
Dua minggu kemudian...
Semenjak kepulangan nya dari rumah sakit, Kanaya sangat menikmati perannya sebagai ibu muda dari dua jagoannya.
Meskipun waktunya habis untuk si kecil, baginya tidak masalah, terpenting dua jagoannya tumbuh dengan sehat.
Siang semakin beranjak meninggalkan langit berwarna jingga, Kanaya sedang di kamarnya menemani dua putranya.
Kata orang Jawa pamali bila di waktu mau Maghrib berada di luar, atau di tidur kan.
Sebagai orang Jawa Kanaya memegang teguh tradisi Jawa, supaya tidak salah dalam melangkah.
Sang ibu juga turut membantu dalam mengasuh cucunya, cucu pertama dari putrinya.
Seperti malam ini mereka bertiga sedang berada di kamar, Mama Nisa memangku cucu pertamanya, Nenek Melati memangku si bungsu.
Dua cucunya tengah terlelap dalam tidurnya, seakan-akan mereka tahu bahwa hari sudah gelap saatnya untuk beristirahat.
"Ma kayaknya sudah selesai sholat Maghrib, kalau si sulung mau di tidur kan enggak pa-pa nanti biar Nay tunggu!"
"Biarin saja seperti ini Nay, Mama senang bisa mengasuh cucu-cucu Mama, bisa bantu-bantu kamu Nay!"
"Terima kasih mah, udah mau bantu Nay."
Kanaya tidak lagi menimpali perkataan mertuanya lebih lanjut, tidak ingin membuat salah paham akhirnya Nay lebih memilih menghabiskan makan malam nya, sebelum jagoannya terbangun mencari sumber makanannya.
Selesai menghabiskan makannya, Nay beralih mengambil si bungsu dari pangkuan sang ibu, takutnya ibunya capek.
Sudah waktunya sholat Maghrib juga, pasti sang ibu ingin beristirahat sejenak untuk melaksanakan perintah-Nya.
🏓🏓🏓🏓🏓
Rencananya keluarga besar dari kedua belah pihak keluarga sudah sepakat, mereka akan mengadakan acara aqiqah kedua putranya bertepatan usianya tiga puluh lima hari, atau umur selapanan baby twins.
Selapanan dalam tradisi Jawa adalah selamatan untuk bayi yang berumur 35 hari.
Di rumah Oma Nisa sedang banyak tamu yang berdatangan, banyak saudara, kerabat, dan rekan mereka datang berkunjung ke kediaman keluarga Wiratmaja.
__ADS_1
Mereka sangat penasaran duplikat kelahiran putra tunggal keluarga Wiratmaja, bernama Wiratama Wiratmaja, cucunya Opa Adi, dan Oma Nisa.
Di kalangan dunia bisnis kedua orang tuanya Tama sangat terkenal baik di dalam negeri maupun luar negeri, banyak rekan bisnis yang sengaja menyempatkan waktu nya untuk menengok baby twins.
Siapa juga yang tidak kenal dengan raja bisnis?
Raja perusahaan Indonesia. Seluruh dunia mengakui keuletan Adi Wiratmaja dari muda, bisa mencapai kesuksesan sampai sekarang ini.
🏓🏓🏓🏓🏓
Keesokan paginya Nay sudah bangun terlebih dahulu sebelum baby twins nya terbangun, Nay sudah mengerjakan pekerjaan rumah untuk merapikan barang-barang yang berada di kamarnya.
Setelah semuanya rapi, Nay juga sudah mandi dan memakai pakaian yang berkancing memudahkan dirinya untuk dibuka sewaktu-waktu, maklum kedua jagoannya sangat lahap meminum langsung dari sumbernya.
"Anak-anak nya Bunda udah pintar ya, bangun tidur Aku ndak nangis dong, kecuali Aku haus mau minum dong! Ujar Nay mengecup kening putranya bergantian. Saking gemasnya Nay ingin sekali mengigit pipinya yang seperti bakpao, meskipun umurnya belum ada selapan..
"Sayang, udah jam berapa sekarang?"tanya Tama yang masih saja memejamkan kelopak matanya.
"Jam 06.00 wib, mas mau mandi sekarang?"tanya Nay malah bertanya ulang.
"Boleh kalau tidak sibuk!"
Mereka sangat menikmati air hangat yang sedang mereka main kan, Nay sudah sangat pandai melakukan kegiatan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.
