
Setelah melakukan permainan panas. Beby nampak begitu lelah. Ia berbaring dengan tengkurap, menampakan jelas punggungnya yang begitu mulus.
Sedangkan Agil, beranjak dari tempat tidur memakai celana dan masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian kembali duduk diatas tempat tidur sambil bersandar. Ia meraih ponsel di atas nakas, mengetik sesuatu disana dengan satu tangan. Sedangkan tangan yang satunya, mengelus nakal punggung polos milik istrinya.
Beby membalikkan tubuhnya, lalu merebahkan kepalanya di paha Agil yang tengah duduk. Pria itu pun menaruh kembali ponselnya.
“Jadi, maksud perkataan mu tadi apa?”
“Yang mana?” Agil tersenyum nakal dan pura-pura lupa. Ia meraih gelas berisi wine yang ada di atas nakas. Kemudian meneguknya sedikit.
“Issh, kamu ini!” decak Beby dengan wajah cemberut.
“Hahaha, gitu aja cemberut.”
Agil terkekeh dan mencubit gemas pipi Beby. Lalu ia beranjak turun dari tempat tidur, mengambil kemeja putih di dalam lemari. Memberikan nya kepada Beby.
“Pakai baju dulu ... aku gak mau istriku tersayang ini, masuk angin,” ucap Agil lembut.
“Makasih.” Beby meraih kemeja tersebut dan langsung memakainya.
Dia menarik Agil untuk duduk di sofa.
“Jadi? Cepat ceritakan padaku,” ucap Beby tidak sabaran.
“Hmm, sebenarnya malam itu ... kita dijebak,” tutur Agil sembari kembali meneguk isi gelasnya.
Seketika mata Beby membulat. “Malam yang mana? Apakah malam pertama itu?”
Agil mengangguk ia mengalihkan pandangan nya dari Beby. “Ada apa, sayang?” Beby meraih dagu Agil.
“Sampai sekarang aku dan Bagas, sedang mencari tahu siapa yang sudah menjebak kita ... atau, lebih tepatnya menjebak ku,”ucap Agil.
“Jadi maksudmu, malam itu kamu terpaksa meniduri ku?”
“Bukan seperti itu, Moe.” Agil membelai kepala sang istri, yang wajah nya mulai kecewa.
“Aku hanya mau menjelaskan, bahwa aku bukan pria seperti yang kamu bayangkan.”
“Pria brengsek yang suka tidur dengan wanita? Karena malam itu kamu sudah berani membeli Keperawanan ku, begitu maksudmu?” celetuk Beby sedikit menyindir Agil.
“Ya, kurang lebih seperti itu ... hatiku sedikit sakit, waktu kita di mansion. Kamu marah dan mengatai ku pria brengsek, dan sama bejatnya.”
Beby mengangguk-angguk kan kepala, sambil menusuk sepotong buah melon dan memasukan nya ke dalam mulut. Mendengarkan perkataan Agil, dan mencerna nya.
“Aku bukan pria seperti itu, Moe ... malam itu saat aku berada di club malam hotel, ada seorang pelayan yang menawarkan minuman, jadi aku menerima dan meminum nya. Bagas dan Daniel tidak ada saat itu. Tiba-tiba saja aku merasa ada yang salah dengan tubuhku, setelah menghabiskan minuman itu. Aku pun sadar bahwa aku sudah diracuni dengan obat peransang.
Karena tidak ingin menggila di club, aku pun meminta seorang pelayan hotel mengantarkan aku kembali ke kamar ku. Tapi, ketika masuk ke dalam kamar. Aku melihatmu, wanita cantik yang tengah duduk di sofa.”
__ADS_1
“Apakah, karena itu kamu bilang bahwa aku salah kamar?”
Agil mengangguk. “Tapi, karena aku sudah tidak tahan. Terlebih ketika kamu bilang, kamu memerlukan uang itu. Akhirnya aku menumpahkan hasrat ku padamu malam itu. Maafkan aku, Moe.”
