Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 73.


__ADS_3

Beby terus menatap kearah Agil yang tengah fokus mengemudi. Sudut bibirnya melengkung, ketika pria itu menoleh kearahnya sambil merekah kan senyuman manis. Lesung pipi dan gingsul di sela gigi taringnya, membuat Beby begitu gemas.


Agil meraih tangan Beby, dan mengecup penuh mesra punggung tangan nya. Penuh dengan kemesraan, Agil selalu bisa membuat dirinya melayang. Beby bergantian mengecup punggung tangan pria itu, membuat nya mengerinyit.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Tentu saja mencium tanganmu ... tangan calon suamiku,” ucap Beby dengan wajah yang panas dan merah.


Agil kembali tersenyum, tangan nya tergerak untuk membelai kepala Beby. Membuat Beby semakin bersikap manja kepada nya.


“Kita mau kemana, sayang?” ucap Beby menyandarkan kepala nya di bahu Agil.


“Belanja,” jawab Agil.


“Belanja?”

__ADS_1


“Iya belanja.” Agil mengangguk kan kepalanya.


Agil menatap sang kekasih yang nampak sedang memikirkan sesuatu. “Ada apa? Apakah kamu tidak suka belanja?”


“Setahuku kamu paling suka yang namanya belanja,” ucapnya lagi.


“Aku memang suka ... malah sangat suka. Tapi-”


“Ayo turun,” potong Agil dengan cepat. Lalu dia turun dari mobil.


Agil membukakan pintu mobil tempat dirinya duduk. Lalu merentangkan tangan untuk menyambutnya keluar seperti seorang putri. Dengan wajah yang masih merah, ia meraih tangan Agil dan keluar dari mobil.


“Kamu yakin ... membawaku kemari,” kata Beby seraya memandangi dari bawah hingga ke atas gedung tersebut.


“Yakin lah,”-Agil menggandeng Beby masuk kedalam gedung tersebut-“satu isi gedung ini pun akan ku belikan semuanya untukmu, jika kamu mau.”

__ADS_1


Baru saja masuk mereka disambut dengan pelayanan ramah dari karyawan yang berdiri di samping pintu. Mata Beby berbinar-binar ketika disuguhkan oleh gaun-gaun rancangan terkenal dan termahal di Paris. Ini adalah yang ketiga kalinya ia datang ke tempat itu. Tapi, kesan nya masih sama, selalu takjub.


Gaun-gaun ternama itu dibandrol dengan harga yang sangat fantastis. Dia saja setiap kali kesana hanya membeli satu atau dua produk, seperti gaun dan tas, atau sepatu dan tas. Tapi kali ini berbeda, pria yang berdiri disampingnya itu. Yang kini tengah menggenggam tangan nya dengan begitu erat, berkata akan membelikan satu isi gedung tersebut untuk nya.


“Apakah aku harus senang? Atau sebaliknya? Aku memang sangat menyukai barang-barang mahal. Tapi ... ah yasudah lah, nikmatin aja lagi pula Agil tidak keberatan,” gumam Beby di dalam hatinya.


“Pilih lah apa yang kamu mau, Moe. Aku akan menunggumu disana,” ucap Agil.


Pria itu mengecup kening Beby sebelum akhirnya dia pergi menuju ruang tunggu. Dimana terdapat sofa empuk berwarna ungu, dan meja kaca berlapis emas yang sangat mewah. Agil mendudukkan dirinya di sofa empuk itu dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang.


Sedangkan disisi lain. Melanie dan Dewa juga baru saja sampai. Untuk menyenangkan hati sang kekasih yang marah. Dewa mengajak Melanie ke Boutique desainer terkenal di kota Paris, karena dia tahu kekasihnya itu sangat menyukai barang-barang mahal. Tapi, mereka tidak tahu jika Agil dan Beby juga ada di tempat itu.


“Sayang, aku akan menunggumu di ruang tunggu,” ucap Dewa.


“Baiklah, muach.” Melanie berjinjit dan mengecup mesra pipi Dewa.

__ADS_1


Mendengar suara yang familiar, dari kejauhan Agil melihat dua orang biadab yang berada di tempat yang sama dengan nya. “Sama-sama tikus got,” cibir Agil pelan sembari terkekeh sendiri.


__ADS_2