Freeya pun kembali menghampiri Agil dan Beby.


“Moe, ayo kita kerumah sakit sayang?” ucap Agil cemas. Sangat cemas sampai-sampai tangan nya berkeringat dingin. Melihat Beby seperti itu, ada rasa tersendiri yang menyiksa Agil di dalam tubuhnya.


“Enggak sayang, aku baik-baik saja. Ini sudah biasa, tadi gara-gara mencium parfum yang Freeya mau semprotkan ke gaun ku ... aku jadi mual-mual,” ucap Beby mencoba tersenyum walaupun lemah.


“Parfum?”

__ADS_1


“Ini kak,” ucap Freeya memberikan botol parfum yang dimaksud.


Dahi Agil mengkerut. “Ini kan parfum favorit mu, Moe.”


“Entahlah, mencium nya membuatku ingin muntah,” ucap Beby. “Jauhkan dariku!”


Belum sempat parfum itu dijauhkan, Beby kembali muntah dan mengeluarkan semua nya di wastafel. Agil menggaruk kepalanya, karena semakin panik dengan kondisi Beby.


“Mau kemana?” Beby menarik tangan Agil, ketika pria itu hendak pergi.


“Aku akan membatalkan acara resepsi nya,” ucap Agil.


“Kenapa? Sayang, aku baik-baik saja. Kasihan para tamu yang sudah jauh-jauh datang, terus kamu membatalkan nya begitu saja.”


“Moe, kesehatan mu adalah yang terpenting ... resepsi ini tidak penting untuk ku,” ucap Agil.


“Tapi ini penting untuk ku, sayang.”


Agil terdiam, jika Beby sudah tetap dengan egonya. Dia bisa apa? Tentu saja, Agil akan menuruti semua keinginan Beby.


“Dimana Bagas?” tanya Agil pada Freeya.


“Kak Bagas, pergi memanggil Bunda,” jawab Freeya.


Tak menunggu lama Agil mengangkat tubuh Beby ke dalam kamar dan merebahkan nya perlahan di atas tempat tidur.

__ADS_1


Akan tetapi ketika Agil mau mengambil kan air minum. Beby malah mencengkram kuat kerah baju Agil dan kembali memeluk nya erat.


“Ada apa, Moe?”


“Mencium aroma tubuh mu, membuat ku sedikit mendingan,” ucap Beby yang semakin menenggelamkan wajahnya di dada Agil.


Agil tersenyum nakal, dia langsung membelai kepala istri manjanya itu. Lalu mendaratkan kecupan di pucuk kepalanya. Agil melirik Freeya yang merona merah diwajah nya. Gadis berusia delapan belas tahun itu, begitu polos dan lugu. Melihat tingkah kakak nya yang begitu manja kepada suaminya. Entah kenapa membuat Freeya yang malu melihatnya.


“Pergilah, panggil Bagas agar lebih cepat,” ucap Agil kepada Freeya. Agil tahu jika Freeya pasti risih dengan sikap Beby yang manja.


“Ada apa?” tanya Beby yang masih menenggelamkan wajahnya.


“Aku minta Freeya pergi menyusul Bagas.”


“Kenapa memangnya? Kamu mengusir adik ku,” pekik Beby seketika melepaskan pelukan nya.


Agil memicingkan matanya sambil tersenyum miring. “Heh, kamu itu ya! Dasar tidak peka, melihat mu bermanja-manja seperti ini kepadaku. Pasti membuat Freeya tidak nyaman.”


“Aku tidak sedang bermanja-manja, aku memang merasa baikan mencium aroma tubuhmu, sayang.”


“Aku tahu kok, kamu pasti sudah gak sabar kan.”


Beby melotot dan langsung mencubit kecil perut Agil. Membuat nya menggelinjang kegelian. “Jangan mesum deh!”


“Hahaha, santai dong! Gak usah cubit juga kali, sini aku balas.” Agil mencubit pipi Beby. Membuat Beby marah dan kembali ingin mencubit perutnya. Tapi dengan cepat ditahan oleh Agil.

__ADS_1


__ADS_2