
Tidak henti-hentinya Tama selalu menebarkan senyum terpatri indah di sudut bibirnya, masih tidak percaya bahwa dirinya baru saja mendapatkan gelar baru, julukan Papa Muda dari kedua jagoannya.
Setelah di bersihkan oleh perawat dan bidan yang berada di ruang persalinan, keduanya sudah di letakkan ke dalam box bayi, Tama terus saja memandangi wajah mungil jagoannya yang nampak tertidur nyenyak, dan sepertinya sedang mencari-cari sumbernya.
Setelah Kanaya sudah melahirkan, di bersihkan dan dua jagoannya masih berada di ruang persalinan. Nay sudah di pindahkan ke kamar rawat, sedangkan si kecil masih di ruang persalinan sebentar lagi akan di antar sama petugas ke kamarnya.
Dua jagoannya masih nyaman dalam box, suara adzan berkumandang sangat merdu dengan sangat fasih Tama melantunkan suara adzan untuk kedua jagoannya.
Nampak sekali sikecil mengerti bahwa itu suara papanya, seperti nyanyian merdu membuat keduanya merem melek menikmati suara indah Papa nya.
Adzan baru saja di lantunkan, dua jagoannya sudah tertidur pulas. Tama langsung menghampiri sang istri yang sudah memejamkan kedua kelopak matanya, rasa capek, ngantuk menjadi satu.
Selesai mengadzani dua jagoannya, Tama meninggalkan putranya kepada petugas untuk menghampiri kamar sang istri yang tidak terlalu jauh dari kamar Bundanya.
Cekkklllekkk...
Dengan gerakan pelan pintu ruang rawat Tama di buka pelan-pelan, tidak ingin mengganggu tidur istrinya, Tama memilih menduduki kursi kosong di samping tempat tidurnya.
Ada guratan kelelahan bercampur rasa bahagia, bahagia karena sudah menjadi orang tua, Papa bagi kedua jagoannya.
Rasanya masih seperti mimpi, tapi ini kenyataan bahwa akan ada tangis, dan celotehan manjanya.
Bahagia tak terkira yang Tama rasakan melebihi memenangkan saham, tak jemu-jemu memandangi wajah pulas sang istri meskipun tanpa makeup, tetap saja masih cantik di matanya.
"Terimakasih sayang, sudah mau berjuang melahirkan jagoannya kita, mereka sangat sehat dan tampan seperti Papa nya." Tutur Tama mengecup kening sang istri lama, berkali-kali juga mengecup punggung tangan sang istri.
"Dengan hadirnya anggota baru dirumah tangga kita, semoga bisa menjadi kunci kebahagiaan rumah tangga kita, penyempurna dari agama kita bisa menjadi orang tua yang baik dan bertanggung jawab"
Skip....
Kreeiiit..., pintu ruangan rawat inap di buka Mama dan ibu mertuanya datang ke kamar sang istri, mereka berdua baru saja dari kantin rumah sakit, ada kelegaan, raut bahagia menyambut kedua cucunya yang sudah lahir dengan sehat, dan selamat.
"Tam, istirahat lah biar Mama dan ibu yang menjaga Kanaya." Sang Mama menasehati putranya yang masih kekeuh pada duduknya, padahal ibu mertuanya siap membantu jagain Kanaya.
"Baiklah Mah!" Akhirnya Tama hanya bisa pasrah dengan bujukan kedua perempuan yang dicintainya, Tama tidak bisa membantah titah mereka. Padahal dirinya masih ingin menunggui sang istri bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Tama sudah merebahkan tubuhnya diatas sofa, Kedua matanya enggan sekali terpejam meskipun ada rasa kantuk menderanya.
Memandangi langit kamar rumah sakit mungkin lebih baik, daripada memikirkan yang tidak-tidak.
Lima menit Tama sudah bisa memejamkan kedua matanya, meskipun enggan Tama lakukan untuk bergantian berjaga untuk sang istri, dan dua putranya.
♥♥♥♥♥♥♥
Tidur dua jam sudah cukup baginya, Kanaya sudah siap untuk memberikan ASI eksklusif untuk dia putranya yang masih terlelap di alam mimpi.
Tidak berselang lama sang Bunda bangun, dua perawat dan bidan mengantarkan jagoannya ke dalam kamar Bundanya.
Kanaya di ajari cara menyusui yang benar, ada cara khusus supaya sang anak merasa aman dalam dekapan hangat sang Bunda.
Tama hanya memperhatikan putranya yang sedang menghisap sumbernya seperti tidak sabaran, sang rakus membuat Kanaya meringis.
