
Waktu sudah mulai petang, keempat orang yang sedang berlibur ke kebun binatang beranjak dari tempatnya. Baby boys twins nampak sekali sudah kelelahan, kedua kelopak matanya sudah mulai terpejam, rasa kantuknya mengelanjut manja seakan-akan ingin segera sampai rumah dan ketemu dengan kasur empuk di kamarnya.
"Nda hayu ulang!" Ucap Dapi yang merengek ke Bundanya, beda halnya dengan Dana dengan tampang sok cool nya, persis seperti Papa nya Tama.
"Iya sayang, bentar nunggu Papa dari kamar mandi, habis itu terus kita pulang, oke sayang!" sahut Kanaya memberikan pengertian untuk sang putra, dan salah satu tangannya mengusap lembut surai rambutnyaa.
"Hiya Nda." jawab Dapi mengusap ujung kelopak matanya yang sudah sangat mengantuk.
Tidak menunggu waktu lama, sang Papa sudah keluar dari kamar mandi. Mereka langsung menuju ke tempat parkir, tempat dimana mobil nya berada.
Di tengah perjalanan ke rumah, Baby boys twins sudah memejamkan kelopak matanya. Mereka sudah tertidur pulas di stoler masing-masing, sedang Kanaya menyenderkan kepalanya di jok mobil sesekali kelopak matanya terpejam, karena rasa capek menghinggapi dirinya.
******************
Keesokan paginya mereka berempat bangun kesiangan, terutama Tama menjadi kalang kabut sendiri karena pagi ini di kantornya akan ada rapat investor dari asing yang ingin bekerja sama dengan perusahaan nya.
"Uhhh nyebelin, pakai bangun kesiangan segala kan jadi ribet begini!" ucap Tama mendumel dengan bibirnya terus komat-kamit seperti orang sedang membaca mantra.
Kanaya yang melihat suaminya menyunggingkan senyumnya, jarang-jarang suaminya bangun kesiangan seperti pagi ini.. Biasanya Tama akan selalu ontime dengan segala pekerjaan di kantornya, sedang Baby boys twins tertawa cekikikan menertawakan Papa nya yang bibirnya terus bergerak.
"Hihihi Papa lutu bang, bibirnya sepelti Ita alau Ita inta es klim ama Nda, tetapi ndak dikasih!" Tutur Dapi yang sudah tertawa lucu, menampilkan deretan giginya yang putih bersih.
__ADS_1
"Husttt iam, anti alau Papa dengel Ita omongin anti Papa malah-malah, ambang atut Papa alah." sahut Dana panjang lebar.
Mendengar perkataan Abang Dana, Dapi menutup mulutnya dengan tangan mungilnya.. Mereka berdua tidak ingin membuat Papa nya semakin marah, dan membuat pekerjaan kantornya jadi berantakan.
********************
Tiba di kantornya, Tama langsung masuk ke ruangan kerja Reksa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tama main nyelonong saja, karena tidak ingin pusing-pusing memikirkan keberadaan sekertaris nya, dan sekaligus menjabat sebagai Kaka iparnya.
"Brakkkkkkk....."
Reksa mendongakkan kepalanya melihat siapa yang sedang membuka pintu ruangan nya tidak sabaran, setelah melihat gerangan siapa yang datang Reksa hanya bisa mengelus dadanya.
"Tidak tahu sopan santun, nyebelin banget punya adik ipar seperti dia!. Reksa terus berbicara dengan seorangrang diri, karena dirinya merasa terganggu dengan pintu yang di bukanya seperti tidak sabaran.
"Untung adik gue cinta mah itu orang." batinnya Reksa terus saja mendumel dengan gerakan bibir yang slowmotion.
"Woiii, kenapa kamu tidak bangunin aku di rumah sih Sa?" tanya Tama dengan memberenggut kesal.
"Ngapain pakai di bangunin, sudah ada adik gue yang selalu bangunin kamu!" jawab Reksa masih fokus dengan berkas diatas meja kerjanya.
Mendengar jawaban dari sekertaris nya, Tama memilih diam saja tidak melanjutkan perdebatan nya.
__ADS_1
Tama sudah anteng duduk di tempat duduk yang sudah di sediakan, Ekor matanya menelisik sudut ruangan yang belum berubah sama sekali.
Ruangan nya masih sama, tidak ada yang berubah kecuali beberapa peletakan barang, atau figura foto yang terpajang rapi di dinding-dinding ruangan sekertaris nya.
***********
Mereka berdua baru saja selesai dengan meeting dadakan, sebelumnya meeting di selenggarakan pukul 10.00 WIB.
Tetapi meeting kali ini harus maju satu jam lebih awal, di karenakan investor asing harus segera mengejar pesawat pulang pukul 10.00 WIB waktu setempat.
"Rasanya seperti nano-nono badanku , Sa! belum sempat duduk eehh sudah harus rapat, rasa ingin pulang aja ke rumah, Sa kangen sama anak-anak." Ujar Tama menyenderkan kepalanya di kursi kebesarannya, memijat-mijat pelipisnya yang terasa pusing akibat meeting dadakan.
"Ya sudah pulang saja, biar kantor Aku yang handel! nanti kalau ada apa-apa dengan kantor, aku akan segera menghubungi mu secepatnya." sahut Reksa dengan tenang.
"Makasih Om Reksa, kamu bisa di handalkan!" Ujar Tama menepuk pundak sang kakak ipar.
"Aku pulang dulu, Sa."
"Titip salam untuk baby boys."
"Oke saya sampaikan, Om Sa!"
__ADS_1