
Agil baru saja sampai kembali ke mansion. Ia keluar dari dalam mobilnya dengan membawa sebuah Totebag kecil yang bertuliskan nama sebuah apotek. Agil berjalan menuju pintu masuk. Penjaga yang selalu siaga dua puluh empat jam di pos keamanan di depan mansion, terkejut melihat keadaan Agil.
Saru orang nya berlari menghampiri Agil. "Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya nya.
"Aku baik-baik saja ... sana kembali bekerja," jawab Agil, menggerakkan tangan nya di udara. Isyarat jika harus kembali bekerja. Penjaga itu pun dengan sigap kembali ke tempatnya semula.
Hembusan angin laut yang semakin malam semakin dingin. Menerpa tubuh Agil, ia sedikit bergidik saat angin-angin itu menyentuh pori-pori kulitnya. Terlebih darah di tangan nya kini membeku, tidak lagi menetes deras seperti sebelumnya.
Agil masuk kedalam mansion, seketika udara menjadi hangat. Sayup-sayup dia mendengar suara sesuatu dari arah dapur. Dilihatnya Beby yang sedang duduk melamun di meja makan. Dengan gelas yang beruap-uap di depan nya, Agil yakin Beby tidak bisa tidur jadi dia keluar untuk meminum sesuatu yang hangat.
Sudut bibir Agil tertarik, dia tersenyum. Langkah kaki membawanya mendekati Beby. Tangan kirinya yang tidak berdarah langsung ia lingkarkan di leher wanita cantik itu. Kemudian mendaratkan kecupan hangat di keningnya.
"Agil?" Beby langsung menoleh ke arah Agil.
Agil menarik kursi dan duduk disebelah Beby. "Kenapa kamu belum tidur?" tanya nya.
Tangan Agil terus membelai-belai kepala Beby. "Aku tidak bisa tidur, jika kamu belum kembali. Kamu bilang hanya sebentar ... tapi ternyata lama," jawab Beby.
Beby mengerucutkan bibirnya, dan melipat tangan di depan dadanya. Matanya menatap ke arah lain. Agil pun tersenyum melihat Beby yang cemberut. Dia pun mengecup sekilas bibir Beby.
Beby tersentak, dan memegangi bibirnya. Pandangan Beby mengarah ke totebag yang terletak di atas meja makan. "Apa itu?" Tunjuk nya ke arah totebag tersebut.
Beby meraih totebag itu dan melihat isi di dalam nya. "Itu salep memar untuk wajahmu," ucap Agil seraya mengelus pipi Beby.
"Agil, tangan kamu kenapa? Kok bisa berdarah kaya gini sih??" teriak Beby histeris melihat tangan Agil yang berdarah.
"Aku gak kenapa-kenapa, kamu tenang yah. Ini hanya luka kecil, nanti juga sembuh," ucap Agil seraya menarik Beby ke dalam dekapan nya.
__ADS_1
"Kamu dari mana? Kenapa bisa sampai terluka begini?" Beby mendongak menatap sendu wajah Agil.
Agil mendekatkan kening nya dan kening Beby hingga menyatu. "Aku berjanji akan membuatmu bahagia, By," ucap Agil lirih.
Beby menarik sudut bibirnya, tersenyum dengan penuh haru. "Aku bersyukur bisa dicintai oleh pria sebaik kamu, Agil."
"Aku tidak akan membiarkan siapapun merendahkan dirimu, karena bagiku kamu adalah yang terbaik," ucap Agil sembari mengecup kening Beby dan kembali mendekapnya dengan erat.
Agil mengajak Beby masuk ke dalam kamar nya dan duduk di pinggiran tempat tidur. Di dalam kamar Beby mengambil kotak P3K yang tersimpan di dalam lemari. Lalu ia mulai mengobati luka-luka akibat pecahan kaca di tangan Agil dengan perlahan.
"Sakit?" tanya Beby. Agil menggeleng kan kepala, dan tersenyum. "Jika sakit ... jangan diam saja, dan katakan padaku."
Beby menuangkan alkohol di tangan Agil secara perlahan, agar luka nya tidak infeksi dan lebih steril. Agil menahan nafas dan meringis pelan. Beby tersenyum melihat nya, apalagi saat Agil memalingkan wajahnya. Ia pun segera melilitkan perban untuk menutupi luka tersebut.
Cups!
Beby membalas ciuman Agil. Membuat Agil semakin menarik Beby merapat dan memperdalam ciuman nya. Selang beberapa detik, Agil melepaskan ciuman nya. Dia memandangi setiap inci bagian dari wajah Beby. Matanya, hidungnya, dan bibir sensual nya. Agil benar-benar tidak bisa berhenti untuk menatap wajah Beby, seakan wanita itu sekarang sudah menjadi candunya.