Kedua jagoannya sudah rapi, wangi. Giliran Nay menyiapkan pakaian kerja sang suami, Tama bukan suami yang manja, karena Nay ingin menjadi istri yang berbakti untuk keluarga, suami, dan dua jagoannya.
🏓🏓🏓🏓🏓
Hari bahagia sepasang orang tua baru membuatnya tidak berhenti untuk mengucapkan rasa syukur atas karunia-Nya kepada Allah Swt atas anugerah terindah yang di kirim Nya untuk melengkapi kebahagiaan sebagai orang tua.
Di halaman rumahnya sudah berdiri tenda-tenda yang berjajar rapi, warnanya sungguh menarik untuk siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona.
Kediaman Wiratmaja sangat ramai, saudara jauh sudah datang bergantian.
Satu rumah pun sangat ramai, suara tawa canda menghiasi ruangan yang mereka tempati.
Esok hari adalah acara selapan dua putranya, berbagai persiapan sudah meraka lakukan dengan terkonsep.
__ADS_1
Sengaja mereka berdua menggunakan jasa WO ( Weding Organizer ) , karena kesibukan Nay yang tidak bisa di tinggal kecuali anak-anak nya ada yang menjaganya, dan kesibukan Tama yang tidak bisa di tinggal kan begitu saja.
Setelah semua acara di serahkan pihak WO, Tama dan Nay bisa bernafas lega, dirinya tidak harus turun tangan langsung, karena sudah ada yang menghandle acaranya.
🏓🏓🏓🏓🏓
Semenjak adzan berkumandang di masjid, Nay sudah bangun menyiapkan pakaian untuk dirinya, suaminya, dan anak-anaknya.
Beruntung semalam putranya tidak rewel, sangat anteng untuk diajak kerjasama dalam istirahat malamnya.
Melihat sang isteri sudah bangun, sudah cantik, wangi membuat pusat tubuh bagian bawah langsung On.
Kecantikan sang istri dari luar sudah membuatnya kalang kabut, apalagi yang berada di balik pakaiannya pasti sangat indah.
"Wangi sekali mas suka wangi seperti ini, Bunda?" bisiknya Tama tepat di daun telinga sang isteri, meskipun terkesan pelan tapi Nay paham maksud suaminya.
"Suka yang mana Mas?" tanya Nay yang sengaja ingin menggoda istrinya. Padahal dirinya sudah kalang kabut, seperti sudah berada di ujung puncak.
"Memeluk kamu selalu, itu sudah membuat mas senang, Papa nya dua jagoannya pasti tersenyum, mendapatkan vitamin dari Bunda yang cantik ini!" Tama terus saja memberikan jurus mautnya, jurus yang membuat para kaum hawa klepek-klepek.
Di kamarnya di lantai atas dua sejoli yang sudah mempunyai buntut dua, tengah bermesraan memadu kasih, menyalurkan kerinduan, kreativitas yang mereka berdua ciptakan dengan Apik.
Anak-anak sudah di bawa turun Oma dan Neneknya, sedang Nay dan Tama melanjutkan kreatifitasnya yang tertunda.
Meskipun tidak melakukan pergerakan yang berarti, hanya menggesek-gesekkan saja sudah membuatnya merem melek.
"Si al! kapan hari itu segera berakhir, menunggu 40 hari bagaikan menunggu satu tahun lamanya." gerutu Tama.
"Sabar, akan ada Waktu untuk kita berdua! semua untuk Papa seorang." jawabnya Nay mengecup pipi suaminya.
Tama menikmati pergerakan tangannya yang naik turun, sadar istrinya belum suci bila di masuki benda keramat yang ada pada ., Akhirnya Tama hanya pasrah menikmatinya dari luar, tetapi rasa enaknya susah untuk di ungkapkan dengan kata-kata cinta.
Keduanya nampak ngos-ngosan mengatur nafasnya, olahraga barusan memakan banyak waktu, tapi rasanya tidak ada duanya, sama-sama enak bikin terbang melayang.
Pakaian keduanya belum terlepas sempurna, keringat sudah bercucuran membasahi pipinya, pipi Nay merah merona membayangkan kegiatan barusan yang menguras tenaga, jiwa, dan pikirannya.
Next part acaear aqiqah baby twins online, mereka ingin mengabadikan momen yang tidak akan terulang kedua kali, atau seumur hidup.
__ADS_1
Ada yang setuju ide auuttor?