
Satu persatu air mataku menetes, tapi langsung aku mengusapnya. Dengan tangan yang gemetaran, aku mengirim pesan kepada Dewa.
🌺🌺
^^^Beby,-^^^
^^^Kau dimana? Kau bisa menjemput ku?^^^
Dewa,-
Ada apa Beby? Maaf, aku sedang bersama Mamah.
^^^Beby,-^^^
^^^Oh, baiklah, tidak apa-apa. Aku akan pergi sendiri!^^^
Dewa,-
Maafkan aku.
^^^Beby,-^^^
^^^Tidak apa-apa, sampaikan salam ku pada Mamah.^^^
🌺🌺
Dia berbohong padaku, dan yang lebih parah nya. Aku lihat bukan dia yang mengetik pesan nya. Melainkan Melanie, mereka sedang tertawa, apakah mereka sedang menertawai ku? Menertawakan kebodohan ku? Cobaan apa lagi ini? Apakah aku sedang bermimpi?
Aku pun mencoba menghubungi ponsel Melanie. Aku ingin melihat bagaimana reaksi mereka berdua kembali. Sakit, sungguh sakit rasanya. Sempat terlintas di benak ku, apakah selama ini mereka berdua sering membohongiku?
__ADS_1
Tut tut tut!
Panggilan kedua akhirnya Melanie mengangkat nya.
"Halo, By? Ada apa?"
Suaranya terdengar begitu perduli padaku. Namun kenyataan nya, raut wajah Melanie seakan sedang memperolok ku.
"Kau dimana Mel? Yuk, shopping gw ada rejeki nih!" ucapku dengan suara bergetar, menahan amarah.
"Besok aja yah By, sayang banget, gebetan gw mau ngajak jalan! Besok aja ya, gimana?"
"Oh, iya gak apa-apa! Sampai ketemu besok!"
Panggilan pun terputus.
Dari kejauhan aku bisa mendengar mereka tergelak kembali, lalu masuk ke dalam mobil Dewa. Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan. Kenapa mereka kompak untuk bohong padaku?
Aku juga tidak sebaik itu. Aku juga memiliki kesalahan terhadap Dewa. Karena sudah berhubungan dengan orang lain. Dan juga mungkin saja, mereka berdua sedang ada proyek bersama.
Aku tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak sebelum aku mendengar penjelasan dari mereka berdua langsung. Mengapa mereka berbohong seperti itu.
"Beby!"
Aku tersentak kaget ketika seorang pria menyapa dan menepuk pundak ku. Sontak aku langsung menoleh ke arah sumbernya.
"Eh, hai Daniel!"
Aku tersenyum walaupun terpaksa. Agar tidak terlihat menyedihkan di mata Daniel.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" tanya nya seraya melirik ke arah parkiran. Mungkin dia sedang mencari tahu apa yang sedang aku lihat. Untung saja Dewa dan Melanie sudah pergi.
"Hmm, aku tidak sedang apa-apa," jawab ku.
"Oh, ada acara gak malam ini? Gimana kalau kamu ikut dengan ku," ajak Daniel.
"Kemana?" Aku menggerinyitkan dahi.
"Jadi sebenarnya, malam ini ada acara arisan keluarga, biasa acara rutin tiap bulan, keluarga ku Adhicandra dan keluarga Ganendra mengadakan arisan ini hanya sekedar untuk mendekatkan kedua keluarga itu, meskipun sedikit agak aneh."
"Tidak, itu tidak aneh kok! Keluarga ku juga seperti itu, untuk menjalin silaturahmi kami mengadakan arisan keluarga juga setiap bulan."
"Benarkah? Jadi bagaimana? Apa kau mau pergi dan menjadi pasangan ku?"
What?
Apa aku tidak salah dengar? Pasangan? Yang benar saja. Aku kembali mengerinyit, "Pasangan?" ucapku.
"Oh maaf, maksud ku pasangan di acara itu! Apa kau mau?"
Dia jadi salah tingkah, aku bisa merasakan nya. Tapi itu sudah biasa, banyak pria yang seperti itu jika berbicara padaku, mereka akan salah tingkah dan bahkan sulit untuk bicara.
"Maaf, aku tidak bisa. Aku sedang tidak enak badan, mungkin lain kali saja!" tolak ku halus.
"Baiklah, tidak apa-apa! Tapi biarkan aku mengantarmu pulang! Kulihat wajah mu sangat pucat," tawar nya kembali.
Aku sempat menolak tapi dia tetap bersikeras. Yah mau tidak mau dari pada rewel. Aku pun mengiyakan tawaran nya. Lagi pula Daniel juga lelaki yang baik dia tidak mungkin melakukan hal buruk padaku. Tidak seperti Agil, pria itu sungguh menyebalkan. Aku sangat membencinya.
__ADS_1
...🌺Jangan lupa like, dan vote ya🌺...