
Masih flasblack
Satu bulan sudah Tama di rawat di rumah sakit, selama satu bulan Tama menunjukkan progressnya. Berangsur-angsur Tama mulai mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, sebelum dirinya terbaring di ranjang pasien.
Banyak hari-hari yang dilewati Tama seorang diri, entah dirinya punya keluarga apa tidak? yang jelas dirinya di kamar rumah sakit seorang diri, dan beberapa petugas medis yang mengecek kesehatannya setiap pergantian shift Jaga.
Beberapa hari, bahkan bulan dengan semangat Tama mengikuti serangkaian terapi, dan minum obat secara teratur. Membuahkan hasil yang manis, seperti sekarang ini Tama sudah tidak mengeluh rasa pusing maupun sakit di kepalanya.
Hari demi hari, perkembangan kesehatan Tama semakin membaik. Sedikit demi sedikit, Tama sudah mulai mengingat memori kejadian. Waktu dirinya pergi ke bandara, sekelebat bayangan dirinya sedang mengantar seseorang ke bandara.
"Siapa ya?" Tama mencoba mengingat sosok seorang yang di antarnya sampai bandara, perasaan pernah kenal, tidak asing untuk dirinya." Tanya bertanya dari hatinya.
"Tok! Tok!...." suara pintu kamar rawatnya Tama di ketok-ketok seseorang dari luar. Lamunan-nya langsung buyar seketika, perasaan tidak terkendali karena ada rasa kaget.
"Huffttt!" Tama menarik nafasnya, mulai menenangkan dirinya supaya lebih rileks, meskipun masih ada raut ketegangan tetapi Tama berusaha menyesuaikannya.
"Pak, ini saya perawat yang jaga malam." Tutur seorang perawat, sudah waktunya pergantian shift Jaga.
"Masuk, tidak di kunci." jawabnya Tama dari dalam.
Setelah beberapa perawat sedang melakukan operan jaga, Tama hanya melihatnya sedikit tidak suka karena ketenangannya sedikit terganggu.
Menyebalkan," geruttuannya dalam hati
__ADS_1
*****
Setelah melakukan perawatan kurang lebih dua bulan lamanya, Tama sudah di katakan sembuh bisa berobat jalan, bisa juga untuk pulang ke rumahnya.
Rasa suka citanya kini meredup, barang-barang yang ada dalam dompetnya semuanya hilang mulai dari uang cash, identitas diri, dan macam kartu kredit yang Tama simpan di dalam dompetnya.
Mau pulang pakai apa? sepeserpun uang tak punya, dan tidak tahu mau pulang ke mana dengan kondisinya seperti ini?
Mengingat wajah sang istri yang suka malu-malu, dan pipinya suka bersemu merah membuatnya tidak sabar ingin segera pulang, tujuannya Tama adalah pulang ke Solo yang lebih dekat dengan Surabaya.
Kebetulan perawat yang kerja di sini ada yang berasal dari Solo, Tama berniat ingin minta tolong menumpang pulang ke Solo, syukur-syukur bisa diantar sampai rumah mertuanya.
Tama sudah bertekad bulat, meminta bantuan seseorang yang bekerja di sini.
Dengan menyunggingkan senyumnya, Tama sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang istri. Perjalanan kali ini terasa ringan, dan membuncah bahagia.
Mobil sudah keluar dari tol Surabaya, mobil pun berjalan sedikit cepat, berhubungan jalanan siang hari sangat lengang.
Setelah Tama menunjukkan jalan rumah mertuanya, mobil sudah berbelok ke arah perumahan yang tidak terlalu jauh dari jalan raya.
Perasaan Tama semakin berdebar tak menentu, jantungnya berdetak sangat cepat. Lamunan Tama langsung buyar, ada seseorang menepuk pundaknya.
"Apa benar ini rumahnya, Pak?" tanya sang perawat yang berada di sebelahnya.
__ADS_1
"Tama belum menjawab apa-apa, Tama lebih memilih menelisik bangunan rumah yang tidak ada perubahan."
"Senyum terbit dari bibirnya, rasa bahagia menyeruak begitu saja, benar-benar ini hari yang di tunggu dirinya, hari di mana bisa pulang, bisa melihat istrinya kembali."
"Betul mas ini rumah mertua ku." jawabnya Tama sadar dari lamunan nya.
Setelah turun dari mobil, Tama melangkahkan kakinya sangat cepat, sang perawat yang berada di belakangnya tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, ternyata rumahnya bertetangga dengan dirinya.
"Apakah ini suaminya Kanaya?" tanyanya sang perawat dalam hatinya.
Setelah sampai di depan pintu, Tama mulai mengetuk-ngetuk pintu begitu semangat, seperti tidak ada hari esok.
"Cekkklllekkk....," anggap saja itu suara pintu yang sedang dibuka ya😀
"Mas Tam....," tiba-tiba Kanaya jatuh pingsan, dengan sigapnya Tama langsung membopong tubuh sang istri.
"Nay, bangun...!" Tama berusaha mengguncang bahu sang istri. Tetapi nihil, Nay memilih memejamkan kedua matanya, dan mulai tertidur pulas.
Tama celingak-celinguk mencari kedua mertuanya, tetapi seperti tidak ada orang. Setelah meletakkan sang istri di kamarnya, Tama keluar kamar, dan menemui seorang yang membantunya sampai pulang ke sini kembali.
"Mas terimakasih sudah mengantarkan saya sampai sini, maaf saya tidak bisa membayar dengan apa-apa karena semua barang-barang saya hilang pas tragedi di jalan raya." Tutur Tama panjang lebar.
"Saya tidak meminta bayaran, melihat bapak sudah sehat, bisa membantu orang lain membuat diri pribadi saya sudah sangat senang." sahutnya sang perawat.
__ADS_1
Mereka berdua berbincang panjang lebar, akhirnya sang perawat undur diri untuk pulang kerumahnya, yang tidak terlalu jauh dengan rumah mertua yang di tolongnya.