“Aku sudah merusak hidupmu,” lirih Agil.
Beby menatap tidak percaya kearah suaminya itu. Wajah merasa bersalah nya nampak begitu kelihatan. Ia menunduk tak berani menatap wajah Beby.
“Sayang.” Beby menegakkan kepala Agil.
“Itu bukan salah mu ... lagi pula kita ambil sisi baiknya saja, jika kita tidak dipertemukan malam itu. Mungkin aku tidak akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini, karena memiliki suami yang hebat seperti mu.” Beby mengecup bibir Agil dengan lembut.
“Kamu juga harus tahu, bahwa malam itu juga pertama kali untuk ku,” ucap Agil dengan pelan dan wajahnya memerah.
“Hahaha, sayang kamu lucu sekali. Apa kamu pikir aku akan percaya?” Beby malah tertawa.
“Aku serius, Moe.” Wajah Agil berubah serius. Beby terdiam dan menatap dalam mata Agil.
“Entah kamu akan percaya atau tidak, itu memang kebenaran nya. Aku tidak pernah meniduri wanita mana pun, termasuk Amanda. Aku menjaga diriku hanya untuk istriku kelak, tapi malam itu aku sudah melepaskan nya padamu,” tutur Agil kembali.
“Benarkah?”
Agil mengangguk.
“Karena itu aku tidak bisa melupakan mu, Moe. Awal nya aku merasa kasihan padamu, tapi lama-kelamaan aku menjadi tertarik. Kamu tidak seperti wanita munafik yang mendekatiku baik-baik, padahal di belakang hanya ingin harta keluarga Ganendra.”
Kesal dan marah, jika dirinya masih tidak dipercaya. Agil memilih meluapkan amarah nya kepada minuman. Tapi, saat dirinya hendak meminum wine tersebut. Beby menahan tangan nya, dan langsung memeluknya dengan erat.
“Aku percaya padamu, Agil ... jangan minum lagi, aku mau malam ini kita lewati dengan kesadaran diri masing-masing,” ucap Beby. Ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Agil yang polos. Menghirup aroma khas tubuh suaminya yang menjadi favorit.
Agil tertegun, ia pun mulai membalas pelukan Beby dan membelai kepalanya dengan lembut. “Makasih, Moe ... karena kamu sudah percaya padaku.”
Beby mendongak menatap lekat wajah Agil. “Berjanjilah, kamu tidak akan pernah bohong dan meninggalkan ku, Agil.”
“Aku janji, Moe ... aku sangat mencintaimu.”
Agil mengecup bibir Beby dengan lembut. Kecupan yang perlahan berubah menjadi *******, dan gigitan kecil di bibir Beby.
🌺🌺🌺
Disisi lain, masih di hotel yang sama. Tepatnya di kamar Melanie dan Dewa. Pasangan bejat itu, bertengkar hebat. Melanie berteriak-teriak memaki Dewa dengan kasar, seperti orang yang sudah tidak waras.
Dewa berusaha untuk menenangkan Melanie yang mengamuk. Ia terus menuduh Dewa mengkhianati nya. Melihat Dewa yang menggoda Amanda di pesta, tentu membuat dirinya terbakar api cemburu.
“Brengsek! Ternyata dari dulu kamu tidak pernah berubah,” caci Melanie.
“Mel, kamu tenang dulu ... jangan berteriak, nanti ada yang dengar.” Dewa memegangi bahu Melanie.
__ADS_1
“Lepaskan aku! Jujur saja, kamu punya hubungan kan dengan si cewek murahan itu?”
“Mel, dia bukan wanita seperti itu.”
Melanie tertawa, saat Dewa tanpa sadar membela Amanda. Tangan nya dengan cepat melayang, mendaratkan tamparan di wajah Dewa.
“Brengsek, kamu Dewa!”
