Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 80.


__ADS_3

Setelah beberapa jam lamanya, akhirnya Agil telah sampai di kota J. Karena perbedaan waktu, Agil sampai pada jam Sepuluh pagi. Bagas langsung mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah Nenek Diana.


“Apa kamu sudah menyiapkan nya?”


Duduk dengan tenang nya di sebelah Bagas yang tengah mengemudi. Ia tersenyum menyeringai. “Aku tidak sabar ingin membuatnya benar-benar pergi dari kehidupan ku,” sambungnya dengan penuh ambisi.


“Tenang saja, semuanya ada di dalam amplop itu,” ucap Bagas menunjuk amplop kulit berwarna hitam yang ada dikursi belakang.


Ia menoleh ke arah amplop tersebut. Lalu tersenyum menepuk pundak Bagas. “Kerja bagus,” ucap nya memuji hasil kerja Bagas.


“Tentu saja, kamu harus memberikan ku bonus bulan depan,” ucap Bagas tersenyum.


“Tenang saja, aku sudah menyiapkan bonus untuk mu. Kamu pasti sangat menyukainya dan sangat berterima kasih padaku.” Ia menyandarkan kepalanya sambil menutup mata dan tersenyum.


Bagas mengerinyit menatap nya. “Cih ... memang bonus seperti apa itu?”


“Lihat saja nanti kamu juga pasti akan mengetahuinya.”


Bagas menoleh dengan sinis. “Sangat mencurigakan, orang aneh.”


“Hahaha.” Agil malah tertawa.


.


.


Mobil memasuki pekarangan rumah Nenek Diana. Dengan langkah lebar Agil berjalan memasuki rumah besar tersebut. Disusul oleh Bagas yang berjalan dibelakangnya.

__ADS_1


Diruang keluarga sudah ada Nenek Diana yang sedang duduk meminum teh herbal dan cemilan di atas meja. Bersama dengan Tante Laras juga Amanda yang duduk disofa lain nya.


Seperti biasa Tante Laras menatap Agil dengan sinis. Tidak ada tatapan bersahabat dari wanita itu. Agil tidak perduli, baginya Tante Laras tidak lah penting di hidupnya. Sedangkan Amanda tersenyum menatap Agil seakan sedang memperolok dirinya. Agil mengepalkan tangan kuat dan menatap tajam Amanda.


Nenek Diana berdiri dari duduk nya, diikuti oleh Tante Laras dan juga Amanda. Saat Agil sudah berada di hadapan Nenek Diana.


PLAK.


Satu tamparan keras mendarat di pipinya. Membuat semua orang terkejut. Begitu pun juga dengan Agil sendiri. Ia sangat terkejut memegangi pipi nya yang terasa panas. Ia menatap Nenek Diana yang melotot dan dada yang naik turun.


“Berani-beraninya kamu, Agil! Membawa wanita murahan itu kerumah ini dan bahkan berniat untuk menikahinya,” bentak Nenek Diana.


“Benar ... dari awal aku sudah menebaknya, saat pertama kali melihatnya. Dia seperti wanita murahan, menjual dirinya kepada orang asing ... Oh my god! Aku tidak bisa membayangkan betapa memalukan nya itu, jika publik tahu, mau ditaruh dimana martabat keluarga Ganendra,” cibir Tante Laras. Membuat telinga Agil semakin panas.


“DIAM! KAU TIDAK BERHAK UNTUK MENILAINYA SEPERTI ITU!” Agil membentak Tante Laras.


“Jaga ucapan mu kepada Tante mu sendiri!”


Tante Laras tersenyum merdeka, untuk yang pertama kalinya. Nenek Diana memarahi Agil karena sudah berbicara kasar padanya. Nenek Diana benar-benar marah kepada Agil.


“Ternyata jalang ini sudah benar-benar menghasut mu!” Menatap Nenek Diana dengan tajam.


“Jaga ucapan mu Agil, Amanda adalah ibu tiri mu. jika kau tidak mau aku tampar lagi, akui kesalahan mu!” ucap Nenek Diana.


“Kesalahan ku?” Agil tertawa. “Kesalahan apa yang sudah aku perbuat?”


“Bahwa kau sudah memilih wanita yang salah dan segera putuskan hubungan mu dengan nya, jangan membuat keluarga kita malu.” Nenek Diana merendahkan nada bicaranya, ia kembali duduk dan menyesap teh nya.

__ADS_1


Agil mengusap wajahnya. Tak percaya dengan apa yang dia dengar. “Terserah Nenek mau bilang apa ... keputusan ku sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi, aku akan tetap menikahi, Beby.”


“Menikahi wanita yang sudah menjual keperawanan nya kepada orang asing? Kamu benar-benar ingin membuat keluarga malu? Jika kamu tetap bersikeras Nenek terpaksa harus-”


“Harus apa?” sanggah Agil dengan cepat sambil ikut duduk di sofa tepat dihadapan Nenek Diana.


“Nenek akan membuat wanita itu yang malu dan pergi sendiri dari hidup mu!” tegas Nenek Diana.


“Hahaha, Nenek mau apa?”


“Kenapa kamu tertawa? Sepertinya kamu sedang meremehkan ucapan Nenek yah. Kamu lihat saja, Nenek akan bongkar siapa wanita itu kepada publik, dan lihat apakah dia masih bisa menampakan wajah nya kepada semua orang,” ancam Nenek Diana, Agil semakin tertawa.


Membuat Nenek Diana, Tante Laras, dan Amanda tercengang. “Dia sudah gila, sepertinya wanita murahan itu. pasti sudah mencuci otaknya,” cibir Tante Laras.


“Berhenti tertawa!” bentak Nenek Diana seraya melempar gelas yang dia pegang ke hadapan Agil. Hingga pecah terhambur di lantai.


Seketika ia langsung diam, dan wajahnya berubah dingin. “Jika Nenek melakukan itu, berarti Nenek sendiri yang akan membuat keluarga kita malu.”


“Apa maksudmu?” tanya Tante Laras.


Nenek Diana dan Amanda ikut bingung dan menatap Agil. Menunggu jawaban dari pertanyaan Tante Laras. Amanda, wanita itu tiba-tiba menutup mulutnya dan menggeleng.


“Tidak mungkin,” gumam nya pelan.


Agil menatap Amanda dengan menyeringai. “Kau yang akan habis Amanda.” Seperti itulah kira-kira kata-kata yang terselip di dalam sorot mata tajam Agil.


“Apa Nenek tahu, siapa orang tersebut ... yang sudah membeli keperawanan dan tidur dengan nya? Bagas perlihatkan pada Nenek,” ucap Agil santai menyandarkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


__ADS_2