"Biarkan aku mengobati memar di wajahmu," kata Agil dengan lembut. Ia menyentuh memar merah yang masih begitu nampak di wajah Beby.
Beby pun mengangguk dan membiarkan Agil melakukan keinginan nya. Dia begitu senang sudah di perlakukan dengan begitu hangat. Bersama dengan Agil, Beby bisa melupakan sejenak beban hidupnya.
Setelah selesai, Agil juga melakukan hal yang sama di lakukan Beby pada tangan nya. Yaitu mendaratkan kecupan di pipi Beby agar memar itu bisa cepat sembuh. Keduanya tersenyum, lalu tertawa bersamaan. Agil membelai lembut kepala Beby, membuat wanita itu merasa begitu nyaman.
Sama hal nya dengan Agil yang candu akan wajah dan diri Beby. Beby juga memiliki candu, yaitu belaian tangan Agil dan sikap manisnya. Membuat candu yang tanpa ia sadari sudah seperti kebutuhan nya sehari-hari. Beby sangat senang bisa di perlakukan seperti itu. Mengingat bagaimana sifat aslinya dulu, Beby yang suka berbelanja, menghamburkan uang, tidak pernah merasa kekurangan, dan tentunya sangat manja.
Walupun, sekarang semenjak dia jauh dari sang bunda. Hidup Beby serba terbatas, dia mulai terbiasa mandiri. Terkadang rasa rindu akan kehidupan dulu sebelum ayahnya bangkrut, sering muncul. Tapi sejak kehadiran Agil dalam hidupnya, Beby seperti merasa kehidupan nya sedikit demi sedikit kembali.
__ADS_1
Warna-warna cerah mulai masuk kembali. Mewarnai sesuatu dalam kehidupan nya yang mulai pudar. "Malaikat? Bagiku Malaikat ku adalah kamu, Agil. Aku berharap kedepan nya tidak akan ada yang berubah, pada dirimu atau diriku, kita akan selalu seperti ini. Sampai takdir menyatukan kita pada jenjang yang lebih lanjut," batin Beby.
Lucu! Pikirnya. Karena kata-kata itu terbesit di benak nya. Seorang Beby yang memikirkan masa depan bersama dengan seorang pria. Inilah yang sangat berbeda, yang dia rasakan waktu bersama dengan Dewa. Beby tidak pernah merasa sebahagia sekarang.
Begitu pun juga dengan Agil. Meskipun dia tahu Beby adalah wanita yang sangat menyukai uang dan kemewahan. Tapi dia tidak melihat Beby sama seperti wanita matre diluar sana. Karena dia bisa melihat ketulusan dalam diri Beby yang polos. Dia selalu bicara apa adanya, tidak berbohong ataupun munafik. Itulah yang Agil suka dari Beby.
Terlebih dia juga tahu, jika kesucian Beby dia yang sudah mengambilnya. Beby bukan tipe wanita liar, pikir Agil. Dia juga merasa bahwa dirinya harus melindungi Beby dan memperjuangkan nya. Sangat sulit menemukan wanita yang tulus dan tidak munafik seperti Amanda dan Melanie.
Hoamph!
Beby menutup mulutnya dan menguap. Agil tersenyum dan mencubit pelan hidung Beby. "Kamu bilang tadi belum mengantuk, tapi sekarang malah menguap."
Beby tertawa pelan. "Hehehe, entahlah sekarang ada kamu disini membuatku mengantuk dan-"
Agil menyipitkan matanya. "Dan apa?"
"Aku ingin tidur di peluk oleh mu," ucap Beby dengan wajah yang bersemu. Dia tersenyum malu-malu, dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan nya.
Agil geleng-geleng kepala, dan langsung memeluk Beby. Menarik wanita itu berbaring di atas tempat tidur. Beby terkejut saat sudah terbaring di atas tempat tidur. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya juga tak beraturan. Karena berada satu tempat tidur lagi dengan Agil. Setelah terakhir kalinya, dia berada di kamar itu.
"Tidurlah, aku tidak akan berbuat apapun padamu. Jadi berhenti deg-degan seperti itu," celetuk Agil.
Mata Beby membulat, wajahnya semakin merah. "Aku tidak deg-degan, jangan sembarangan."
"Hmm, tidurlah." Agil semakin menarik Beby kedalam dekapan nya. Beby juga melingkarkan tangan nya di perut Agil. Menghirup aroma khas tubuh Agil. Membuatnya semakin nyaman dan mengantuk. Tak menunggu lama keduanya pun tertidur sambil berpelukan.
TBC.
__ADS_1