Tatapan hangat Dewa seketika berubah tajam dan murka. Setelah Melanie berani-beraninya menampar wajahnya.
“Hei, apa hak mu untuk menamparku!” Dewa mencengkram kuat lengan Melanie, hingga wanita itu meringis kesakitan.
“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menamparmu, sedangkan Beby boleh menampar wajahmu,” ucap Melanie tidak terima.
“Tentu saja berbeda. Apa kamu pikir aku ini bodoh? Selama ini aku tahu seperti apa sifatmu, Mel. Kamu lebih rendah dari Beby ... sudah berapa pria yang meniduri mu, aku bahkan tidak bisa membayangkan betapa menjijikan nya itu.”
“Apa maksudmu? Beby lah yang murahan dan menjijikan!”
“Hahaha, masih saja kamu membela diri! Sangka mu aku tidak tahu, bahwa Beby hanya tidur dengan Agil. Om-om girang yang kamu maksud itu Agil kan. Kenapa kamu menyembunyikan kebenaran itu dariku? Membuatku, terus menghina Beby habis-habisan.”
“Kenapa? Apa kamu merasa bersalah padanya? Tidak ingat ya, bahwa kamu sudah mengkhianatinya. Kamu sengaja morotin uang nya, karena dendam waktu SMA.
Fakta, bahwa Beby menerima mu menjadi kekasihnya karena kasihan padamu, yang terus mengejar-ngejar nya. Saat kamu tahu bahwa seperti itu kenyataan nya, kamu pun mulai menyimpan dendam padanya. Sengaja memanfaatkan dan menghabiskan uang Beby.
Aku sedikit kasihan padamu, Dewa.”
Dewa semakin marah dan kesal. Ia mendorong Melanie ke atas tempat tidur. Ia diam menahan amarah nya yang sudah hampir meledak. Dewa meraih jas nya dan ponsel yang ada di atas meja. Kemudian berlalu meninggalkan Melanie.
“Aku rasa kita cukup sampai disini saja, Mel. Aku sudah tidak tahan dengan sikap gila mu ini,” ucap Dewa.
Dewa tidak memperdulikan lagi Melanie yang terus berteriak memanggil namanya. Hatinya benar-benar sakit. Ketika Melanie tadi, membongkar kembali masa lalu nya. Dendam nya kepada Beby, yang membuatnya terpaksa menjadi matre dan memoroti semua uang Beby. Untuk membuatnya sengsara.
Tanpa sadar langkah kaki, membawanya menuju sebuah kamar hotel. Dewa terkejut melihat pintu kamar hotel tersebut. Yang tak lain adalah kamar Amanda.
“Sial, kenapa aku malah ke kamar ini?”
Dengan sedikit ragu Dewa pun menekan bel kamar itu. Dua kali menekan akhirnya pintu terbuka. Muncul lah Amanda yang tengah memakai piyama tidurnya. Menatap tajam Dewa yang berdiri di depan pintu kamarnya.
“Mau apa kamu kesini?” cetus nya.
Dewa langsung memeluk Amanda. “Maafkan aku, aku pun tidak sadar jika langkah kaki ku yang membawa ku ke sini.”
Amanda melepaskan pelukan Dewa. “Apa kamu pikir aku bakal percaya! Sana pergi, selesaikan urusan mu dengan wanita penjilat itu!” usir nya.
Dewa memaksa untuk masuk dan segera menutup pintu kamar Amanda. Lalu ia mulai menyerang Amanda. Mencium nya dengan ganas. Amanda yang awalnya menolak pun akhirnya menyerah karena tekanan Dewa lebih besar.
Malam itu Dewa dan Amanda kembali menghabiskan malam bersama. Seperti malam waktu di Paris. Tapi, perbedaan nya malam ini mereka sadar seratus persen. Tidak ada bawaan mabuk berat, mereka melakukan hal tersebut.
__ADS_1
TBC.