"Sakit Bun?" tanya Tama yang tiba-tiba mengkhawatirkan sang istri, dari tadi memperhatikan gerakan Kanaya yang tidak nyaman pada Aerola yang tiba-tiba di cecapnya sangat keras.
"Sedikit Pa! tapi ini sangat membahagiakan!" jawabnya Kanaya untuk menghalau rasa nyeri yang hilang dan pergi, ada air mata kebahagiaan karena tidak percaya bahwa dirinya sudah menjadi orang tua baru, Bunda bagi dua jagoannya.
Dengan cekatan, putra keduanya sudah berada di pangkuan Kanaya, putranya masih saja mencari-cari sumbernya, setelah di temukan ada kelegaan dari Bundanya.
Putra keduanya juga sangat rakus, seperti seseorang yang sudah lama tidak menemukan benda kesukaannya.
Sedang Tama memandangi nya penuh dengan minat, biasanya dirinya yang akan selalu menikmati candunya, tapi sekarang harus bisa berbagi dengan sang putra.
"Pelan-pelan sayang, Papa tidak minta kog, ini buat kakak dan adik biar cepat sehat, bisa temani Bunda di rumah." Kanaya berucap melirik sang suami, sengaja Kanaya ingin menggodanya berharap suaminya tidak keberatan.
"Ndak boleh ini hanya untuk Papa!" Tiba-tiba Tama menyahuti dengan ucapan kesal, miliknya harus berbagi.
Mendengar suara Papa nya seperti orang yang sedang memarahinya, seperti sedang di usik rasa nyaman nya membuat putranya sudah mencebik kan bibirnya.
"Oekkkkkk...." Suara tangis langsung saja mengisi ruangan yang tadinya sepi, kini sangat berisik dengan suara tangis putranya yang memenuhi seisi ruangan.
Mendengar suara seperti sedang ribut-ribut, sang kakak yang berada dalam box ikut menangis.
__ADS_1
Suara tangisnya tidak kalah kencangnya dengan suara sang adik, kedua orang tua baru nampak kelimpungan menghadapi dua putranya yang nangis berbarengan.
"Mas gimana ini?" tanya Kanaya yang sudah menimang-nimangnya, tetap saja tangisnya belum mau berhenti.
"Mas juga nggak tahu, Bun!" jawabnya Tama berusaha mengajaknya berjalan, tetap saja masih menangis.
Kanaya dan Tama sampai bingung membuat kedua putranya terdiam, meskipun sudah di kasih sumbernya masih saja menangis, belum mau diam.
Kreeiiit, pintu kamar di buka mamanya yang baru saja pulang bentar untuk mengambil keperluan cucunya. Tiba-tiba di sungguhi pemandangan yang menyayat hati, dua cucunya menangis dengan kencang.
"Cup Cup....ini dengan Oma sayang, kenapa nangis hmm?" tanya Oma nya berusaha menimang-nimang cucunya, sengaja sang Mama mengambil dari gendongan putranya.
"Kamu apaiin? baru juga jadi Papa sudah membuat cucu kesayangan ku menangis.." Tatapan sang Mama seperti mengintimidasi Tama, seolah-olah Tama yang menjadi tersangka dari kedua putranya yang menangis...
"Nggak Tama apa-apain kog, cuma nangis langsung Tama gendong kog mah!" Ucap Tama merasa tidak bersalah, padahal sumber menangis putranya ada pada dirinya.
"Cup cup sayang, cucu Oma yang pintar, tampan nanti biar Oma jewer Papa nya, udah nakal sama cucu Oma."
Ajaibnya kedua nya langsung terdiam mendengar suara Oma nya, sedang memarahi Papa nya.
Kanaya bisa tersenyum tipis, berkat mertuanya kedua putranya sudah diam. Mereka sudah di tidur kan dalam box, dengan berbagai mainan yang di bawa nya dari rumah.
Padahal dua cucunya belum tahu itu mainan apa? dengan kekeuh nya sang Oma dengan bahagianya menemani cucunya bermain.
#Terimakasih atas antusias readers semua yang sudah menyumbangkan nama untuk baby twins Kanaya dan Tama.
#Tiba-tiba auuttor menemukan nama dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti yang cukup buat auuttor suka, seandainya baby twins auuttor kasih nama
ABISATYA-ABIWARA.
ABISATYA MEMILIKI ARTI SELALU BERBICARA JUJUR
ABIWARA MEMILIKI ARTI TERDIDIK DENGAN PANDAI DAN CERMAT.
Di panggil Satya-Wara, gimana Bagus enggak?
__ADS_1