
Keesokan harinya.
Anak-anak sudah selesai sarapan. Mereka sudah mau bersiap diantar supir kesekolah. Tak lupa Freeya menyiapkan bekal untuk kedua anaknya itu.
"Sekolahnya yang bener ya, babay..." Freeya melambai pada mobil yang mengantar Ratu dan Kaisar.
"Ratu dan Kaisar sudh berangkat sekolah?" tanya Daniel yang baru saja duduk di kursi makan.
Freeya memutar bola matanya malas. Lalu ikut duduk di hadapan Daniel. "Kau sj yang bangun nya telat. Seharusnya sebagai ayah yang baik kau harus mengantar anak-anak sekolah."
Daniel menghentikan gerakan tangan nya yang sedang menyendok pancake nya. Berpikir sejenak sambil menatap Freeya, lalu kembali menyendok pancake tersebut. Mengunyah dengan perlahan tanpa menghiraukan ucapan Freeya.
Freeya pun teringat akan permintaan Ratu semalam. Dia mengunyah pancake nya dengan pelan sambil memikirkan sesuatu.
"Hmm ... apa malam ini kau tidak ada jadwal?" tanya Freeya dengan gugup.
Daniel menatap nya sekilas lalu kembali acuh. "Tidak, ada apa?"
Freeya menelan salivanya yang terasa kaya batu. Tatapan dingin Daniel membuatnya gugup.
__ADS_1
"BERKENCAN LAH DENGANKU?" ucap Freeya tiba-tiba dengan sedikit keras. Membuat semua pelayan di ruangan itu ikut terkejut dan serentak menoleh kearah nya.
Terlebih Daniel yang baru saja menyuap sesendok makanan ke mulut. Seketika tersedak sambil memukul-mukul dadanya, gelagapan mencari sesuatu didekatnya.
Freeya pun dengan cepat menuangkan air di gelas lalu memberikan nya pada sang suami. Daniel kembali melanjutkan makanan nya.
"BERKENCANLAH DENGANKU..."
Lagi-lagi Freeya mengulang kata-kata ajakan nya itu. Membuat Daniel melotot dan menatap sekeliling nya ke arah pelayan pelayan. Wajahnya memerah menahan rasa malu. Apa-apaan wanita di depan nya ini yang sangat tak tahu malu.
"Apa kamu bisa diam?" Matanya melotot menatap tajam lawan bicaranya.
Freeya tersenyum getir di tatap segitunya oleh Daniel. "Memang nya salah? Aku mengajak mu berkencan?"
Freeya mengerutkan dahinya dan membentuk kerucut dibibirnya.
"Memangnya kenapa? Kita kan sudah menikah, terlebih apa kamu lupa sama yang sudah kita lakukan malam itu? Menurutku kita bagaikan pasangan yang normal, jadi apa salah nya berkencan?" ucap Freeya dengan sedikit kekesalan.
Tanpa mengkhiraukan sekitarnya, siapa yang mendengar dan siapa yang tengah memperhatikan mereka berdua. Daniel berdecak kesal.
__ADS_1
"...lagipula-" lanjutnya yang langsung di potong oleh Daniel.
"HUSSHHH...iya iya baiklah terserah, sekarang kamu diam! Aku mau selesaikan makananku!" ucap Daniel dengan penekanan.
Freeya tersenyum penuh kemenangan. Meskipun dalam hati rasa malunya benar-benar sudah dibuangnya jauh-jauh. Demi dua anak sambung nya itu. Jika saja Ratu tidak memintanya, sampai mati pun Freeya tidak akan sudi memohon seperti itu pada Daniel. Laki-laki keras kepala, dingin, kasar, dan belagu seperti Daniel, pikirnya.
"Aku mau kerja dulu, nanti malam pulang kerja aku jemput," ucap Daniel seraya menyeka ujung bibirnya dengan tisu, dia telah selesai sarapan.
Ia beranjak dari kursinya dan hendak melangkah pergi. Tapi langkahnya terhenti ketika Freeya berdiri dihadapan nya. Pria itu menunduk sedikit menatap wajah Freeya yang tinggi badan nya dibawah sedikit darinya.
Wanita itu lalu menjukurkan tangan nya kedepan. Membuat Daniel mengerinyit tak mengerti. "Apa? Mau minta uang belanja?"
Freeya memutar bola matanya kesal. Lalu meraih tangan kanan Daniel dan mencium nya dengan lembut. Membuat pria itu terdiam mematung. Tidak pernah ada seorang wanita yang mencium punggung tangan nya seperti itu. Baru pertama kali, dan itu adalah Freeya.
"Hati-hati yah," ucap Freeya mengembangkan senyuman manisnya.
"I-Iya...kamu juga jangan lupa bersiap nanti malam."
Freeya mengangguk. Apa yang dilakukan nya berhasil membuat pria berhati dingin itu jadi gugup. Bahkan tanpa Freeya sadari Daniel pergi dengan wajah merah seperti tomat.
__ADS_1
Disepanjang perjalanan ke kantor. Dia tidak berhenti mencuri pandang ke arah punggung tangan yang di cium oleh Freeya tadi. Setiap kali mengingat itu jantungnya selalu berdegup dengan cepat.
"Apa-apaan itu, kenapa hanya begitu saja aku sudah gugup begini," batinnya mengomel.